Pengarang menekuni kerja sastra dengan peka kata dan cerita. Peka kata dan cerita ini diperkarakan dalam pertaruhan kualitatif. Pengarang tak sekadar belanja kata dan cerita melalui transaksi ekonomis-instrumentalis. Transaksi-estetis terbentuk dari kesadaran meladeni realitas dengan antusiasme imajinasi. Olahan dalam bahasa menjadi lahan “pertarungan” untuk menjelmakan cerita. Kata diproduksi untuk menempuhi jalan panjang dan menata diri dalam konstruksi jagat pengarang.

Peka. Inilah ungkapan mengena mengenai sosok pengarang dalam buku cerita Mata Air Air Mata Kumari. Pengarang menempatkan diri sebagai produsen tapi sadar mekanisme penghadiran cerita. Peka merupakan modal melakukan serapan dan internalisasi segala sumber cerita. Peka terbentuk dari pergulatan riil dan kematangan “memasak” imajinasi. Peka lahiriah-batiniah bukan sekadar perkara pembedaan kadar dan intensitas tapi perhitungan pelik untuk negasi dan afirmasi atas nama keberimanan pengarang.

Publik mungkin mafhum peka adalah takdir pengarang. Takdir dalam pengertian normatif mengandung pembakuan tentang keterbukaan diri melihat dan meraih realitas dalam diri. Pendefinisian ini mesti dicairkan saat melihat antusiasme pengarang memberi kalkulasi kuantitatif dan kualitatif. Peka dalam keberimanan pengarang pun bisa menjelma sebagai naluri untuk mencipta atau menghancurkan cerita. Takdir pengarang jadi urusan integrasi disintegrasi dalam prosedur mengolah dan melahirkan cerita.

Buku Mata Air Mata Air Kumari ini merupakan bukti keberimanan pengarang dalam mengungkap kepekaan. Pengungkapan memerlukan kerja kata untuk menggapai makna. Kerja kata jadi eksplisitas dari kesuntukan pengarang menantang diri demi cerita. Pamrih ini mengesankan ada penampikkan pamrih murahan: menjajakan cerita. Peka dalam urusan komunikasi penceritaan dengan pembaca jadi “misi suci” membuka jalan intimitas menembus lorong-lorong bahasa. Perjalanan melalui cerita memberi sentuhan-sentuhan menguak tabir cerita.

*****

Cerpen “Kofa” mirip suguhan teh hangat saat memosisikan diri sebagai tamu di rumah cerita. Teh ini mengepulkan kata dan membumbungkan imajinasi. Resepsi atas cerita adalah urusan pembaca seperti kemauan menata tubuh saat duduk di kursi dan mencecap teh. Sensasi mungkin merasuk tapi peka inderawi lekas terlampaui oleh godaan imajinasi. Model suguhan ini memicu pembaca melonggarkan diri untuk menerima “jejalan” imajinasi. Prosedur mengonsumsi pun membuat penikmat sadar batas. Transaksi imajinasi lekas terjadi dengan hukum negasi-afirmasi. Keberimanan pengarang diladeni oleh keberimanan pembaca.

Prolog cerpen “Kofa” memikat. Pengarang membabarkan aroma historis sebagai sejenis peta perjalanan cerita. Ramuan historis ini impresif karena diacukan pada lokalitas. Pembaca dengan latar dan ideologi kota mungkin terlintas gagasan geografis melalui paparan: “…dusun kecil di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, …” Pembaca pun disodori pikat eksotis mengenai lokal cerita: “… di empat penjuru dusun, di empat celah bukit karang dan di empat jalan masuk, ada empat mata air yang terus mengalir.” Inilah godaan resepsi pembaca saat mencurigai kepekaan pengarang.

Sensasi cerita ini bakal membuat kesan-kesan imajinatif. Pengarang tidak mengusung data-data atau laporan ala penelitian ilmiah atau kerja birokrasi. Pengisahan lokal cerita justru disesaki oleh serbuan imajinasi untuk membuat pembaca merasakan kehadiran diri dalam cerita. Serapan inderawi ikut menentukan kualitas merayakan imajinasi. Pengarang fasih menngisahkan: “Dulu, dulu sekali, mungkin hampir semua penduduk Kofa bertanya ada apa dengan Tuhan hari itu? Mengapa saat ia menciptakan hujan, malah tetesan debu yang jatuh? Itu pun tak jatuh sepenuhnya, tapi terus beterbangan tak menentu, seakan ribuan serangga yang beterbangan tanpa arah. Menabrak apa pun yang dilaluinya, menenggelamkan mata. Dusun-dusun lainnya, yang ada di sebelah Kofa, bahkan dapat melihat lebih dari 10 meter dari permukaan tanah debu-debu itu bergulung-gulung, menutupi seluruh Kofa. Mematikan Kofa hari itu!”

Pilihan lokal cerita pun terasakan dalam cerpen “Ana Bakka.” Pengarang seolah ingin memberi aksentuasi tentang peka kata dan peka cerita mengacu pada ketelatenan menggarap realitas dalam remang imajinasi. Lokal cerita masih memberi tarikan resepsi pembaca pada geografi-cerita memikat. Pengarang memang terkesan memiliki kadar intimitas dengan lokal-lokal cerita ini tanpa memerlukan panduan ala “pengarang-turis.” Kepekaan masih mengena dalam pengisahan-inderawi untuk menggapai imajinasi. Simaklah aliena pembuka: “Perjalanan ke desa Mafat-to dari Kupang butuh waktu tiga jam dengan mobil. Itu pun bila mobil dikendarai oleh sopir yang sudah sangat berpengalaman. Jalanan daerah Kupang bagian timur ini memang lebih terjal dari daerah mana pun. Dan bisa dikatakan juga paling berbahaya. Padahal ini merupakan jalan satu-satunya ke Timor Leste. Tapi, lebarnya mungkin tak lebih dari 5 meter, dengan satu sisinya jurang terjal.” Pembacaan sesaat mungkin menyentil pembaca untuk membuat perbandingan tentang kualitas deskripsi ini dengan jenis tulisan jurnalistik atau antropologi-etnografi. Data ada tapi tak menguasai kesan-kesan imajinatif. Kualitas kepekaan pengarang dalam cerpen “Ana Bakka” tampak tergoda sebagai model penjelasan ketimbang kematangan menguak percik-percik imajinasi dalam cerpen “Kofa.” Perbedaan ini mungkin biasa tapi bakal terasakan sebagai fluktuasi kepekaan pengarang karena dua cerpen itu memilih jalan imajinasi menuruti jagat konflik. Kepekaan lokal cerita diimbuhi dengan jurus pengarang menggarap konflik tokoh. Konflik dalam “Kofa” kentara sebagai konflik-dalam dan cerpen “Ana Bakka” sebagai konflik-luar. Pilihan jalan berbeda ini mengandung konsekuensi untuk suguhan peka kata dan peka cerita. Cerpen “Kofa” menginginkan konstruksi cerita menarik tanya dan cerpen “Anna Bakka” justru sebagai penjelasan terbuka.

*****

Kisah-kisah kecil memikat pun terasakan saat pembaca melakukan peziarahan ke lokal-lokal di Nusantara. Cerpen “Bayi Baboa” adalah kemauan pengarang membuat peta untuk pembaca merasai sebuah tempat di Nusa Tenggara Timur. Gambaran geografis mencerminkan naluri dan kepekaan mengakrabkan pembaca dalam kesadaran latar-tempat. Pengarang fasih mengabarkan: “Rimolaka adalah adalah kota kecil yang ada sekitar 50 km sebelah utara kota Ende, Nusa Tenggara Timur …. Rimolaka sendiri merupakan kota kecil yang indah. Keadaannya tak jauh berbeda dari Kupang, yang menjadi ibukota Nusa Tenggara Timur. Jalanan yang turun naik, bougenville yang sepertinya tumbuh di mana-mana, dan angin yang menerpa kencang di wajah. Benar-benar mengingatkanku pada Kupang. Hanya mungkin Rimolaka lebih kecil, dan jalan-jalannya tidak selebar Kupang.”

Pengarang tampak hendak memberi dalil pada pembaca: “Peka tempat adalah modal pengarang.” Dalil ini mengesankan anutan realisme tapi pengarang justru membalut kisah dalam remang nalar lokalitas. Cerpen “Bayi Baboa” memang khas dalam tarikan latar-tempat. Pengarang mengimbuhi itu dengan garapan kisah ganjil tentang relasi bayi dan ular baboa dalam tradisi di Simolaka. Realisme memecah saat penghadiran konflik dan peristiwa justru membuat kesan tempat sekadar menjadi instrumen. Pengarang memilih subjek cerita untuk membuat sapaan-sapaan impresif ketimbang pemanjaan pada deskripsi alam atau laporan geografi.

Cerpen “Lama Fa” bisa dinobatkan sebagai sejenis makanan alot tapi merangsang gairah imajinasi. Pengarang membuat konstruki cerita dengan pengaturan alur dan porsi karakterisasi penuh perhitungan. Cerita ini memang alot untuk membuat pembaca lekas mengusap mulut atau menenggak minuman. Kisah seorang juru tikam paus (lama fa) di Nusa Tenggara Timur ini memberi pikat pada pertaruhan harga diri dan kesanggupan meladeni godaan kematian. Pengentalan ketegangan dalam peristiwa penangkapan paus dan lakon di balik segala laku ekonom-lokal. Ritus dan kisah keluarga mengesankan cerpen “Lama Fa” bergerak menuju ke segala penjuru dan kembali pada proses pemartabatan manusia dalam anutan tradisi di kalangan lama fa. Kelelakian dihadapkan pada keberimanan dalam acuan agama, tradisi, dan rasionalitas. Cerpen “Lama Fa” mirip rasa pedas dicampuri gula dan garam sebagai penyengat rasa.

*****

Ziarah sejarah ala pengarang juga memberi impresi imajinatif. Cerpen-cerpen dengan tarikan historis dalam cerpen dengan lokal Indonesia bagian timur diimbuhi dengan peka sejarah dalam latar Jawa. Garapan cerpen “Keris Kyai Setan Kober” membuktikan kerja keras pengarang mencari posisi pengisahan tentang fragmen tragis dalam kekuasaan Jawa. Pengarang sadar waktu dan ruang. Pengarang pun peka tafsir peristiwa. Fragmen dengan gelimang tafsir itu diladeni pengarang dengan posisi ganjil alias bergerak menghindari pembakuan karakter tokoh. Pengisahan justru digerakkan dari sebilah keris.

Pilihan ini menantang untuk eksplorasi nilai tanpa jebakan hitam dan putih untuk mendefinisikan tokoh. Keberpihakan memang bakal terasa tapi tidak vulgar karena “intervensi” pengarang tidak membuat tokoh sebagai “boneka.” Pola pengisahan dari peziarahan sejarah ini ikut menentukan martabat pengarang saat ingin menyapa pembaca. Kualitas ketegangan dalam cerpen “Keris Kyai Setan Kober” mungkin paling terasa karena keluwesan pengarang mendeskripsikan peristiwa. Cerpen jadi ruang peristiwa. Peka peristiwa ini merupakan modal besar pengarang dalam menjalin komunikasi dengan pembaca melalui “kontrak estetis.”

Cerpen ini memukau dalam olahan emosional untuk merefleksikan tokoh-tokoh dalam peristiwa sejarah. Penghadiran peristiwa-peristiwa memang mendominasi tapi memberi jalan pengenalan bagi pembaca untuk menelisik fluktuasi emosional tokoh. Pengarang tidak menjinakkan diri pada stereotipe perwatakan tokoh dalam lembaran-lembaran sejarah dan anggapan umum. Kesanggupan menggarap fragmen sejarah dalam kekuasaan Jawa ini juga membuktikan ketelatenan untuk membuka diri pada asupan dari pelbagai sumber sejarah lokal. Cerpen telah menunaikan tugas menafsirkan sejarah dan jagat kata telah dipersembahkan untuk membuka transaksi dengan kepekaan pembaca.

Penggalan sejarah mutakhir didokumentasikan dalam cerpen “Kisah si Umar Pengkor.” Pergolakan 1965 dijadikan acuan untuk memberi gambaran gelisah tokoh dan kesaksian individual dalam godaan pembakuan memori publik. Pengarang memilih tempat cerita di Blitar (Jawa Timur). Gambaran geografis dalam cerpen ini tersebar alias tidak terkumpulkan ala cerpen-cerpen lain sebagai pengantar cerita. Pengarang terkesan luwes menempatkan perihal geografi dalam aline-alinea menegangkan bergantung pada intensitas emosional tokoh saat mengalami atau menyaksikan peristiwa. Sikap pengarang tak mau surut dalam kerangka politis karena kualitas emosional kemanusiaan cenderung diajukan untuk tidak lekas membaca sejarah secara hitam dan putih. Humanitas jadi fondasi untuk mengintervensi penggalan peristiwa dalam kesaksian individual si tokoh tanpa harus ditaklukan oleh kontroversi.

*****

Petualangan cerita dalam buku ini membuat pembaca mungkin menemukan model identifikasi terhadap otoritas kepengarangan dalam mengantarkan pembaca pada pelbagai tempat. Pengarang tidak seperti tukang cerita di atas tikar lembut atau kursi empuk. Mobilitas imajinasi membuat pengarang sanggup membuat peta (geografi) cerita di segala penjuru negeri. Cerpen “Anak Kemang Kawi” memakai latar Papua. Cerpen “Cerita tentang Tiku” bergerak di Pulau Timor dan Kupang (Nusa Tenggara Timur). Cerpen “Mata Air Air Mata Kumari” mengisahkan lokalitas di Nepal. Peta konflik juga mengesankan dalam cerpen “Dua Mata Perak”, “Amela – Ameli”, “Eksekusi”, “Utusan Tanah Mati”, dan “Bayang pada Tempayan Penuh Air, Cermin Retak, Langit-langit Kamar, Rumah Kosong Penuh Debu, dan Epitaf yang Patah.”

Buku Mata Air Air Mata Kumari ini merupakan persembahan keberimanan pengarang dalam menekuni dan menghidupi cerita untuk menautkan diri dengan pembaca dalam sekian “transaksi-estetis.” Buku ini tidak sekadar suguhan kata di atas lembaran kertas. Buku Mata Air Air Mata Kumari menantang peziarahan imajinasi-lokalitas dan penelisikan diri manusia melalui pelbagai peristiwa. Kefasihan menuliskan kepekaan tempat (geografi) juga mengesankan kerja kepengarangan sadar dalam lintas batas imajinasi kultural-lokalitas. Keberimanan pengarang menjelma sapaan intim untuk pembaca memasuki jagat cerita. Begitu.

*****

Iklan