beberapa hari yang lalu saya menerima email dari pembaca buku Samurai Cahaya. Sungguh, biasanya saya menerima email ucapan terimakasih, atau email seseorang yang suka dengan tulisan saya. tapi belum pernah ada yang sampai menulisnya dalam bentuk sajak atau puisi…

tengkyuu ya micka… 🙂

SAMURAI CAHAYA

Prolog:

Senja itu matahari meretas darah

Langit semburat merah

Kupukupu hitam merajam, gerah

Ke satu titik empat bintang luruh

Tanpa bersua

: suatu pertanda,

Apa?!

————–

Honshu, Jepang.

Masa kejayaan Ashikaga.

Hari itu lahir empat bintang,

Seperti diguratkan alam,

Dari empat mata angin

Menyusur jalan samurai

Menggenggam takdir cahaya

Mencari tujuan sejati

Seorang dengan tujuh bayang kematian;

Seorang bangsawan;

Seorang kakak ksatria;

Seorang mulia burukrupa.

Kekuatan tak terpemanai, wahai,

Pada siapa menaruh diri?

Empat cahaya di persimpang jalan

Merangkai angan dan dendam,

Harga diri dan cinta terpendam

Acuhkan kemelut kekuasaan yang

Selalu merupa lingkaran hitam

……

Bukan pada pusaka, akhirnya

Bukan pula nama dan bagaimana.

Setelah darah terlampaui samurai sejati menyala di hati

Cahayanya tak pernah mati.

sby012010

Iklan