Sebenarnya kabar ini sudah sampai beberapa hari yang lalu. Saya hanya baru sempat posting sekarang.

Semuanya berawal dari info ratih kumala tentang ubud writer 2010. kemudian saya mengirimkan 3 novel saya : lama fa, perjalanan menuju cahaya dan pandaya sriwijaya kepada panitia. pada proses selanjutnya panitia kemudian meminta @ 3 eks novel perjalanan menuju cahaya dan pandaya sriwijaya.

mungkin berkat 2 novel itulah, saya kemudian terpilih.

oya, kemudian untuk naskah yang akan dibikin antologi bersama peserta lainnya, panitia akan mencuplik dari novel  perjalanan menuju cahaya, bab 8 : perjalanan menuju manufui : sirkus para hantu

berikut press release dari panitia :

Selasa, 08 Juni 2010 10:44 WIB

DENPASAR–MI: Sebanyak 15 penulis Indonesia terpilih mengikuti perhelatan sastra tingkat dunia Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2010 yang akan berlangsung di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, Oktober mendatang.

Triyanto Triwikromo, salah satu dewan kurator UWRF 2010, dalam siaran persnya di Denpasar, Selasa (8/6), menyebutkan bahwa ke-15 penulis itu adalah, Kurnia Effendi (Jakarta), Medy Lukito (Jakarta), Nusya Kuswatin (Yogyakarta), Arif Riski (Padang). “Selain itu ada, Zelfeni Wimra (Padang), Wa Ode Wulan Ratna (Jakarta), Andha S (Padang), Imam Muhtarom (Blitar), Wendoko (Semarang), Yudhi Herwibowo (Solo), W. Hariyanto (Surabaya), Benny Arnas (Sumatera Selatan), Magriza Novita Syahti (Padang), Harry B Koriun (Riau), serta Hermawan Aksan (Bandung),” katanya.

Para sastrawan ini dipilih oleh Dewan Kurator UWRF 2010 dalam sidangnya pada awal Mei di Ubud. Dewan kurator terdiri dari penulis terkemuka, yakni Triyanto Triwikromo, penyair kondang Bali Cok Sawitri serta penulis muda Makassar M Aan Mansyur.

“Ada banyak alasan untuk memilih para penulis-penulis ini. Secara keseluruhan, mereka mencerminkan keberagaman daerah serta kantong-kantong kesusasteraan di Indonesia. Selain itu, juga mencerminkan keragaman genre, aliran, teman, dan kecenderungan kesusasteraan Indonesia,” katanya. Pemilihan mereka, katanya, juga mempresentasikan penghormatan UWRF 2010 pada upaya pemberdayaan perempuan, dan memajukan penulis-penulis muda berkualitas. Meskipun dewan kurator mempertimbangkan faktor-faktor tersebut di atas, namun Triyanto Triwikromo menegaskan bahwa kualitas karyalah yang menjadi faktor penentu terpilihnya para penulis tersebut. “Kurator tetap melihat kualitas teks sebagai tolok ukur tidak terbantahkan. Pilihan-pilihan bertolak dari prinsip-prinsip di luar kualitas teks tidak menjadi pertaruhan utama,” ujarnya. Sementara M Aan Mansyur menilai bahwa yang menarik dari karya-karya para penulis terpilih adalah keberagaman tema yang diusung. “Keberanian mereka, utamanya penulis-penulis muda usia, untuk mengangkat unsur-unsur lokalitas, utamanya dalam konteks sejarah-budaya ke dalam karya mereka adalah hal yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Keberanian mereka mengolah bahan-bahan dari akar budayanya, katanya, beberapa di antara mereka bahkan dengan lihai melompat ke budaya yang jauh dari akar mereka. Eksplorasi tema seperti ini menjadi penting dalam khazanah sastra Indonesia. “Apalagi jika ingin melihat sastra Indonesia di antara ragam sastra dunia,” ujarnya.

Proses seleksi tahun ini, menurut Community Development UWRF Kadek Purnami, jauh lebih berat dibandingkan proses seleksi tahun lalu. “Karena tahun ini kami menerima kiriman karya dari 105 penulis dari seluruh Indonesia. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat kiriman karya yang kami terima saat proses seleksi pada 2009,” ujarnya.

Karya-karya tersebut disaring terlebih dahulu melalui proses pre-kurasi yang dilakukan oleh koordinator program Indonesia UWRF 2010. Karya dari 40 penulis berhasil lolos melewati tahap ini. Karya-karya yang lolos saringan inilah yang kemudian diseleksi oleh Dewan Kurator. Para penulis terpilih ini akan dibiayai untuk datang ke Bali dan tampil dalam festival. Selain itu, karya-karya mereka akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris untuk kemudian diterbitkan dalam antologi festival 2010.

Selama ini, UWRF telah menerbitkan dua antologi karya-karya para penulis Indonesia, yaitu Reasons for Harmony pada 2008 dan antologi bilingual Suka-Duka: Compassion and Solidarity pada 2009. Menurut dia, seluruh proses seleksi, partisipasi serta penerbitan antologi para penulis Indonesia merupakan kerja bersama UWRF dengan HiVos, sebuah organisasi global yang memperjuangkan terbentuknya masyarakat sipil-demokratis di berbagai belahan dunia. UWRF pertama kali diselenggarakan pada 2004 sebagai respon kultural untuk mendorong pemulihan Bali sesudah terjadinya Bom Bali pada 2002. Festival tahunan ini kemudian berkembang menjadi salah satu festival sastra terbesar di Asia. Beberapa tahun belakangan ini, UWRF berupaya keras menjadi wahana bagi para penulis muda Indonesia untuk memperkenalkan karya-karyanya di panggung internasional. UWRF 2010 akan berlangsung 6-10 Oktober dan mengusung tema besar Bhinneka Tunggal Ika: Harmony in Diversity. Selama berlangsungnya festival, para penulis Indonesia akan berkesempatan untuk berdialog dengan sejumlah penulis terkemuka asing, seperti Louis de Bernieres. Louis de Bernieres adalah novelis Inggris yang karyanya Captain Corelli’s Mandolin memenangkan anugrah buku terbaik Commonwealth Writers Prize, diterjemahkan ke 11 bahasa dan telah difilmkan pada 2001 dengan bintang utama Nicholas Cage. (Ant/rj/OL-5)

http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2010/06/08/147650/92/14/15_Penulis_Indonesia_Lolos_Seleksi_Ubud_Writers_Festival

Iklan