Akhirnya.. saya akan segera menepati janji ni untuk cerita hasil membaca Seven Samurai 🙂

*meski mungkin tidak detail sekali ya?*

Here it is..

Gambaran yang saya dapatkan seperti menonton beberapa film2 heroik umumnya, dan film2 Jepang khususnya *baik terdahulu maupun terkini*.

Setting-nya juga tidak terlalu asing.. *mengingat saya yang hobi baca komik*

Bukan tema baru.. tetapi tetap menarik.. 😀

*sepertinya penulis akrab sekali dengan tema cerita & setting cerita seperti ini ya..*

Kembali ke novel..

Tokoh yang segera menarik perhatian saya adalah.. Yamahara Shou.. karakternya khas sekali.. samurai, “dingin”, terlibat asmara dengan “tuan”-nya 🙂

Una Aya & Kawabata Ayumi.. pun.. khas.. 🙂 wanita penakluk hati samurai 😀

Kisah asmara kedua/ketiganya.. lagi2 khas cerita film2 samurai/ninja..

Tapi yang menarik & jadi poin buat saya adalah..

Satu.. membaca novel ini seperti kembali kepada tuntunan bahasa indonesia baku 🙂 cukup menyenangkan..

*mengingat saya belakangan banyak membaca novel2 modern dengan gaya yang lebih bebas dan berbahasa campur2..*

Iya, selalu kembali menyenangkan jika kita bisa kembali ke hal2 yang serba teratur.. ya itu.. seperti bahasa Indonesia baku.. gaya penulisan “indah” 🙂

Poin kedua.. saya bisa belajar tentang kesetiaan & pilihan hidup. Keduanya.. antara lain.. bisa ditemukan pada apa yang ditunjukkan Aya pada Shou..

Kesetiaan Aya menunggu Shou.. berjuang melawan ketakutan & kekuatirannya sendiri dalam penantian itu.

Pilihan Aya untuk melanjutkan hidup dengan melupakan kesetiaan itu *entah apakah ini bisa dikatakan Aya menyerah pada ketakutannya sendiri?? Karena dia wanita?? *, memilih menikah dengan Kawabata Inoe dari Benteng Bintang Merah, dan berputrikan Ayumi.

Poin ketiga.. pengendalian alur ceritanya boleh juga 🙂

Masa berjalan..

Flashback..

*apakah ini pun akan dibuatkan skenario film-nya??*

Overall.. not bad 🙂

Apakah novel ini ditujukan untuk sekedar menghibur??

Wah, jangan 😀 ini pun bisa untuk belajar..

http://kuke.wordpress.com/2008/05/20/seven-samurai-hikozza/