Sewaktu saya membuat web : yudhiherwibowo.com, saya meminta kepada beberapa sahabat untuk mengomentari buku2 saya yang pernah dibaca.  Han Gagas, penulis buku Jejak Sunyi, adalah satu yang saya minta.

Kemarin, saat titik-titik hujan mulai datang di depan rumah saya, emailnya pun datang bersamaan…

Tiga  Novel Yudhi Herwibowo yang pernah saya baca:

Pertama, Novel Menuju Rumah Cinta-Mu adalah novel yang asyik. Memiliki plot yang matang, kuat, dan menegangkan. Membacanya seperti menonton sebuah film dengan latar yang dibangun dengan suasana yang meyakinkan. Novel yang tidak hanya enak dibaca tapi juga sangat bisa dinikmati. Tema percintaan juga digarap dengan serius. Bagi pembaca novel yang berpengalaman, saya yakin tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikan novel ini -hanya butuh waktu dua-tiga jam saja- dan benak kita akan menelusuri kisah-kisah yang menyenangkan sekaligus mengejutkan.

Kedua, Novel Perjalanan Menuju Cahaya

Novel yang kaya akan imajinasi dan dongeng. Sangat jarang penulis muda Indonesia bisa menembus batas kotak bayangangannya sendiri dan Yudhi mampu melakukannya dengan liar. Legenda-legenda/dongeng diramu dengan fakta daerah timur Indonesia. Membaca novel ini orang akan mengingatkan kembali pada kisah Deni Si Manusia Ikan yang begitu populer di masa saya anak-anak. Tak hanya itu akan ada kisah-kisah ajaib lain yang menghantarkan kita pada pengembaraan imajinasi yang luas dan mendebarkan.

Ketiga, Novel Pandaya Sriwijaya

Novel sejarah yang lulus dengan predikat sangat baik. Penggarapannya serius, dengan bahan yang lengkap dan mutakhir. Tokoh-tokoh dibangun dengan karakter yang pas. Narasi bakal membawa kita pergi ke dunia Sriwijaya dengan kapal-kapal yang agung, benteng yang kokoh, para pendekar yang melayang-layang di udara, intrik dan balas dendam, dan percintaan yang sunyi. Novel ini paling tebal tapi tidak membosankan. Kisah-kisah yang menegangkan dan misteri-misteri yang disembunyikan akan menyeret kita –tanpa disadari- untuk membaca halaman demi halaman hingga novel ini selesai. Saya ingin mengatakan bahwa novel ini memiliki informasi laiknya puzzle yang di depan terhubungkan dengan yang di tengah juga di belakang, dan sebaliknya semua saling terhubungkan sehingga jelas tak ada kalimat yang sia-sia. Ini adalah salah satu dari sedikit novel tebal karya anak negeri yang tanpa pemborosan kata di tengah-tengah kepungan novel anak muda kita yang sangat boros, penulisannya buruk dan kedodoran, dan membacanya hanya membuang waktu saja!

Han Gagas, penulis buku Jejak Sunyi

Iklan