Apa kalian tahu saat membeli buku Recto Verso dengan kemasan hardcover seharga Rp. 75.000, pembeli menanggung Rp. 20.000 sampai Rp.24.000 hanya untuk hard covernya saja?

Kenapa saya menanyakan hal-hal remeh seperti ini? Tapi saya pikir ini penting. Karena gara-gara pertanyaan saya di atas, jargon buku mahal karena harga kertas mahal, jadi terasa jadul. Harga kertas tak sesakti itu kog, bisa sampai membuat buku menjadi mahal. Walau tak bisa dipungkiri biaya kertas merupakan ½ dari nilai produksi buku.

Tapi rasanya tak adil bila terus mengkambinghitamkan harga kertas yang paling mempengaruhi harga buku. Sebenarnya banyak pos yang membuat harga buku murah.

Namun fenomena yang terjadi di Indonesia adalah penerbit besar, dan penerbit yang mulai besar, sepertinya berlomba-lomba mengekskusifkan buku terbitannya.

Tak bisa dipungkiri teknik cetak dan finishing buku selalu berkembang. Maka itulah sepertinya bila ada sesuatu yang baru di dunia grafika, penerbit akan cepet-cepetan mengikuti itu.

Hal yang paling mencolok dapat dilihat di tahun 1980. Saat itu model buku dengan double cover, dimana cover luarnya merupakan cover lipat (cover flip), melanda negara ini. Karena waktu itu belum banyak penerbit besar yang berkembang, Gramedia dan beberapa grupnya yang banyak mendominasi cover model begituan.

Saya benar-benar tidak bisa melihat kepentingan model cover seperti itu, selain menaikkan harga jual buku hingga bisa mencapai nominal Rp. 4.000. Karena mencetak cover begitu, berarti ada 2 post untuk mencetak cover juga, melakukan proses finishing lipat itu.

Di tahun 1990an, dominasi cover banyak menggunakan gambar/tulisan dari emas/perak (foi), atau bahkan tulisan timbul (pond). Finishing seperti ini, sampai tahun 2008 ini masih banyak digunakan untuk esklusifitas buku. Secara gamblang sebenarnya biaya yang ditanggung oleh pembeli buku untuk membeli buku dengan finishing seperti ini adalah untuk berkisar Rp. 300 untuk pond dan Rp. 500 untuk foil, tergantung ukurannya.

Di tahun 2000an ini, finishing cover dengan uv spot yang sedang i melanda. Kalau kalian melihat sebuah buku, yang covernya di-doff, namun di bagian-bagian tertentu, misalnya di gambar dan judulnya, sebuah lapisan plastik terlihat, itulah uv spot.

Sebenarnya ini merupakan pengembangan dari teknik finishing sebelumnya. Finishing cover uv (vernis, yang membuat buku mengkilat) dan doff sudah begitu akrab bagi kita, dan itu cukup lumayan. Untuk perbandingan buku 15 x 20 cm bila diterbitkan secara standar 3.000 eks, untuk finishing UV hanya mengeluarkan dana Rp. 25 sedang untuk doff mencapai Rp. 200. Dari biaya tersebut biasanya penerbit akan mengalikan 5 – 6 kali dari biaya produksi. Jadi bila kita memegang sebuah buku dengan uv, kita membayar finishing itu hanya Rp. 150 dan dengan doff kita membayar Rp. 1200. Namun dengan uv spot biaya yang ditanggung lebih besar dari itu. Bahkan bisa 2 kali lipat biaya doff, tergantung ukuran yang akan di-uv spot.

Beberapa penerbit bahkan melakukan finishing yang lebih mahal lagi. Misalnya di buku Stardust (Gramedia) dan Why My Head… (Dastan), dimana pada Uv spotnya terlihat butir-butir manik-manik yang mengkilat. Ah, berapa banyak yang harus dikeluarkan pembeli untuk menikmati keindahan itu?

Belum lagi beberapa penerbit sangat bergaya dengan memberikan pembatas buku yang sejatinya sebagai bonus. Buku-buku terbitan Dastan merupakan buku-buku dengan pembatas buku yang paling oke. Bentuknya unik-unik. Pada buku Monk misalnya, Dastan memberi pembatas buku berbentuk kaca pembesar, selain itu bonus stiker yang kerap dilampirkan juga sangat oke.

 

Yang kemudian perlu dipertanyakan adalah, apakah pembeli layak membeli semua finishing ini?

Saya sadar kemasan memang merupakan daya tarik utama di industri buku Indonesia. Selama ini otak kita terus terecoki dengan kemasan. Walau kita terus menggaungkan kalimat don’t judge the book from its cover, tapi kita secara tidak sadar telah menomorduakan isi. Apalagi dengan system sring (kemasan plastik rekat), kita jadi sulit mengintip isi buku. Jadi kemasanlah yang memang pertama kali dilihat.

Saya sadar sebuah buku bagai seorang anak dari penerbitnya. Jadi haruslah dirawat dengan sebaik-baiknya. Diberi baju yang bagus, dan vitamin-vitamin penunjang. Ya, saya sadar juga itu.

Tapi cobalah kita lihat kebelakang, Penerbit Penguin di Amerika, pertama kali muncul dengan konsep buku murah. Cover dicetak dengan 1 warna atau 2 warna, tanpa tetek bengek finishing cover. Kertas yang digunakan juga selalu kertas buram (di Indonesia lebih dikenal dengan nama CD import). Maka itulah buku kemudian hanya dijual beberapa sen saja. Beberapa penerbitan kemudian mengikuti gaya ini. Kesederhanaan diekpos sedemikian rupa. Maka itulah kita kerap melihat buku-buku dari luar negeri begitu sederhananya. Bahkan di pameran buku import di Gramedia saya tak melihat 1 buku pun dari luar, yang difinishing dengan doff. Bahkan covernya biasanya hanya mengandalkan tulisan teks dan gambar yang sangat sederhana. Mereka rupanya memangkas ongkos desainer cover (yang di Indonesia berkisar Rp. 200.000 sampai Rp. 1.000.000), serta tetek bengek finishing cover.

Ah, melihat ini, saya jadi berpikir kemasan memang nomor dua di sana. Yang terpenting memang contentnya!

 

Tapi apa kita bisa menerima konsep seperti itu?

Apa pengurangan harga buku tak menjadi masalah di negeri kita?

Karena kalau saya mengkilas balik keadaan perbukuan kita, bukankah sepertinya tidak pernah ada buku murah yang menjadi benar-benar bestseller ya (dicetak 20 kali lebih)? Buku-buku seperti La Tahzan, Harry Potter, Da Vinci Code, Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta, harganya selalu berkisar Rp. 50.000. Buku seharga itu apakah bisa disebut buku murah? Atau mungkin kita saja yang sebenarnya sudah cukup kaya dan mampu disebut hidup di negara maju? (hehe!)

Padahal setiap penulis saya rasa ingin bukunya murah, agar pembacanya tidak merasa berat waktu membelinya. Sehingga terjaring pembeli yang lebih banyak lagi. Bila buku saja akan diterbitkan, saya selalu bertanya-tanya dengan takut-takut kepada penerbit agar buku saya jangan sampai terlalu mahal, beberapa teman juga melakukan ini (tapi saya gak tahu, penulis resto vesto meminta ini juga gak?)

Tapi lepas dari itu, bila setiap penerbit tetap mengatasnamakan kesahajaan di buku-buku yang mereka terbitkan, bisa dibayangkan berapa nilai pengiritan yang telah dilakukan untuk pembelinya? Itu bisa mencapai 10% sampai 20%, bahkan lebih. Jadi sebagai contoh buku Klan Otori keempat yang setebal Rp. 700 halaman dengan bandrol Rp. 89.900, bisa dijual di pasaran hanya dengan Rp. 70.000 saja. Bayangkan?

Ah, andai setiap penerbit bisa memiliki kesahajaan seperti itu, dan benar-benar sadar berdiri di sebuah negara yang belum menjadi apa-apa, saya rasa buku memang bisa menjadi lebih murah…

Andai…

 

Iklan