<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Yudhi Herwibowo</title>
	<atom:link href="http://yudhiherwibowo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com</link>
	<description>mencoba terus menulis...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 01:22:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yudhiherwibowo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Yudhi Herwibowo</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yudhiherwibowo.wordpress.com/osd.xml" title="Yudhi Herwibowo" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yudhiherwibowo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bocah Kecil di Antara Pearl &amp; Willow</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2012/01/19/bocah-kecil-di-antara-pearl-willow/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2012/01/19/bocah-kecil-di-antara-pearl-willow/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 06:59:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Anchee Min]]></category>
		<category><![CDATA[Novel favorit]]></category>
		<category><![CDATA[Pearl in China]]></category>
		<category><![CDATA[Pearl S. Buc]]></category>
		<category><![CDATA[Yudhi Herwibowo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2012/01/19/bocah-kecil-di-antara-pearl-willow/</guid>
		<description><![CDATA[dan di antara tumpukan buku-buku,yang jumlahnya ratusan lebih itu aku merasa sangat beruntung, otak ini menggerakkan tanganku memilih buku ini untuk kubaca… Aku bagai ingin menjadi bocah kecil yang bersembunyi di balik rerumputan lebat dan melihat  dua orang perempuan itu, seorang China dan seorang berambut pirang, yang sedang berpandangan dalam suasana hiruk pikuk di dekat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=702&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2012/01/107591873.jpg"><img class="size-full wp-image" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2012/01/107591873.jpg?w=294" alt="Image" /></a></em></p>
<p><em>da</em><em>n di antara tumpukan buku-buku,yang jumlahnya ratusan lebih itu</em></p>
<p><em>aku merasa sangat beruntung, otak ini menggerakkan tanganku memilih buku ini untuk kubaca… </em></p>
<p><em></em>Aku bagai ingin menjadi bocah kecil yang bersembunyi di balik rerumputan lebat dan melihat  dua orang perempuan itu, seorang China dan seorang berambut pirang, yang sedang berpandangan dalam suasana hiruk pikuk di dekat sebuah desa bernama Ciang-kiang.</p>
<p><em>“Aku akan membawakan bunga-bunga segar ke makam Carrie di musim semi.” </em>Suara perempuan China itu, yang kutahu bernama Willow, terdengar.</p>
<p><em>“Aku akan segera kembali,” Pearl, </em>perempuan satunya lagi yang berambut pirang<em>, berjanji.</em></p>
<p>Aku mendengar nada suara keduanya yang sengau. Walau aku tahu, ini adalah kali ke sekian mereka berpisah. Aku selalu yakin mereka selalu akan selalu bertemu lagi. Gambaran persahabatan keduanya entah mengapa terasa sekali begitu erat. Seperti tertemali.<span id="more-702"></span></p>
<p>Tapi dugaan itu ternyata salah. Keduanya pun tak menyangka.</p>
<p><em>Kalau saja aku tahu ini kali terakhir kami bertemu, aku pasti memeluknya lebih lama dan lebih erat. Aku pasti berusaha mengingat bagaimana penampilannya; pakaian yang dia kenakan dan raut di wajahnya. Aku  barangkali bahkan akan berusaha membujuknya, agar tidak pergi.</em></p>
<p>Suasana begitu terburu kala itu. Kapal Amerika, yang akan menyelamatkan warga-warga Amerika di China, hanya punya waktu beberapa saat saja di sana. Maka untuk membawa piano kesayangan peninggalan ibunya, Carrie, Pearl tak bisa. Semua seakan hanya mengucapkan perpisahan yang tak lengkap, untuk pergi secepat mungkin. Walau detik-detik terakhir Absalom, ayah Pearl, seorang misionaris di sana, memutuskan untuk tetap tinggal di China. Ia hanyalah sekedar menegaskan seperti apa takdirnya.</p>
<p>Dan aku masih ingin menjadi bocah kecil yang ada di situ. Bocah kecil yang masih terlalu rentan memahami sebuah perpisahan, bagaimana pun juga, selalu menyisakan ruang kosong di hati. Tapi tentu saja aku yakin bahwa kisah masih panjang. Kisah masih berlanjut. Dan aku berharap kembali menemukan keceriaan mereka seperti dulu, seperti kala mereka menemukan penjual <em>pop corn</em>, atau pun kala belajar bernyanyi bersama, atau hal-hal lainnya.</p>
<p>Aku masih ingat bagaimana dulu keduanya bertemu. Willow, kala itu mencuri dompet Absalom,  dan itu membuat Pearl harus berlari mengejarnya hingga ia berhasil menangkapnya. Walau ia tak menemukan dompet itu, karena Willow telah terlebih dahulu menyembunyikannya, namun itulah awal persahabatan mereka.</p>
<p>Sejak itu Pearl tak pernah lepas mengikuti Willow. Ia adalah gadis kecil dari barat yang sangat ingin menjadi gadis China, dan terus-terus mengeluh bagaimana rambutnya yang pirang menjadi hitam. Sedang Willow adalah perempuan China yang jatuh cinta pada lagu <em>Amazing Grace</em> tanpa ia tahu apa maksudnya. Namun dari perbedaan yang sangat jelas itulah, keduanya menyatu!</p>
<p align="center"> *****</p>
<p>Kadang ada sebuah buku yang saat kita baca, membuat kita terlempar pada kenangan-kenangan jauh sebelumnya. Membaca <em>Pearl of China</em> tulisan Anchee Min membuatku kembali teringat di masa-masa membaca beberapa buku<em> Pearls S. Buck.</em> Dulu, aku membacanya tanpa tahu di posisi mana genre buku itu berada. Aku hanya membacanya di sela-sela membaca Trio Detektif dan Lupus, tanpa sadar itulah salah satu buku pemenang nobel. Seingatku semuanya lancar-lancar saja. Aku hanya mengenang, buku-buku itu memiliki kalimat-kalimat yang sangat  panjang, sehingga membuatku lebih lama dan lebih lelah membacanya.</p>
<p>Dan kini Anchee Min mencoba menuliskan kisah penulis itu. Entahlah, saat pertama kali melihatnya terpajang di toko buku, aku merasa perasaanku begitu berlebihan. Aku merasa seakan-akan Anchee MIn sengaja menulis buku itu khusus untukku. Walau saat itu aku langsung mengirim pesan pada beberapa teman untuk mengabarkan, tapi aku yakin, mereka tak akan segembira aku.</p>
<p>Anchee Min lahir di Sanghai dengan nama Mín Ānqí pada 14 Januari 1957. Ada yang menarik dari kisah hidupnya, terutama hal yang berhubungan dengan Pearls S. Buck.</p>
<p>Saat remaja, Anchee Min adalah salah satu sosok yang diperintah Madame Mao untuk menjelek-jelekkan Pearls S. Buck. Di tahun 1971, selama Revolusi Kebudayaan, Anchee Min yang saat itu berusia 14 tahun, diperintahkan untuk menuduh Pearl S. Buck sebagai imperialis kebudayaan.  Walau sebelumnya, ia belum pernah mendengar tentang pemenang nobel dengan tulisan-tulisannya yang menceritakan kehidupan orang-orang China biasa itu, namun Anchee Min tetap melakukannya.</p>
<p>Tahun berlalu, Anchee Min sempat dikirim ke kamp pekerja pada usia 17 tahun dimana bakatnya ditemukan untuk studio film Madame Mao&#8217;s Shanghai. Ia bekerja sebagai aktris dalam film-film propaganda. Ia pindah ke Amerika tahun 1984 dengan bantuan artis Joan Chen. Dan mulai menulis <em>Red Azalea</em>, yang menceritakan hidupnya selama Revolusi Kebudayaan. Buku itu diterbitkan tahun 1994, dan menjadi buku laris internasional.</p>
<p>Saat<em> </em><em>ditengah promosi buku itu</em><em> </em>seorang pembaca bukunya, menyerahkan sebuah novel Pearls S. Buck di tangannya. Kemudian, saat ia membaca buku itu di atas pesawat, saat itulah ia menangis sejadi-jadinya.</p>
<p>&#8220;Aku menangis karena baru menyadari bagaimana indah Buck menceritakan kisah orang-orang China, dan apa yang ada di sekitarnya, yang bahkan tak terpikirkan oleh orang China sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan aku semakin menangis karena aku baru menyadarinya kemudian. Aku adalah satu generasi yang telah diindoktrin untuk berpikir sangat rendah terhadap Buck.&#8221;</p>
<p>Maka itulah ia menulis <em>Pearl of China. </em><em>Di situ</em><em> </em>Anchee seakan ingin mengungkap kesalahan masa lalunya dengan menceritakan kisah Pearl S. Buck.</p>
<p>&#8220;Aku menulis novel ini untuk menunjukkan dimana sensitivitas Pearl yang besar dan pandangan terhadap masyarakat China dan budaya China berasal,&#8221; ujarnya.</p>
<p align="center"> *****</p>
<p>Dan aku terus berharap dapat tetap menjadi seorang bocah yang dapat menyaksikan pertemuan keduanya. Walau aku bisa mendengar ungkap hati Willow, bahwa perpisahan itu adalah perpisahan terakhirnya, namun terus terang aku tetap berharap ada lagi perjumpaan itu.</p>
<p>Tapi suasana saat itu kemudian menjadi begitu memburuknya. Pertentangan kelompok Nasionalis dan Komunis seakan mengebiri semua manusia China yang ada. Namun aku hanyalah bocah kecil yang tak terlalu paham dengan itu semua. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana kesiah persabatan Pearl dan Willow. Tapi kisah yang awalnya halus dan penuh emosi tentang kedua sahabat ini, seperti kisah saat keduanya berkencan dengan laki-laki, kisah bagaimana Pearl melahirkan anaknya, kisah bagaimana mereka berdiskusi sebagai kolumnis, semua itu seakan lenyap! Tergiring ke kisah politik yang pelik.</p>
<p>Bahkan Mao pun pernah berupaya meminta Dick, suami Willow, untuk merayunya masuk ke dalam komunis, “<em>Pearl Buck tidak bisa dibandingkan dengan Edgar Snow, Pearls S. Buck dibaca di semua negara di atas peta dunia. Buku-bukunya diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa. Jika Edward Snow adalah sebuah tank, Pearls Buck adalah bom nuklir.”</em></p>
<p>Pada upaya terakhir, Willow harus memilih apakah ia mau mengecam Pearl ataukah tidak. Tekanan ini begitu beratnya. Ia tahu, bila ia pada akhirnya mengecam, Pearl akan tetap bisa cukup memahaminya. Namun itu tak pernah dilakukan Willow.</p>
<p>Dan itu yang membuatku luruh. Begitu banyak film-film tentang revolusi China yang membuat orang-orang China menjadi tak bernyali. Begitu banyak buku-buku yang melukiskan permakluman ketakutan-ketakutan itu. Namun Willow, seperti membalikkan pandanganku terhadap itu semua. Ia memilih menolak mengecam Pearls, walau bui jalan untuknya selanjutnya.</p>
<p>Bahkan suaminya pun, sosok yang diam-diam mengagumi Pearl, tak berani pernah berani mengucapkan itu, dan ia memilih membiarkan istrinya dijemput paksa oleh tentara-tentara merah.</p>
<p><em>Di balik mata teguh tetapi tenang seorang perempuan China, aku merasakan kehangatan yang yang membara. Kami mungkin berteman, dia dan aku, kecuali dia memutuskan terlebih dulu bahwa aku adalah musuhnya. Dia yang harus memutuskan bukan aku.</em></p>
<p>Sungguh, rasanya tak pernah ingin menuntaskan buku ini. Berharap terus menjadi bocah kecil yang ingin diceritakan kisah yang sama dengan akhir yang berbeda-beda.</p>
<p align="center"> *****</p>
<p>Ada satu hal yang membuat aku begitu menyukai buku ini.</p>
<p>Bagaimana Anchee Min mengajarkanku keberanian menulis buku sejarah. Dulu aku menulis beberapa cerpen sejarah, dan betapa angkuhnya aku membuat catatan kaki yang begitu banyak. Ada rasa bangga. Rasanya puas mendapat data yang tidak pernah didapat orang lain! Seorang kenalan penulis novel sejarah bahkan sampai mencantumkan halaman sumber buku-bukunya!</p>
<p>Tapi membaca Anchee Min saya seperti disadarkan oleh caranya menulis. Sampai hampir separuh aku baca bukunya, aku tak menemukan detil sejarah di buku itu. Ia bahkan dengan berani merubah waktu sejarah untuk sekedar mendapatkan plot yang sesuai. Tapi kisah bagaimana suasana politik saat itu, begitu membekas di hati!</p>
<p>Jadi membaca buku ini aku seperti tersadarkan atas keangkuhan saat menulis. Data memang penting, namun bukan berarti harus diumbar sedemikian rupa!</p>
<p align="center"> *****</p>
<p>Walau tak pernah ingin selesai, tapi sebuah buku tetaplah harus tuntas dibaca. aku harus merasa ‘senang’ Anchee Min menyelesaikannya dengan sebuah kematian. Jadi aku tak perlu lagi berharap-harap ada kelanjutan setelah ini.</p>
<p>Sekedar sajak <em>Sungai Yangtze</em> yang ingin kembali kuulang…<em></em></p>
<p><em>Aku tinggal di tepi Sungai Yangtze, di dekat sumbernya,</em></p>
<p><em>Sementara kau tinggal lebih jauh di tepiannya juga</em></p>
<p><em>Kau dan aku minum air dari aliran  yang sama</em></p>
<p><em>Aku belum melihatmu meski setiap hari aku memimpikanmu</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Bilakah air sungai ini berhenti mengalir?</em></p>
<p><em>Bilakah aku tak mencintaimu sebagaimana sekarang?</em></p>
<p><em>Aku hanya berharap dua hati kita berdenyut menjadi satu </em></p>
<p><em>Dan kau tak akan kecewa terhadap cintaku padamu</em></p>
<p>Ah, rasanya ingin terus menjadi bocah kecil di sana. Bocah kecil  yang tak perlu merasa malu saat harus menangis di setiap penggalan-penggalan kisah-kisah ini.</p>
<p align="center"> *****</p>
<p align="right"> Yudhi Herwibowo, penulis sebuah sms pagi ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/702/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=702&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2012/01/19/bocah-kecil-di-antara-pearl-willow/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2012/01/107591873.jpg?w=294" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>2011 in review</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2012/01/02/2011-in-review/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2012/01/02/2011-in-review/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 01:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/?p=648</guid>
		<description><![CDATA[The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog. Here&#8217;s an excerpt: A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 5.700 times in 2011. If it were a NYC subway train, it would take about 5 trips to carry that many people. Click here to [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=648&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.</p>
<p><a href="/2011/annual-report/"><img src="http://www.wordpress.com/wp-content/mu-plugins/annual-reports/img/emailteaser.jpg" alt="" width="100%" /></a></p>
<p>Here&#8217;s an excerpt:</p>
<blockquote><p>A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about <strong>5.700</strong> times in 2011. If it were a NYC subway train, it would take about 5 trips to carry that many people.</p></blockquote>
<p><a href="/2011/annual-report/">Click here to see the complete report.</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/648/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=648&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2012/01/02/2011-in-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.wordpress.com/wp-content/mu-plugins/annual-reports/img/emailteaser.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>tentang laika</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/11/19/tentang-laika/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/11/19/tentang-laika/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2011 07:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/11/19/tentang-laika/</guid>
		<description><![CDATA[sebenarnya sejak beberapa bulan lalu saya lihat buku ini ada dalam rak obralan. entah di gramedia atau di togamas. beberapa kali pula saya memegangnya dan berniat membeli. namun selalu saya saya batalkan, karena merasa sedikit tak tertarik dengan ilustrasi di dalamnya. namun baru 2 hari lalu saya membeli buku itu hanya dengan 10rb saja. sepertinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=645&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/11/laika.jpg"><img class="size-full wp-image" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/11/laika.jpg?w=410" alt="Image" /></a></p>
<p>sebenarnya sejak beberapa bulan lalu saya lihat buku ini ada dalam rak obralan. entah di gramedia atau di togamas. beberapa kali pula saya memegangnya dan berniat membeli. namun selalu saya saya batalkan, karena merasa sedikit tak tertarik dengan ilustrasi di dalamnya. namun baru 2 hari lalu saya membeli buku itu hanya dengan 10rb saja. sepertinya ini cukup bisa melengkapi novel2 grafis yang memang saya kumpulkan.</p>
<p>dan tak butuh waktu lama menyelesaikan novel grafis besutan nick abadzis ini. gambarnya mungkin terasa biasa, atau bahkan bisa dikatakan di bawah standar. apalagi bila dibandingkan dengan jodorowsky &amp; bess yang membuat the white lama. namun dari segi cerita laika terasa sangat emosional.<span id="more-645"></span></p>
<p>buku ini merupakan kisah tentang laika, seekor anjing kecil dengan buntut melingkar yang semula bernama kudryavka. ia merupakan anjing yang terbuang namun pada akhirnya menjadi sosok bernyawa pertama yang mengorbit di angkasa bersama sputnik II di tahun 1957.</p>
<p>sejak dulu saya sudah membaca kisah tentang peluncuran sputnik, pesawat luar angkasa pertama dari rusia. saya juga tahu bahwa ada awak di pesawat itu yang merupakan sosok anjing. tapi tulisan2 yang saya baca itu, entah itu reportase atau pun artikel, sama sekali tak membekas.berbeda sekali saat membaca laika.</p>
<p>tentu detail kisah ini begitu luar biasa. abadzis seperti yang tertulis di bagian penutup, benar-benar melakukan penelitian hingga mendatangi beberapa orang2 rusia yang terlibat pada kejadian itu. ia pun dengan mahir, bisa menggambarkan suasana tempat penelitian sputnik, yang selama ini di rahasikan oleh rusia.</p>
<p>namun entah mengapa saya lebih menyukai sisi drama buku ini. bagaimana yelena alexanderovna dubrovsy dan oleg georgivitch gezenko kala mengurus anjing2 untuk awak ujicoba pesawat-pesawat luar angkasa itu. mereka berdualah yang memelihara anjing-anjing itu dan menemani di setiap ujicoba.</p>
<p>dulu saat pertama kali yelena menerima pekerjaan itu, oleg sudah mengingatkan berkali2 bila jangan terlalu menyayangi anjing2 itu. dan yelena mengiyakan dengan yakin. di sini karakter orang-orang sosialis atau komunis yang berwatak keras, dan begitu mengabdi pada negara, begitu jelas terlihat. namun seiring dengan hubungan bersama anjing2 itu, ternyata mereka tetaplah seperti manusia biasa yang kadang terlihat sangat lemah.</p>
<p>terlebih saat proyek ambisius peluncuran sputnik II dijalankan, untuk menunjukkan pada dunia, terutama amerika. mereka kemudian memilih laika sebagai awak ujicoba tersebut. walau yelena dan oleg menerima dan melakukan semua tugas2 itu, tapi di sudut yang lain mereka mengeluh, bahkan&#8230; menangis.</p>
<p> laika adalah anjing yang sangat istimewa. ia setia dan jarang menggonggong. walau pada akhirnya diberinama laika, yang artinya gonggongan, sebenarnya ia anjing yang penurut. ia tak mengalami pusing dengan ujicoba pesawat dengan kecepatan maksimum, ia juga dapat memakan jeli pengganti makanan di luar angkasa, dan ia tak merasa canggung memakai pakaian luar angkasa untuk anjing. jadi tak heran bila semua orang yang terlibat bersama laika, kemudian jatuh cinta padanya.</p>
<p> namun bagian paling emosional kisah ini adalah saat yelena menamani laika untuk terakhir kali. ia masih mengkhayalkan bicara tanpa henti dengan laika, di saat-saat malam menunggu peluncuran itu. namun pada akhirnya ia berguman sambil memandang area tempat rahasia penelitian itu, &#8216;tempat ini adalah monumen atas ambisi2 manusia&#8217;. kita dapat merasakan sekali ambisi manusia menaklukan dunia dan luar angkasa memang harus ditebus oleh sosok bernyawa lainnya!</p>
<p> sosok yelena dan oleg kemudian memilih mundur dari pekerjaan ini (walau kepala mereka memilih memindahkan mereka di bagian lain) oleg bahkan di tahun 1998, saat komunis tak lagi sekuat dulu, sempat memberi kecaman terhadap pemerintah; &#8216; bekerja bersama binatang2 merupakan sumber penderitaan bagi kami semua. kami pertaruhkan mereka seperti bayi2 yang tidak bisa bicara. dengan berlalunya waktu, semakin besar penyesalanku. tidak banyak yang kita pelajari dari misi itu untuk bisa membenarkan kematian anjing tersebut.&#8217;</p>
<p>sputnik II memang benar2 diluncurkan dengan laika sebagai awaknya. ini merupakan penerbangan perpisahan, karena pesawat tidak dirancang untuk kembali lagi ke bumi. di akhir komik grafis ini tergambar beberapa kotak ilustrasi berupa roket yang melayang dan serpihan-serpihan yang entah apa. lalu halaman ditutup dengan sebuah kotak besar yang hanya berwarna hitam, tanpa apapun.</p>
<p> itu merupakan kotak bagi saya terdiam, dan menangis untuk laika&#8230;</p>
<p><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/11/laika-2.jpg"><img class="size-full wp-image" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/11/laika-2.jpg?w=630" alt="Image" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=645&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/11/19/tentang-laika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/11/laika.jpg?w=410" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/11/laika-2.jpg?w=630" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Enigma, tentang Kisah  Cinta dan Sesuatu yang Tak Terjelaskan</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/09/21/enigma-tentang-kisah-cinta-dan-sesuatu-yang-tak-terjelaskan/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/09/21/enigma-tentang-kisah-cinta-dan-sesuatu-yang-tak-terjelaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Sep 2011 02:37:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/?p=623</guid>
		<description><![CDATA[Purna sudah Enigma, tentang Kisah Cinta dan Sesuatu yang Tak Terjelaskan! Entahlah, sepertinya tak sering saya menulis dengan energi yang penuh. Seingat saya dari 28 buku yang sudah saya tulis hanya ada 2 buku yang saya tulis dengan perasaan seperti itu, Begitu meluap-luap, dan selalu menatanya dalam keadaan diam sekali pun. Buku itu Samurai Cahaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=623&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/09/bokeh-photography-0027.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-624" title="bokeh-photography-0027" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/09/bokeh-photography-0027.jpg?w=150&#038;h=130" alt="" width="150" height="130" /></a>Purna sudah <em><strong>Enigma, tentang Kisah Cinta dan Sesuatu yang Tak Terjelaskan</strong></em>!</p>
<p>Entahlah, sepertinya tak sering saya menulis dengan energi yang penuh. Seingat saya dari 28 buku yang sudah saya tulis hanya ada 2 buku yang saya tulis dengan perasaan seperti itu, Begitu meluap-luap, dan selalu menatanya dalam keadaan diam sekali pun. Buku itu <em><strong>Samurai Cahaya</strong></em> dan <em><strong>Pandaya Sriwijaya</strong></em>.</p>
<p>Dan saya bersyukur energi seperti itu kembali hadir di novel saya Enigma. Sepertinya tak lebih dari 2 bulan saya menggarapnya! Sebenarnya ini naskah lama saya.<span id="more-623"></span></p>
<p>Embrionya sudah saya pikirkan sejak 3 tahun lalu. Awalnya ingin saya jadikan kisah yang cukup rumit. Ada 3 kejadian yang saya angkat: Pembunuhan Udin, Kasus penistaan agama oleh Lia Aminudin, Terpisahnya Timor Timur dan gempa Yogyakarta. Setelah mendekam terlewati dengan ide-ide lain, saya kembali tergugah membuatnya. Kali ini saya ingin menjadikannya sebuah kisah cinta. Kasus-kasus besar itu hanya sekedar menjadi latar. Tentang Timor-timur saya hilangkan.</p>
<p>Maka hadirlah kisah Enigma ini dengan tambahan embel-embel; Tentang Kisah Cinta dan Sesuatu yang Tak Terjelaskan.</p>
<p>Ini kisah tentang kisah 5 anak manusia, dimana 1 di antaranya sanggup melihat masa depan yang lainnya.</p>
<p><strong>Chang</strong>, seorang keturunan yang kehilangan kepercayaan terhadap agama dan ras. Ia bermaksud menyepi dari dunia, namun tak cukup kuat untuk mengekang pertemuannya dengan Hasha, sahabatnya.</p>
<p><strong>Hasha</strong>, seorang penulis yang lebih banyak diam, yang lebih menyukai bicara pada lilin-lilin dalam temaram. Ia akan menikah dengan seorang teman lamanya, Kurani. Tokoh ini diam-diam memiliki masa kelam saat menjadi wartawan di sebuah koran di Yogyakarta. Masa kelam yang ingin dikuburnya.</p>
<p><strong>Isara</strong>, perempuan yang memilih berpisah dari suaminya, Patta, karena menyadari tak bisa mencintai selama ini. Hidupnya dipenuhi bayangan-bayangan yang selalu muncul di angannya. Membuat ketakutan selalu muncul pada dirinya.</p>
<p><strong>Patta</strong>, seorang ambisius yang hanya mencintai satu perempuan sepanjang hidupnya. Ia memiliki 1 sahabat perempuan bernama Sanda, yang memiliki nasib tak jauh berbeda seperti dirinya. Merahasiakan satu sisi hidupnya yang terburuk.</p>
<p><strong>Goza</strong>, seorang perayu perempuan yang memiliki seribu nama. Orang yang mau melakukan apa pun demi uang. Nalurinya adalah bercinta dan membunuh!</p>
<p>Dan lirik-lirik lagu Enigma kemudian saja jadikan latar di novel ini.</p>
<p>Sengaja saya melabeli dengan kata-kata kisah cinta, Karena beberapa kali saya menerima email yang bertanya kapan saya menulis cerita cinta? Sebenarnya tanpa disadari saya selalu menulis cerita cinta dalam buku-buku saya. Dalam <em>Pandaya Sriwijaya</em> saya menulis kisah Marga Sekta yang mencintai Agiriya begitu dalam, juga dalam<em> Samurai Cahaya, Seven Samurai, Futatsu no Nagareboshi, Untung Surapati</em>, juga di buku-buku lainnya. Karena saya termasuk orang yang percaya pada Stepanie Meyer yang bilang; <em>a best part of a whole story is a love story</em> (kalo gak salah gitu). Maka itu saya selalu menulis tentang cinta, tentu dalam format yang tak hanya sekedar kisah cinta saja!</p>
<p>Yang terakhir, di buku ini saya juga meminjam sebuah puisi yang dulu pernah saya buat untuk seseorang. Karena dulu, buku ini memang ingin saya tulis untuknya… <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/623/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=623&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/09/21/enigma-tentang-kisah-cinta-dan-sesuatu-yang-tak-terjelaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/09/bokeh-photography-0027.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">bokeh-photography-0027</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review Untung Surapati, oleh Review Buku</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-review-buku/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-review-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 05:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[Sumbangsih Yudhi Herwibowo bagi kesusastraan Indonesia perlu kita apresiasi. Dia mengubah teks sejarah yang jarang bisa dinikmati khalayak umum, menjadi sebuah novel yang menarik. Dan yang sudah saya baca, diantara novel sejarahnya yang lain, adalah Untung Surapati ini. Untung Surapati adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang saya ragu kalau siswa – siwa kita tahu tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=617&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/areview1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-619" title="areview" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/areview1.jpg?w=113&#038;h=150" alt="" width="113" height="150" /></a>Sumbangsih Yudhi Herwibowo bagi kesusastraan Indonesia perlu kita apresiasi. Dia mengubah teks sejarah yang jarang bisa dinikmati khalayak umum, menjadi sebuah novel yang menarik. Dan yang sudah saya baca, diantara novel sejarahnya yang lain, adalah Untung Surapati ini.<br />
Untung Surapati adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang saya ragu kalau siswa – siwa kita tahu tentang dia. Saat saya kecil dulu, kisah Untung Surapati dan Kapten Tack dibuat umbul (kertas kecil – kecil bergambar yang dimainkan dengan cara melemparkannya ke udara). Jadi, meskipun hanya sedikit, kita mengenal Untung Surapati ini. Namun, sekarang siapa yang mau memainkan umbul?<br />
Saya tidak tahu apakah Untung Surapati tercantum dalam buku teks IPS saat ini. Akan tetapi, meskipun tercantum, buku teks tetaplah buku teks – sangat sedikit menarik perhatian kita. Oleh karena itu, jerih payah Yudhi Herwibowo dalam meramu teks sejarah menjadi sebuah novel sejarah yang istimewa ini sangat perlu kita hargai.</p>
<p><span id="more-617"></span><br />
Untung Surapati, awalnya adalah seorang budak dari Mijnheer Moor. Badannya yang kecil dan kurus membuat teman – teman budak yang lain memanggilnya dengan sebutan “kurus”. Dan ia, sampai beberapa saat, memang dipanggil dengan sebutan itu. Namun, Mijnheer Moor merasa selalu mendapatkan keuntungan setelah si Kurus ikut dengannya. Karena itulah Moor mengubah nama Kurus itu menjadi Untung. Sejak itulah nama Untung melekat pada dirinya.<br />
Karena kesetiaannya kepada keluarga Moor, Untung mendapatkan perlakuan istimewa. Saban hari Untung bermain dengan anak Mijnheer Moor yang bernama Suzanne. Dan selama ia masih bermain dengan Suzanne, ia dibebaskan dari tugas – tugas yang lain. Suzanne senang sekali dengan kupu – kupu sehingga ia selalu mengajak Untung untuk menangkapnya. Tidak ada yang menduga bahwa kebiasaan Suzanne dan Untung saat masih kanak – kanak ini akan tetap mewarnai sejarah kehidupan Untung Surapati hingga ia menjadi dewasa.<br />
Dalam sebuah kesempatan, Untung melihat sesosok manusia yang berlari di atas air. Ia menjadi begitu kagum dengan orang ini. Karena kekaguman yang luar biasa itulah ia berani mencegat orang yang bisa berlari di atas air ini di ujung sungai. Orang sakti ini adalah Ki Tembang Jara Driya. Orang yang berambut putih meskipun masih muda ini kemudian menjadi guru bela diri Untung Surapati. Ki Tembang pulalah yang pertama kali mengenalkan Untung dengan kondisi bangsanya yang sedemikian sengsara.<br />
Menurut saya, Suzanne dan Ki Tembang adalah dua orang yang membuat Untung menjadi pejuang bagi bangsanya. Jika tidak ada Suzanne, mustahil Untung melakukan pemberontakan. Dan jika tidak ada Ki Tembang, Untung tidak akan mampu melakukan perlawanan. Keadaan semacam ini bukanlah keadaan biasa yang bisa terjadi pada setiap orang. Oleh karena itu, kesimpulan saya, Untung sedari awal memang telah dipersiapkan (baca: ditakdirkan) untuk menjadi seorang pahlawan. Karena dua orang ini, Untung menjadi orang yang terkenal. Bagi pribumi ia pahlawan dan bagi VOC, ia adalah duri dalam daging yang seharusnya segera dibinasakan.<br />
Novel Untung Surapati ini ditulis dengan gaya tutur yang mengalir lancar. Membaca novel ini, bagi saya layaknya menonton wayang wong – akhir cerita sudah sedemikian terang benderang. Namun, penulis mampu membangkitkan keingintahuan pembaca sedari awal. Pada bagian prolog, penulis menuturkan cerita penangkapan Untung Surapati. Awalnya Untung telah diumumkan mati dan dikubur di dua tempat yang berbeda. Namun terdengar desas – desus bahwa Untung sebenarnya masih hidup. Karena itu kompeni mengutus Majoor Goovert Knole untuk membasmi pemberontak dan pengikutnya ini. Dalam peperangan kecil, akhirnya Knole berhasil mengalahkan pasukan Untung. Setelah kekalahan itulah Knole berusaha memastikan bahwa Untung telah tewas dengan membuka tandu yang diyakini dipakai untuk mengangkut Untung. Yudhi menuliskannya dengan bahasa yang membangkitkan minat ingin tahu:<br />
Tangannya kemudian segera menyibak kain yang menutup tandu itu. Dan, detik itu juga, ia terbelalak!<br />
Sayangnya, di beberapa bagian terdapat hal yang menurut saya menjadi kekurangan dari novel ini:<br />
Pertama, penulis terlalu berpanjang lebar dengan fakta – fakta sejarah. Di awal – awal buku ini penulis bahkan menuliskan kalimat berikut: VOC merupakan singkatan dari&#8230;&#8230;&#8230;. Menurut saya, apalagi ditulis di awal novel, fakta – fakta seperti ini kembali menurunkan minat pembaca untuk membaca lebih lanjut setelah tersulut minatnya dengan membaca prolog.<br />
Kedua, ketimbang menjlentrehkan fakta sejarah dengan panjang lebar, menurut saya akan lebih baik bagi penulis untuk mengeksplorasi kondisi batin tokoh – tokohnya. Bagaimana perasaan Suzanne ketika Untung melarikan diri, bagaimana saat – saat terakhir Suzanne menemui ajal, dan bagaimana kesedihan Untung saat mendengar berita kematian kekasihnya saya rasa kurang dikembangkan.<br />
Ketiga, ketidak konsistenan penulis dalam menggunakan istilah “Kakak” dan “Kakang”. Kedua kata ini bermakna sama. Namun mengapa Untung memanggil Pande dengan sebutan “kakak”, Suzanne juga memanggil Untung dengan sebutan “Kakak”, sedangkan Raden Ayu Goesik memanggil Untung dengan sebutan “Kakang”?<br />
Itu kelemahan novel ini menurut saya. Akan tetapi, kelemahan ini tidak perlu mengurangi niat kita untuk mengapresiasi jerih payah Yudhi Herwibowo dalam mengangkat kisah sejarah, yang bisa jadi tidak diminati banyak orang, menjadi sebuah cerita yang apik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://hurufbuku.blogspot.com/2011/08/untung-surapati.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/617/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=617&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-review-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/areview1.jpg?w=113" medium="image">
			<media:title type="html">areview</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Video Untung Surapati kedua</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/video-untung-surapati-kedua/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/video-untung-surapati-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 05:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=615&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/video-untung-surapati-kedua/"><img src="http://img.youtube.com/vi/KT-xL_nlHU8/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=615&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/video-untung-surapati-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review Untung Surapati, oleh Alvina Vanila</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-alvina-vanila/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-alvina-vanila/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 05:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan ini dimulai dengan dipilihnya dua orang budak anak-anak di pasar Banten oleh Kapitein Van Beber, perwira VOC senior yang sebelumnya bertugas di Makasar. Kepindahannya ke Batavia membuat ia membutuhkan budak untuk membantu mengangkut barang-barang dan keperluan lainnya. Namun setibanya di Batavia, kehadiran dua budak anak-anak itu sudah tidak dibutuhkan lagi, maka ia memberikan budak-budak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=611&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/alvina.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-612" title="alvina" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/alvina.jpg?w=111&#038;h=150" alt="" width="111" height="150" /></a>Perjalanan ini dimulai dengan dipilihnya dua orang budak anak-anak di pasar Banten oleh Kapitein Van Beber, perwira VOC senior yang sebelumnya bertugas di Makasar. Kepindahannya ke Batavia membuat ia membutuhkan budak untuk membantu mengangkut barang-barang dan keperluan lainnya. Namun setibanya di Batavia, kehadiran dua budak anak-anak itu sudah tidak dibutuhkan lagi, maka ia memberikan budak-budak itu kepada seorang sahabatnya, saudagar dari Belanda yang bernama Mijnheer Moor.</p>
<p><span id="more-611"></span></p>
<p>Mijnheer Moor memiliki seorang anak perempuan bernama Suzanne, kedua budak anak-anak yang diketahui bernama Si Pande dan Si Kurus itu dengan cepat menjadi teman bermain bagi Suzanne. Nona kecil itu yang tadinya sakit-sakitan berubah menjadi periang dan semakin sehat, kehidupan si Pande dan Si Kurus pun berubah menjadi jauh lebih layak, karena mereka lebih banyak diperintahkan untuk menemani Juffrouw Suzanne bermain daripada bekerja keras sebagai budak.</p>
<p>Suatu hari, si Pande melarikan diri dari rumah Mijnheer Moor, ia menginginkan kebebasan sepenuhnya, meninggalkan Si Kurus yang memang tidak mau diajak pergi bersamanya. Dari hari-hari itulah, Si Kurus mulai menghabiskan harinya berdua saja dengan Suzanne. Ketika Si Kurus tinggal di rumah Mijnheer Moor, hari-hari penuh keberuntungan selalu memayungi Mijnheer Moor, ini yang membuat Mijnheer Moor memutuskan untuk memberikan nama bagi anak laki-laki itu bukan dengan sebutan Si Kurus lagi, tetapi berubah menjadi Untung.</p>
<p>Persahabatan yang dijalani Suzanne dan Untung berdua saja tak urung menanamkan benih-benih cinta diantara keduanya, meski akibatnya Mijnheer Moor marah besar dan menyiksa Untung dengan menjebloskannya ke dalam penjara bersama tahanan lainnya. Tapi Suzanne demikian besar memperjuangkan cintanya terhadap Kakak sepermainannya itu, maka ia membantu Untung dan seluruh tawanan untuk melarikan diri. Untung yang kemudian melarikan diri bersama Suzanne, memilih kediaman Ki Tembang Jara Driya yang merupakan guru bela dirinya selama ini sebagai tempat persembunyian. Tetapi akhirnya Untung memilih berpisah dari Suzanne, demi keselamatan mereka berdua yang sudah pasti dikejar oleh pasukan Mijnheer Moor.</p>
<p>Dari pelarian diri inilah, Untung mulai melakukan penyerangan terhadap VOC sedikit demi sedikit. Ia melakukan penyerangan dengan teman-teman yang melarikan diri bersamanya yang telah mengikat janji untuk terus mengikuti Untung kemanapun ia pergi. Peperangan yang satu demi satu terus dilalui Untung dan pasukannya makin meneguhkan namanya sebagai seorang yang ditakuti oleh VOC, disegani para pemberontak lainnya dan dikagumi rakyat jelata. Sementara banyak penguasa daerah yang diam-diam memberikan bantuan kepadanya, tak sedikit pula yang secara terang-terangan menentang Untung dan membela VOC. Mereka menganggap Untung dan gerombolannya hanyalah kelompok kraman (perampok) biasa.</p>
<p>Perjalanan Untung ini berawal dari Batavia, lalu memenuhi janjinya terhadap Pangeran Purbaya untuk mengembalikan istri Pangeran, Raden Ayu Goesik Kusuma ke Kartasura, dan terus melawan VOC dengan bertahan di Pasuruan. Novel sejarah ini alurnya cepat, meski penuh detail kesejarahan, tapi masih bisa membuat kita betah membacanya. Juga terlihat ciri khas tulisan Mas Yudhi yang banyak menyertakan detail tempat atau suasana dan sering menyelipkan keindahan bahasa dalam beberapa bagian cerita,</p>
<p>“Dan bagaimana engkau melukiskan waktu? Mungkin itu bagai walet-walet yang selalu terbang di atas kepala kita, kala senja mulai tiba. Tak pernah benar-benar tersadari. Karena engkau tak akan pernah benar-benr mencoba untuk menghitungnya? “</p>
<p>Sayangnya masih ada beberapa kali ketidak konsistenan penulisan nama, atau kesalahan pengejaan dan beberapa typo yang cukup membuat saya terganggu waktu membacanya. Tapi selain itu, novel ini membuat saya yang tadinya paling ngantuk kalau baca buku sejarah menjadi bersemangat. 4 bintang untuk Untung Surapati!!</p>
<p>Sedikit tentang Untung Surapati dan sastra</p>
<p>Seorang penulis bernama Melati van Java mengangkat kisah Untung Surapati dalam sebuah roman berbahasa Belanda. Roman tersebut berjudul Van Slaaf Tot Vorst, diterbitkan oleh Blom &amp; Olivierse pada tahun 1887 dalam Bahasa Belanda. Melati van Java adalah nama samaran dari Nicolina Maria Sloot, seorang Belanda yang dilahirkan dan pernah menetap selama 18 tahun di Semarang. Selain Melati van Java, Abdoel Moeis juga mengangkat kisah tentang Untung Surapati dalam bentuk roman. Seperti yang telah banyak kita ketahui, Abdoel Moeis adalah pengarang Salah Asuhan, dan pernah menerjemahkan Tom Sawyer Anak Amerika pada tahun 1928.</p>
<p>Karya Melati van Java pada tahun 1898 terbit di tanah Hindia, diterjemahkan oleh FH Wiggers. Wiggers dikenal sebagai jurnalis peranakan Eropa yang memelopori produksi karya-karya sastra di negeri ini. Tapi sayangnya saya belum berhasil menemukan referensi lainnya yang menyebutkan tentang roman sejarah ini. Ya, seperti kisah manusia pada umumnya, demikian juga dengan kisah pejuang. Selalu ada roman yang mengiringi jejak-jejak mereka yang bersejarah&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=611&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-alvina-vanila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/alvina.jpg?w=111" medium="image">
			<media:title type="html">alvina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review Untung Surapati, oleh Dion Yulianto</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-dion-yulianto/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-dion-yulianto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 05:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/?p=606</guid>
		<description><![CDATA[Kita mengenal namanya, namun belum tentu kita mengenal dengan mendetail kehidupan dan sepak terjangnya. Ia memang sudah dimasukkan sebagai salah satu pahlawan nasional, yang gigih menentang penindasan dan kekuasaan kolonial di bawah VOC pada sekitar abad 17. Ia adalah tokoh sejarah keturunan Bali yang kemudian berhasil menjaring pengikut setia untuk kemudian menjadi kawan sekarib. Ialah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=606&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/dion.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-607" title="dion" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/dion.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>Kita mengenal namanya, namun belum tentu kita mengenal dengan mendetail kehidupan dan sepak terjangnya. Ia memang sudah dimasukkan sebagai salah satu pahlawan nasional, yang gigih menentang penindasan dan kekuasaan kolonial di bawah VOC pada sekitar abad 17. Ia adalah tokoh sejarah keturunan Bali yang kemudian berhasil menjaring pengikut setia untuk kemudian menjadi kawan sekarib. Ialah tokoh panutan yang begitu legendaris di tanah Banten, Kasultanan Cirebon, Kraton Kartasura, hingga Pasuruan dan Madiun. Dialah Untung Surapati.<span id="more-606"></span></p>
<p>Seorang Yudhi Herwibowo sekali lagi berhasil menampilkan sosok sejarah yang jarang diulas ini dalam bentuk novel utuh dan tebal. Di awal dikisahkan bahwa ada kemungkinan Untung Surapati adalah keturunan dari seorang raja di Bali, Saat kecil, pangeran itu terpisah dari orang tuanya sebelum akhirnya ia dijual sebagai seorang budak. Nama “Untung” sendiri adalah nama pemberian. Si Untung kecil pada awalnya tiada bernama dan hanya dipanggil “si Kurus”. Ia kemudian dijual kepada perwira VOC bernama Mijnheer Moor yang kemudian menamainya sebagai Untung—karena telah membawa keberuntungan bagi keluarga Belanda itu. Darisinilah nama “Untung” berasal, nah lalu nama “Surapati”? Sabar ….</p>
<p>Singkat cerita, Untung kecil beranjak menjadi sosok dewasa yang tangguh. Sejak remaja, ia juga belajar ilmu kanuragan kepada Ki Tembang Jara Driya, seorang guru lahiriah sekaligus batiniah bagi Untung. Kepada Ki Tembang Jara Driya inilah mungkin segala keberuntungan dan ketenaran Untung berasal. Entah sebagai bumbu romantika atau pemanis agar kisahnya tidak terlalu berbau buku sejarah, Untung dikisahkan menikahi putri Mijnheer Moor, Suzanne—yang tentu saja segera ditentang sang Ayah. Untung pun diusir setelah sebelumnya dihina, dilukai, dan dipisahkan dari istri tercinta. Ia kemudian berkelana dan sampai di tlatah Tanah Mati, sebuah persinggahan rahasia di tengah hutan. Tanpa dinyana, dari tempat inilah ia mulai menggalang pengikut. Para begal dan perampok ia ubah menjadi pasukan yang ditakuti Kompeni VOC. Bersama-sama, Untung memulai perang gerilya melawan kekuasaan VOC yang mencengkeram Tanah Jawa di abad 17.</p>
<p>Tanah Jawa pada saat itu terbagi-bagi menjadi berbagai kerajaan, kesultanan, dan kadipaten-kadipaten. Masing-masing diperintah oleh para raja, sunan, atau bupati yang tunduk di bawah ancaman VOC. Sebenarnya, banyak kerajaan yang diam-diam mencoba melawan VOC, seperti Kesultanan Banten dan Cirebon, namun kurangnya kesatuan dan buruknya organisasi—masing-masing kerajaan berjuang sendiri-sendiri dan bukannya sebagai satu kesatuan—maka VOC dengan kelicikannya pun berhasil memadamkan pergolakan itu. Di sinilah Untung mengambil peran pentingnya. Mulai dari tanah Banten hingga ke Madiun, ia dan pasukannya senantiasa membikin resah pasukan VOC. Di Cirebon, ia bahkan berhasil meyakinkan Sultan Cirebon untuk berani melawan kesewenangan VOC, demi harga diri sebagai penduduk Djawadwipa. Karena keberhasilan Untung dalam mengungkap pengkhianatan yang dilakukan oleh Raden Surapati—anak angkat dari Sultan Cirebon, Sultan pun menganugerahkan gelar lama milik anak angkatnya, yakni “Surapati” kepada Untung. Jadilah namanya Untung Surapati.</p>
<p>Dari Cirebon, kisah bergulir ke Banyumas dan Kartasura. Di alun-alun Kartasura inilah meletus peperangan dahsyat yang sekaligus melambungkan Untung Surapati ke puncak ketenarannya. Dengan keris kalamisani, Untung Surapati berhasil menghabisi Kapitein Francois Tack, seorang punggawa VOC yang dikenal sangat brilian dan memiliki kedudukan tinggi. Sungguh, kehilangan seorang Kapten Tack adalah kehilangan luar biasa besar bagi VOC sehingga kemarahan mereka kepada Untung pun memuncak. Ibarat bandul jam yang berbalik, kemenangan besar ini pula yang menandai mulai habisnya keberuntungan seorang Untung. Dengan mengarahkan pasukan benteng dan para marechaussee (polisi militer) kompeni, Untung dan pasukannya terus terdesak hingga ke pos pertahanan terakhir mereka di Benteng Bangil, Pasuruan. Di benteng inilah, Untung Surapati tetap berjuang sekuat tenaga mempertahankan kemerdekaan dan harga diri bangsanya. Diserang oleh gabungan pasukan kompeni, Kartasura, Surabaya, dan Madura; Untung Surapati pun mengakhiri kisah hidupnya yang begitu heroik. Satu pahlawan besar telah gugur, namun namanya akan tetap tercetak emas dalam lembar sejarah perjuangan bangsa yang besar ini.</p>
<p>Untung Surapati karya Yudhi Herwibowo ditulis sebagai sebuah roman sejarah. Penulisannya bukan hanya sekadar untuk menghibur pembaca dengan pertempuran-pertempuran epik melawan pasukan kompeni; tapi juga untuk lebih mengakrabkan pembaca modern dengan pahlawan yang satu ini. Dan, Yudhi Herwibowo mampu menuliskannya secara apik dan berkesan. Pertempuran ala pendekar silat dan selipan-selipan bahasa Belanda membuat pembaca serasa diajak ke Jawa pada abad 17; Jawa ketika kerajaan-kerajaan masih berdiri namun di bawah cengkeraman kekuasaan VOC. Mas Yudhi sendiri mengatakan bahwa roman sejarah ini menggunakan data sejarah dari berbagai buku, dan aroma Babad Tanah Jawa begitu kental terasa dalam halaman-halaman di dalamnya. Kelengkapan data sejarah, itulah salah satu keistimewaan dari buku ini. Sebuah kekuatan yang sayangnya juga menjadi sedikit bahan catatan bagi penulis. Dalam mengawali bab-babnya, penulis sering sekali menuliskan ringkasan peristiwa sejarah yang mungkin mendasari penulisan bab tersebut. Teknik penulisan seperti ini sangat unik, namun juga riskan membuat pembaca cepat bosan. Menghabiskan separuh awal dari buku ini cukup menghabiskan banyak waktu, karena alur cerita yang begitu lambat dan data-data sejarah yang berlimpah; nyaris seperti buku teks sejarah. Untunglah kisah kasih Untung dan Suzzanne yang diselipkan oleh mas Yudhi bisa mengingatkan saya bahwa ini adalah sebuah novel sejarah, bukan buku teks sejarah yang membuat siswa-siswi mengantuk di kelas sejarah (salah satu bukti lagi bahwa kita sering mengabaikan sejarah ck ck ck #plakk).</p>
<p>Terlepas dari itu semua, separuh bagian terakhir adalah bab-bab yang sangat mengasyikkan. Bab-bab ini berisi banyak sekali pertempuran epik antara pasukan Untung dengan kompeni Belanda, mulai di depan Kraton Kartasura, di Benteng Balongan, hingga ke Madiun dan Pasuruan. Dari bacaan ini, pembaca seolah diajak untuk melek terhadap sosok pahlawan yang satu ini. Dia dianggap begal oleh VOC dan kerajaan-kerajaan Jawa yang tunduk di bawah VOC pada masa itu, namun dengan menyimak roman ini, kita disadarkan bahwa Untung Surapati adalah seorang pejuang yang berupaya mempertahankan prinsip dan kemerdekaannya. Jauh sebelum proklamasi dikumandangkan tahun 1945, sebelum persatuan dan kesatuan digaungkan oleh para pemuda pada tahun 1928, Untung Surapati dan pasukannya sudah memulai perang kemerdekaan itu, walaupun dalam skala yang lebih kecil dan kurang terorganisir. Melalui kisahnya yang sangat epik ini, generasi muda bisa belajar tentang betapa berharganya kemerdekaan itu, betapa pentingnya menjunjung harga diri bangsa, dan betapa luar biasa perjuangan para pahlawan sehingga mereka berhak menyandang gelar terhormat itu.</p>
<p>“Jika Untung Surapati dan Benteng Bangil dikalahkan … : siapa lagi sosok yang akan dengan berani menentang Kompeni di Tanah Jawa?” (halaman 640)</p>
<p>Siapkah kita menjadi para penerus Untung Surapati? Untuk terus membela bangsa dan negara tercinta ini? Sekali Merdeka, tetap merdeka.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/606/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=606&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-dion-yulianto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/dion.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">dion</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review Untung Surapati, oleh Novianne Asmara</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-novianne-asmara/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-novianne-asmara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 04:55:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[Untung Surapati merupakah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Tepat rasanya buku ini dibaca saat semarak HUT RI masih berdengung. Walau sebenarnya buku-buku bertema pahlawan atau kisah perjuangan tetap asyik juga dibaca dihari-hari biasa. Menjaga agar semangat nasionalisme dan rasa kagum kita pada para pahlawan yang telah rela berjuang mengorbankan nyawanya selalu senantiasa hadir setiap saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=596&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/noviane.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-597" title="noviane" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/noviane.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" width="150" height="100" /></a></p>
<p>Untung Surapati merupakah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Tepat rasanya buku ini dibaca saat semarak HUT RI masih berdengung. Walau sebenarnya buku-buku bertema pahlawan atau kisah perjuangan tetap asyik juga dibaca dihari-hari biasa. Menjaga agar semangat nasionalisme dan rasa kagum kita pada para pahlawan yang telah rela berjuang mengorbankan nyawanya selalu senantiasa hadir setiap saat di hati kita. Rasa kagum ini pun sudah selaiknya kita persembahkan juga pada para penulis buku-buku sejarah. Karena berkat kepiawaian tangan merekalah, kita akhirnya bisa menikmati sebuah karya kisah sejarah yang mungkin selama ini hanya kita dapat di sekolah dengan porsi yang begitu kecil dan pemaparan yang tidak terlalu detail.<span id="more-596"></span></p>
<p>Memang selalu menarik bila suatu sejarah diangkat menjadi sebuah novel. Tentunya harus dibarengi dengan riset yang mendetail oleh si penulis cerita. Dan ketika saya membaca bagian Prakata dari novel Untung Surapati ini, kekaguman saya terhadap seorang Yudhi Herwibowo kian bertambah. Proses kreatif yang dipaparkan oleh Yudhi Herwibowo menggambarkan betapa rumit dan njelimetnya proses kelahiran novel Untung Surapati ini. Buku ini ditulis dalam rentang waktu hampir 13 bulan, termasuk proses revisi di dalamnya. Awalnya tebal naskah ini hanyalah berisar 285 halaman saja, tapi setelah diadakannya revisi dan penambahan di beberapa tempat, maka jadilah naskah ini membengkak menjadi 660 halaman. Dan ternyata memang tidak mudah menulis novel sejarah, apalagi menyangkut seorang pahlawan di masa lalu yang hidup di akhir abad ke-17. Sang penulis pun bercerita bahwa dia sempat kecapekan akibat cross check yang dilakukan oleh editornya, demi menghasilkan data yang valid dan benar. Seru juga mendengarkan Mas Yudhi bercerita dari hal besar sampai hal yang remeh sekali pun yang menyangkut novel roman sejarah ini. Di tengah kecapekan dan hilangnya mood menulis Untung Surapati, si tukang cerita tidak serta merta menjadi mandul. Dia tetap menulis, dan ajaibnya dua buah buku lainnya selesai dia tulis di sela-sela rehat dari Untung Surapati. Keren yah&#8230;</p>
<p>Menurut Yudhi Herwibowo, Babab Tanah Jawa adalah buku yang paling berjasa dalam penyusunan novel ini. Sampai-sampai tiga buah buku Babad Tanah Jawa dari berbagai versi dan edisi dibelinya. Buku lainnya yang tidak kalah berperan penting membidani kelahiran Untung Surapati ini adalah Terbunuhnya Kapten Tack karya de Graaf. Lewat buku hasil tulisan de Graaf inilah informasi mengenai perang di Kartasura berhasil didapatkan. Beberapa buku penunjang lainnya adalah Jan Kompeni yang merupakan buku lama, Batavia Awal Abad 20, Prajurit Perempuan Jawa, dan History of Java.</p>
<p>Ternyata memang menulis itu membutuhkan keuletan dan kesabaran tingkat tinggi untuk mengahasilkan karya yang maksimal. Pengorbanan pun tidak hanya terpaku pada seputar waktu dan dan materi saja. Bahkan kadang penulis harus rela menahan diri untuk berpuasa sejenak dari eksis di akun jejaring sosial; facebook dan twitter. Inilah yang dialami oleh Yudhi Herwibowo, berkat menahan diri untuk sementara waktu dengan tidak selalu update status di facebook yang memang membuat ketagihan, dia mempunyai waktu lebih efisien dan tidak terbuang percuma. Kadang pula, pengorbanan ide perlu dilakukan untuk kebaikan bersama. Misalnya, adanya bebarapa adegan yang semula diimajinasikan untuk ditulis, terpaksa harus dihilangkan. Juga keharusan menganalisa ulang buku referensi. Di mana buku Babad Tanah Jawa harus dianalisa ulang karena ternyata buku ini banyak yang menentang. Tapi semua jerih payah dan pengorbanan seorang penulis akan terbayar lunas, saat hasil tulisannya lahir menjadi sebuah buku yang indah, sarat dengan pengetahuan dan kaya kandungan gizi sejarahnya. Dan yang terpenting dari semua itu adalah saat hasil karya tersebut bisa dinikmati dan diapresiasi oleh para pembacanya sebagai penikmat buku. Ada pun bila timbul pro dan kontra nantinya, itu adalah hal yang lumrah terjadi. Mengingat sudut pandang setiap pembaca itu berbeda-beda. Setidaknya bagi saya, sudah ada seoarang penulis yang peduli akan pahlawannya dan mengangkatnya ke dalam sebuah roman sejarah.</p>
<p>Saya jadi mendambakan bisa membaca semua tokoh sejarah dan pahlawan bangsa ini melalui sebuah novel yang dikemas apik dan tidak ngebosenin. Karena dengan begitu akan lebih mudah menyerap isi sebuah cerita ketimbang buku teks yang kaku seperti buku-buku paket sekolah.</p>
<p>Kisah Untung Surapati diawali dengan menghilangnya seorang anak raja di Bali. Anak tersebut kemudian dijual sebagai budak kepada seorang pemimpin Kompeni VOC di Batavia, Mijnheer Moor. Dialah yang kemudian memberikan nama ‘Untung’ kepada anak budak berbadan kurus yang semula hanya dipanggil sebagai ‘si Kurus’ tersebut. Di tempat Mijnheer Moor inilah Utung menghabiskan masa kecil hingga awal dewasanya, dan juga tempat dia menemukan cintanya, Suzzane Van Moor―anak dari Mijnheer Moor. Dari keadaan inilah konflik mulai bergulir. Mijnheer Moor tidak terima bahwa Untung yang notabene adalah mantan budaknya yang juga seorang pribumi dan sangat dia banggakan malah berani menikahi Suzzane. Pada saat itu, seorang pria Eropa memang dibolehkan menikahi wanita pribumi―yang kemudian muncul istilah ‘nyai’; namun, seorang wanita Eropa yang menikah dengan pria pribumi merupakan sebuah aib. Merujuk pada kejadian itulah kecintaan kemudian berubah menjadi kebencian. Untung dipenjara, disiksa dan dipukuli hingga akhirnya dia berhasil melarikan diri ke Tanah Mati, sebuah tempat persembunyian rahasia di tengah hutan―tempat di mana dia mulai menghimpun pasukan dan kekuatan untuk melawan kompeni. Dengan bertindak sebagai gerombolan begal alias perampok, Untung dan kelompoknya terus melancarkan serangan ke pos-pos VOC, hingga namanya pun terkenal di seantero Jawa. Mulai dari Kasultanan Banten di ujung barat hingga ke Madura. Semua petinggi kerajaan-kerajaan itu mengenal sepak terjang Untung dan kelompoknya. Banyak yang mendukung tapi tidak sedikit pula yang membencinya karena adanya tekanan kuat dari VOC. Dari Banten pasukan Untung menuju Cirebon. Di Cirebon inilah Untung berhasil menggagalkan upaya adu domba dan pengkhianatan yang dilakukan oleh anak angkat Sultan Cirebon, Raden Surapati. Begitu kagumnya sang Sultan, hingga akhirnya beliau kemudian menganugerahkan gelar Surapati kepada Untung. Jadilah Untung sekarang bernama, Untung Surapati.</p>
<p>Panggung pertempuran lalu berpindah ke Jawa Tengah, tepatnya ke Kraton Kartasura yang merupakan cikal bakal dari Mataram Yogyakarta dan Mataram Surakarta. Di depan kraton inilah, Untung Surapati meraih pencapaian tertinggi yang kelak akan sangat dikenal dalam sejarah perjuangan bangsa ini. Untung berhasil membunuh salah satu kapten yang sangat dibanggakan oleh VOC, yakni Kapitein Francois Tack. Peristiwa ini begitu membekas dan monumental sehingga ikut menentukan arah kebijakan VOC terhadap Untung Surapati dan pasukannya. Sebuah peristiwa kejayaan yang sekaligus menandai mulai lunturnya kekuatan dan bintang keberuntungan Untung Surapati bersama pasukannya. Dan, sejak saat inilah, VOC terus mendesak dan mengobarkan perlawanan kepada pasukan begal itu, hingga akhirnya mereka terdesak dan mencapai pertahanan terakhirnya di Benteng Bangil, Pasuruan. Di benteng ini, Untung Surapati mengakhiri perjuangan yang senantiasa meninggalkan kesan yang begitu dalam kepada bangsa ini. Dialah sang pahlawan.</p>
<p>Yudhi Herwibowo, lahir di Plaembang, tetapi terus pindah dari Tegal, Kupang, Purwekerto, dan Solo. Lulusan Arsitektur, Universitas Sebelas Maret Surakarta ini telah memenangi beberapa lomba kepenulisan, diantaranya: Cerpen Femina 2004, Novelet Femina 2005 dan Penulisan Novel Inspirasi Penerbit Andi di Yogyakarta serta diundang di Ubud Writers and Festival 2010. Terdapat lebih dari 27 buku fiksi dan non fiksi yang telah ditulisnya. Beberapa bukunya malah sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan Inggris. Buku Pandaya Sriwijaya (Bentang) merupakan buku roman sejarah yang pertama kali dia tulis. Ada pun buku lainnya yang fenomenal adalah Mata Air, Air Mata Kumari (BukuKatta) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Saat ini dia memutuskan untuk total menulis. Selain sebagai penulis, dia juga aktif sebagai koordinator di buletin sastra pawon, Solo. Untuk mengenal lebih jauh tentang Yudhi Herwibowo dan karyarnya, bisa mengunjungi www.yudhiherwibowo.com atau di www.yudhiherwibowo.blogspot.com dan www.untungsurapati.blogspot.com</p>
<p>http://buntelankata.blogspot.com/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/596/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=596&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/26/review-untung-surapati-oleh-novianne-asmara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/noviane.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">noviane</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Piano, cerpen saya untuk Mbak Sanie B. Kuncoro di majalah Femina (edisi asli, tanpa potongan, tanpa editan)</title>
		<link>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/02/piano-cerpen-saya-untuk-mbak-sanie-b-kuncoro-di-majalah-femina-edisi-asli-tanpa-editan/</link>
		<comments>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/02/piano-cerpen-saya-untuk-mbak-sanie-b-kuncoro-di-majalah-femina-edisi-asli-tanpa-editan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 01:24:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiherwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yudhiherwibowo.wordpress.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[1. Perempuan yang ingin menjadi alunan nada Moonlight Sonata? Kau dengar alunan itu? Denting-denting lembut yang muncul dari ujung sana? Samar, merayap, meratap, bagai hembusan angin yang bergelitik? Aku mendengarnya dengan jelas dari bilikku. Sedikit echo telah menambah kekuatan nada-nada yang terbentuk. Dan aku terpana dibuatnya. Siapa yang bermain piano seindah itu? Rasanya sudah begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=587&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/femina-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-591" title="FEMINA 2" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/femina-2.jpg?w=197&#038;h=300" alt="" width="197" height="300" /></a>1. Perempuan yang ingin menjadi alunan nada</strong><br />
Moonlight Sonata?<br />
Kau dengar alunan itu? Denting-denting lembut yang muncul dari ujung sana? Samar, merayap, meratap, bagai hembusan angin yang bergelitik? Aku mendengarnya dengan jelas dari bilikku. Sedikit echo telah menambah kekuatan nada-nada yang terbentuk.<br />
Dan aku terpana dibuatnya. Siapa yang bermain piano seindah itu? Rasanya sudah begitu lama aku tak mendengar orang memainkan seperti ini.<br />
Maka segera kubawa kakiku melangkah ke sana. Walau ini malam pertamaku tinggal di sekolah musik ini, aku tahu dari mana asal suara. Sedikit terburu aku melangkah. Tetap dengan menahan setiap langkahnya, agar suaranya tak mengganggu alunan itu.<br />
Semakin dekat, jantungku semakin berdebar. Semakin kurasakan irama yang begitu sempurna. Aku bahkan dapat merasa energi yang pas tekanan jemari-jemarinya pada tuts. Aku hapal lagu ini. Mungkin sudah ribuan kali kudengarkan. Ini adalah lagu pertama yang kudengar dan membuatku terpesona.<br />
Aku masih ingat kala itu, aku masih begitu kecilnya. Sepertinya alunan itu sengaja memilihku, menghampiriku, dan membuatku mendekat. Seorang perempuan jelita kulihat memainkan sonata itu di ruangan gelap dan berdebu.<br />
Aku terpana. Waktu itu adalah kali pertama aku melihat seorang bermain piano. Maka aku tak melepas mataku memadang jemarinya yang bergerak, seperti melakukan sebuah tarian. Kadang lincah, kadang lembut.<br />
Dan ketika ia usai memainkan sonata itu, aku segera mendekat padanya dan berkata, “Bolehkan aku memainkannya?”<br />
Perempuan itu tak nampak terkejut. Ia hanya tersenyum lebar, “Tentu saja.” Ia kemudian mendudukkanku di depannya.<br />
Saat itu aku masih mengingat gerakan jemari perempuan ini, juga nada-nada yang menghampirinya. Semuanya seperti terekam kuat. Tapi tentu semuanya tak semudah itu, walau perempuan itu kemudian meletakkan jemarinya di bawah jemariku, sehingga aku tinggal mengikutinya gerakannya.<br />
Nada-nada kemudian terbentuk. Itulah pertama kalinya aku berpikir ingin menjadi alunan nada. Muncul di udara, membuat orang-orang terbuai mendengarnya, lalu hilang terbang meninggalkan kesan.<br />
Maka seperti kala itu, kini aku pun mendekati alunan nada yang menghampiri tadi. Dengan gerakan ragu, mulai kubuka pintu besar ruangan, tempat kami biasa berlatih piano.<br />
Namun tak kutemui siapa pun di sana. Ruangan itu kosong. Hanya sebuah piano tua dengan cacat mencolok di samping tubuhnya, yang terlihat di ujung ruangan. Namun nada-nada itu, entah mengapa, masih tetap terdengar di telingaku. Sungguh, sama seperti kala itu&#8230;<span id="more-587"></span></p>
<p><strong>2. Perempuan yang mencoba mengulang sebuah sonata</strong><br />
Engkau datang sebagai perempuan paling muda di sekolah ini. Umurmu tak lebih dari 10 tahun, dan datang dengan pakaian lusuh bersama ayahmu. Kala itu, engkau sama sekali tak banyak bicara, namun begitu melihat piano di ruangan sebelah, engkau langsung mendekatinya tanpa berucap apa-apa.<br />
“Ia sangat suka piano,” ayahmu meminta maaf atas ketidaksopananmu. “Tapi, itulah alasan kami membawanya kemari.”<br />
Dan sejak itulah engkau tinggal di sekolah ini. Ibu kepala sekolah memberikan sebuah bilik kecil, yang semula merupakan gudang sekolah. Rumah orang tuaku yang bersebelahan dengan sekolah, membuatku kemudian cepat akrab denganmu. Aku ingat, di perbincangan pertama kita, engkau sudah bercerita kalau engkau ingin sekali menjadi alunan nada. Kau bercerita sambil memejamkan matamu, dan menggerakkan tubuh seakan tengah menari. Dan aku hanya mendengarkan sambil lalu.<br />
Tapi lama-kelamaan aku mulai menganggap serius ucapanmu. Hanya beberapa kali engkau mencoba piano kami, aku segera sadar kalau ada sesuatu yang berbeda pada dirimu. Sungguh, aku belum pernah melihat seseorang dengan bakat seperti yang engkau miliki. Jemarimu yang masih begitu kecil tetap terlihat mudah meraih tuts-tuts yang seharusnya di luar jangkauanmu.<br />
Sungguh, setiap kali melihat engkau bermain, aku selalu merasa kalau Tuhan tak cukup adil padaku. Terlebih saat Madame Ana, salah satu guru kami dari Belanda, datang. Masih kuingat kala itu, selesai Madame Ana memainkan sebuah sonata, engkau langsung menghampirinya sambil berujar, “Bisakah aku mencoba memainkan lagu tadi, Madame?”<br />
Tentu saja kening Madame Ana berkerut. Lagu tadi adalah Fantasie Impromptu, dan tak ada dari kami yang telah mempelajarinya.<br />
Namun Madame Ana mengangguk. Ia langsung menyebut namamu dan mempersilahkanmu duduk di kursi piano. Setelah itu, engkau seakan benar-benar menjadi alunan nada, seperti yang berulang kali sudah engkau ucapkan. Kami semua hanya bisa memandang kagum dengan balutan rasa iri yang samar padamu. Lagu itu benar-benar engkau mainkan tanpa cacat.<br />
Sejak itu aku tahu, bila momen seperti itu selalu engkau tunggu. Semakin kita dewasa, engkau semakin terbiasa dengan semua itu. Panggung redup yang kemudian gemerlap, seseorang yang memanggil namamu dengan lantang di susul tepuk tangan bergemuruh. Semuanya selalu menjadi milikmu. Dan aku yang seakan tak beranjak, nampaknya harus memilih menepi. Pergi. Aku tahu keputusan ini akan mengecewakan keluarga. Tapi kupikir, akan lebih baik seperti ini.<br />
Maka di malam terakhir di sana, aku berpamitan padamu. Kukatakan dengan jujur semua alasanku. Dan itu membuat genangan air matamu terlihat begitu kentara.<br />
“Aku ingin engkau tetap di sini,” ujarmu akhirnya. “Aku tak memiliki siapa-siapa di sini selain engkau.”<br />
Aku menggeleng, “Nanti, engkau akan memiliki banyak teman.”<br />
“Tapi bukan teman yang bisa bermain piano bersama,” potongmu.<br />
Dan aku hanya terdiam. Engkau kemudian menyentuh telapak tanganku perlahan, dan menggandengku menuju tempat di mana piano yang biasa kami gunakan berada. Lalu kami duduk bersama di kursi itu memandang sesaat piano yang seakan terluka di tubuhnya itu. Biasanya engkau akan duduk di sebelah kanan, dan aku di sebelah kiri. Engkau akan memainkan nada-nada tinggi, dan aku memainkan nada-nada rendah. Tapi tidak kali ini. Engkau memilih duduk di belakangku. Telapak tanganmu menelisip melalui pinggangku, ke bawah telapak tanganku.<br />
“Kita akan bermain bersama,” bisikmu tepat di telingaku. “Kau ikutilah gerakanku. Aku baru saja menciptakan sebuah sonata yang sangat indah&#8230;”<br />
Lalu tanganmu bergerak perlahan, dan tanganku yang ada di atas tanganmu, hanya bisa mengikuti gerakanmu&#8230;<br />
***<br />
Beberapa tahun kemudian aku mendengar tentang berita kematianmu. Engkau ditemukan meninggal dalam posisi duduk dengan kepala terkulai di atas piano. Darah dari mulutmu menetes menjatuhi deretan tuts, mengubah seluruh warna putih menjadi merah.<br />
Walau sudah bertahun-tahun tak bertemu lagi, aku menangis untukmu. Aku kembali teringat dengan sonata yang terakhir kali kita mainkan bersama. Masih terbayang di kepalaku kelembutan alunan nadanya.<br />
Maka kucoba memainkannya sekali lagi di malam ini untuk sekedar mengenangmu. Namun sampai beberapa kali kucoba, aku tetap tak mampu mengingat seluruh nada-nadanya.</p>
<p><strong><a href="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/piano.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-588" title="piano" src="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/piano.jpg?w=614" alt=""   /></a>3. Perempuan yang menghancurkan partitur</strong><br />
Laki-lakiku menceraikanku puluhan tahu lalu! Dan aku tak menangis karenanya. Aku bahkan tak bertanya apa alasannya. Aku adalah perempuan kuat, dan sama sekali tak mau mencederai keyakinan itu, walau dalam hati sekali pun.Kekerasanku adalah kekuatanku. Aku yakin itu sejak dulu. Namun entah mengapa, bersamaan dengan bertambahnya umur, aku tak lagi merasa sekeras dulu. Dan aku sadar penyebabnya adalah perempuan kecil yang selalu ada di dekatku ini.<br />
Ya, perempuan kecil ini. Melihatnya, benar-benar mengingatkanku pada diriku sendiri. Matanya yang bening bagai cermin cinderella, dan rambut ikalnya yang panjang merupakan gambaran kecil yang ada padaku dulu.<br />
Ia adalah cucuku. Anak satu-satunya dari anak perempuanku. Sudah sejak lama aku meminta pada anakku agar bisa merawatnya. Tentu saja itu bukan permintaan yang mudah. Tapi apa bisa anakku menolak permintaanku?<br />
Belasan tahun yang lalu, ia telah gagal. Jadi kini tentu saja ia tak akan bisa membantah. Semua harapan tinggal ada pada sosok perempuan kecil ini. Maka aku akan membawanya pergi ke mana pun denting piano mengalun. Aku ingin dirinya menyatu dengan alunan paling sempurna, nada-nada paling indah. Aku benar-benar tak ingin memposisikan dirinya seperti dulu aku memposisikan ibunya, yang begitu saja kulepaskan di sekolah khusus, walau sekolah itu kudirikan sendiri.<br />
Maka itulah perempuan kecil ini ada di sini, di sebuah kota senyap yang hanya terdengar samar musik di kejauhan. Ia tak banyak bicara sejak tadi. Mungkin lelah. Hanya saja, saat kami tengah menuju ke kamar hotel, ia menarik ujung bajuku. “Nenek,” ia menunjukkan sesuatu dengan kepalanya.<br />
Dan aku segera mengikuti gerakannya dengan lambat. Tak jauh dari tempat kami berdiri, di sudut ruangan yang temaram, kulihat sebuah piano tertutup kain hitam, hingga nampak bagai sebuah meja usang tak berharga.<br />
Sebenarnya aku ingin berlalu saja. Tapi melihat guratan di sisi tubuhnya, membuat hatiku seketika bergetar. Sungguh, aku masih hapal cacat itu. Beberapa tahun yang lalu aku sendiri yang menjual piano yang telah sekian lama dimiliki keluarga kami. Ya kami terpaksa menjualnya, karena kami tak benar-benar bisa membersihkan bekas darah seorang murid kami yang meninggal di situ.<br />
Ah, tiba-tiba bulu kudukku meremang. Aku kembali teringat kejadian itu. Dadaku seketika terasa sesak. Masih begitu kuingat malam saat hanya kami berdua di ruangan itu. Ia menunjukkan partitur yang baru diciptakannya, dan berniat memainkannya untukku.<br />
Dan aku terpana dibuatnya. Mataku seakan tak percaya melihat deretan partitur ini. Terlebih saat ia kemudian memainkan langsung.<br />
Ia memulai dengan gerakan lambat bagai irama The Swan yang dimainkan dengan C Minor. Namun hanya beberapa detik berselang ritme yang dibentuk terasa mengejutkan. Alunan yang semula terasa berirama alegro agitato, berubah menjadi largo dan kemudian kembali lagi pada alegro agitato. Di beberapa bagian, ia bahkan dengan berani mengganti kunci D mayor, sehingga suara tanpa harmonis sesaat terbentuk mengejutkan. Di sinilah ia kemudian mengakhiri alunannya dengan memaksa ketegangan di imajinasi.<br />
Tubuhku terasa lemas. Baru kusadari bila inilah alasan kenapa anakku dulu memilih menepi, dan menghancurkan semua impianku. Jantungku tercerabut. Pikiranku berkecamuk bagai dipenuhi nada-nada tak beraturan. Tanganku yang bergetar hebat, tanpa sadar telah meremas partitur di tanganku, dan merobeknya dengan penuh kemarahan. Lalu&#8230;<br />
Aaah, aku benar-benar tak ingin melanjutkan bayangan itu. Aku tak ingin mengingatnya! Bukankah, selama ini aku telah melupakannya?! Benar-benar melupakannya?!<br />
“Nenek,” sentuhan di ujung bajuku kembali kurasakan. “Maukah nenek memainkan satu lagu untukku?”<br />
Aku masih terpaku. “Sebaiknya jangan malam ini,” ujarku berusaha tersenyum.<br />
“Tapi nenek, aku ingin,” ia merengek manja. “Mainkan sebuah lagu saja. Chopin Waltz untuk pengantar tidurku.”<br />
Dan ia mulai menarik jari-jariku yang mendadak terasa bergetar hebat. Begitu hebat. Sama seperti dulu, ketika aku selesai menghantamkan sesuatu ke kepala gadis itu!</p>
<p><strong>4. Perempuan kecil yang tak ingin merusak alunan lagu</strong><br />
Hanya ada kesenyapan.<br />
Kuputuskan meninggalkan kamar dan mendekati piano yang beberapa saat lalu kulihat. Aku masih begitu penasaran kenapa tadi nenek tak juga memainkan satu lagu pun untukku? Bukankah biasanya ia selalu bersemangat memainkannya? Dan lebih aneh lagi, kenapa tiba-tiba ia begitu pucat dan menangis?<br />
Perlahan, aku mulai membuka penutup piano itu. Seharusnya aku mencobanya sendiri tadi. Bukankah aku sudah bisa melakukannya?<br />
Lalu mulai kuletakkan jari-jariku di atas tuts. Seperti biasa, tubuhku tiba-tiba menegang. Selalu seperti ini. Namun di kesenyapan ini, ketegangan segera memudar. Bukankah memang aku telah hapal partiturnya? Bukankah telah puluhan kali pula aku memainkannya di waktu-waktu senyap seperti ini? Ya, memainkannya dengan baik, karena aku tak pernah ingin merusak alunan itu dengan kesalahan kecil jemariku!<br />
Namun saat aku baru akan memulainya, tiba-tiba kurasakan seseorang mendekatiku. Aku menoleh cepat. Namun tak ada siapa pun di sekitarku. Suasana tetap senyap. Saat aku kembali ada dalam posisiku, tiba-tiba kurasakan seseorang seperti duduk di bagian belakang kursi yang kududuki.<br />
Aku tercekat. Bulu kudukku meremang. Aku ingin menoleh kembali, namun tubuhku kaku. Saat itulah kurasakan sesuatu tiba-tiba menelisip dari balik pinggangku, dan berhenti di bawah kedua telapak tanganku. Lalu bagai hembusan angin yang menggelitik, kudengar sebuah bisikan lembut tepat di telingaku, “Kau ikutilah gerakanku, kita akan bermain bersama&#8230;”<br />
****</p>
<p>Untuk <em><strong>Angelica Liviana</strong></em>: thanks</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yudhiherwibowo.wordpress.com/587/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yudhiherwibowo.wordpress.com&amp;blog=3896000&amp;post=587&amp;subd=yudhiherwibowo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yudhiherwibowo.wordpress.com/2011/08/02/piano-cerpen-saya-untuk-mbak-sanie-b-kuncoro-di-majalah-femina-edisi-asli-tanpa-editan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1ae1a59b11eddf5f6c49c85f8a303cb2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yudhiherwibowo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/femina-2.jpg?w=197" medium="image">
			<media:title type="html">FEMINA 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yudhiherwibowo.files.wordpress.com/2011/08/piano.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">piano</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
