Entah mengapa, dini hari ini saya putuskan untuk melanjutkan Samurai Cahaya. Saya tak pernah terbangun jam 3.30 sebelumnya. Mungkin karena malam sebelumnya saya tidur sebelum jam 10 malam. Maka itu pagi ini saya terbangun pada pukul itu. Karena tak ada kerjaan, saya kembali membuka Samurai Cahaya. Mencoba menganalisa kekurangan-kekurangannya. Disitulah sekelebatan ide kembali datang disaat-saat hari paling sepi.

Sebelumnya, tak pernah sekalipun terpikir untuk melanjutkan kisah ini. Samurai Cahaya sudah saya posisikan untuk tak bisa dilanjutkan lagi, karena saya sudah mematahkan samurai ular yang menjadi tandem samurai cahaya. Saya malah tengah sibuk membuat cerita Shanao Yoshitsune, dan juga mulai mengumpulkan data-data untuk membuat cerita berlatar Kerajaan Sriwijaya (judulnya kalau gak diganti Pandayan Sriwijaya)

Tapi seiring berjalannya waktu, semuanya berubah…

Terimakasih sekali buat Rocky, yang katanya akan menunggu lanjutkan buku ini sampai kapan pun 1 tahun bahkan 10 tahun… haha.

Terimakasih juga buat Kana, yang sudah memberi masukan2nya yang woeke banget. Terutama untuk memunculkan tokoh perempuan. Disini saya akan munculkan tokoh perempuan yang kuat seperti kamu… yang tentu saja juga cengeng seperti kamu… hahaha

Terima kasih juga buat mbak San yang secara to the point mengatakan lebih baik saya melanjutkan cerita ini daripada membuat Sriwijaya, karena saya sudah membuanya dengan open ending (???)

Dan tentu saja buat Ghea, yang sudah mengatakan buku ini jelek. Tapi pada akhirnya dia jujur, jelek yang dimaksud karena buku ini sudah membuat dirinya terlihat cengeng. Haha, konon dia membenci kejujuran ini… hahahahahaa…

Inti cerita dari buku ini terfokus pada 2 bintang jatuh yang masih tersisa. Bagaimana usaha Toshi Yokushimaru untuk merebut kembali kastil keluarganya dari tangan sang kakak, juga tentang Sano Ryu yang mulai merasakan tangannya mengeluarkan cahaya-cahaya magis dan juga… menemukan cinta sejatinya…

Doakan semoga cepat selesai ya….

 

 

Iklan