merupakan buku kumcer dewasa pertama saya. berisi kisah-kisah paling saya sukai yang sudah pernah saya tulis. dan hampir semuanya sudah pernah dipublikasikan di media…

1 K O F A

Kofa pernah menjadi sangat indah. Dulu, dulu sekali…

2 A M E L A – A M E L I

Keberadaanku mungkin tinggal menunggu waktu! Aku merasa mungkin malam ini…

3 LAMA FA

Maafkan aku, Papa, Mungkin sebentar lagi aku akan mati…

4 KISAH SI UMAR PENGKOR

Namun berita terakhir yang didengarnya sebelum meninggalkan Blitar, tentara ternyata sudah menemukan ruba-ruba tempat persembunyian PKI!

5 BAYI BABOA

“Dari dulu ada kepercayaan bila bayi yang baru lahir di datangi ular baboa, ia akan menjadi anak yang jahat, Dokter! Durhaka pada orang tua, dan akan banyak menyakiti orang-orang sekitarnya…”

6 KERIS KYAI SETAN KOBER

Tawa-tawa mereka bergaung panjang membentuk gema. Bahkan tak hanya sampai di situ, di puncak-puncak kematian lainnya, aku seperti dapat mendengar suara-suara mereka yang tak jelas…

Bunuuuh! Bunuuuh! Bunuuuh! Tetaaaak! Tetaaaak! Tetaaaak!

7 E K S E K U S I

Ia merasakan rontaan istrinya ketika awal-awalnya ia menghujani pisau itu. Tatapan mata itu dan cengkraman kuku-kuku istrinya di tangan dan dadanya. Ia sangat sadar saat itu!

8 ANA BAKKA

“Ana Bakka tidak jahat!” bisiknya, ”Mamae yang jahat!” belum sempat ia berkata lebih jauh, seseorang, mungkin ibunya, menariknya dan membawanya menjauh dari kami…

9 ANAK NEMANG KAWI

“Dari mana kau?” teriak salah seorang dari mereka dengan golok di tangan, sementara orang-orang yang ada di belakangnya membidikkan anak pada ke arah beta. “Dani, Damal atau Amungbe?”

10 Bayang pada tempayan penuh air, cermin retak,

langit-langit kamar, rumah kosong penuh debu, dan

epitah yang patah

Lalu kulihat kau menjulurkan tangan, seakan ingin menggapaiku. Aku tertegun. Sesaat muncul keraguan untuk tak melakukan apapun. Aku tak ingin lagi kau kembali menghilang, seperti kejadian dulu. Aku sudah begitu lelah menunggumu. Namun senyummu seakan menyakinkanku, sepertinya ia berucap, “Kemarilah, ikutlah bersamaku…”

11 UTUSAN TANAH MATI

Di samping rumah, kulihat beberapa bambu runcing, tombak dan golok, yang disediakan Pak Harjo. “Untuk berjaga-jaga,” ujarnya pendek.

12 MATA AIR AIR MATA KUMARI

“Ia pantas mati! Ialah yang telah memurukkan dewi kami ke dalam nista!” Lalu suara tawa terdengar. Dan selepas itu, hanya sepengedipan mata, tombak di salah satu tangan lelaki itu, sudah melayang tajam… menembus lehermu!

13 CERITA TENTANG TIKU

Aku merasa dulu imajinasiku penuh dengan cerita-ceritanya. Semuanya mengendap diotakku dengan baik. Aku sebenarnya ingin sekali bisa menceritakan pada kawan-kawanku. Tapi siapa yang akan mendengarnya? Bukankah mereka menganggapnya si panipu?

14 DUA MATA PERAK

Ia tak menjawab. Namun dua mata peraknya yang kemudian menjawab. Aku bergidik. Tubuhku menggigil. Tapi sungguh, kali ini dua mata perak itu semakin jelas membayangkannya. Di situ samar-samar aku melihat Aritha, dengan mata sembabnya, mendorong tubuh laki-laki itu ke arah sumur…

Iklan