Saya jadi ingat dengan resensi cerpen saya Mata Air Air Mata Kumari oleh Haris Firdaus, yang pernah dimuat dalam edisi Pawon khusus: CERPEN & APRESIASI sekitar beberapa bulan yang lalu. Berikut isinya:

Mendurhakai Tradisi, Membebaskan Manusia
(Tentang Cerpen “Mata Air Air Mata Kumari”)
Resensi: Haris Firdaus

/1/
Salah satu “takdir” paling purba sekaligus barangkali paling kekal bagi sastra modern adalah kecenderungannya untuk senantiasa mendurhakai tradisi, istiadat sosial, atau nilai-nilai kemasyarakatan yang kadangkala diterima secara banal oleh manusia. Sebagai ragam teks yang terlanjur dicap sebagai semacam “teror yang mengguncangkan” ketimbang “doktrin yang meneguhkan”, sastra memang seringkali hadir dalam bentuknya yang frontal berhadapan dengan kenormalan di sekitar manusia.
Selain itu, sebagai anak kandung dari pola pikir modern yang memosisikan manusia sebagai pusat, sastra modern cukup kerap datang dengan tendensi untuk membela manusia—terutama unsur-unsur tertentu dari manusia yang dianggap “manusiawi”. Berhadapan dengan kekuatan eksternal yang menimpa manusia semenjak lahir, sastra modern sering tak berpikir dua kali untuk mengambil posisi di mana mesti memihak.
Jadilah kita melihat deretan karya sastra di hadapan kita yang dengan senang dan riang gembira berusaha melawan norma sosial, tradisi kemasyarakatan, atau kuasa eksternal apapun yang hendak mengurung manusia. Karya sastra kerap menjadi ruang di mana manusia dibebaskan dari belenggu tradisi, agama, normalitas sosial, dan lain sebagainya. Cuma, pembebasan yang dilakukan sastra tentu saja bukan pembebasan ala heroisme jadul yang selalu memberi kemenangan pada pihak protagonis secara mudah di akhir cerita.
Jika heroisme klasik terlalu gampang menafsirkan “pembebasan manusia”, sastra modern hendak menempuh jalan interpretasi yang jauh lebih kompleks. Seandainya memang harus ada pembebasan manusia dalam karya sastra, kebanyakan sastrawan yang sadar estetika tak akan gampangan mengurai “pembebasan” itu menjadi kisah sederhana ala dua kekasih yang terpisah di awal lalu bertemu dan hidup bahagia selamanya saat cerita ditutup.
Pembebasan manusia dalam karya sastra yang baik, selalu melahirkan pertanyaan yang menggelisahkan ketimbang rasa puas karena melihat kebahagiaan yang dangkal dari sepasang pecinta.

/2/
Kisah pendek Yudhi Herwibowo yang berjudul “Mata Air Air Mata Kumari” bisa menjadi contoh bagaimana sastra hendak melakukan “pembebasan manusia” dan “mendurhakai tradisi”. Cerpen yang mengambil inspirasi dari sebuah tradisi yang hingga kini masih dihidupi di Nepal itu, terutama hendak menyampaikan pada kita bahwa kurungan kuasa di luar manusia bisa menjadi kekuatan yang rentan jika berhadapan dengan manusia yang memiliki keteguhan.
Dikisahkan dalam cerita itu, seorang anak perempuan yang terpilih menjadi Kumari—atau Dewi Perawan—oleh Istana Nepal harus menanggung kesedihan karena ia tak bisa—atau tak mau?—mengikuti tertib yang telah digariskan pihak istana. Dari cerpen itu, kita tahu bahwa tiap jangka waktu tertentu Istana Nepal selalu memilih gadis cilik—berdasar hari lahir dan kesempurnaan fisik yang dimiliki sang anak—sebagai Kumari yang bertugas memberi berkah pada masyarakat setempat. Sejak dipilih sampai dengan masa menstruasi pertamanya tiba—saat di mana tugasnya sebagai Dewi Perawan usai—seorang Kumari mesti menaati tata yang ditimpakan kepadanya.
Sang tokoh dalam cerita Yudhi adalah seorang Kumari yang kemudian jatuh cinta pada seorang laki-laki dan kemudian melakukan hubungan seksual sampai hamil. Dengan kehamilannya—atau mungkin karena kecintaannya pada laki-laki?—tentu saja Kumari itu telah jatuh dalam dosa. Lihat bagaimana Yudhi memainkan paradoks dengan cantik: seorang Dewi Perawan yang bertugas memberi berkah—dan tentu saja harus menjaga agar selaput daranya tak robek!—kini telah kehilangan keperawanannya. Bersama status perawannya yang hilang, statusnya sebagai Kumari pun gugur sudah.
Dengan berangkat dari penjelasan ini, kita tahu ke mana cerita ini melangkah. Sang mantan dewi ini pastilah akan dikucilkan atau menerima hukuman yang lebih keji. Barangkali, ia akhirnya melarikan diri sehingga sampai di sebuah perbukitan yang amat sunyi dan berteman dengan angin yang mencintainya.
Tapi, cerita Yudhi tidaklah selinier eksplanasi yang telah saya sampaikan. “Mata Air Air Mata Kumari” justru dimulai dari adegan ketika sang mantan dewi ini menangis di perbukitan Bakhtapur yang sepi dan gersang. Dan, yang membikin kisah ini bertambah kompleks, Yudhi memilih sosok unik sebagai pencerita: “seorang” atau barangkali “sebuah” angin. Ya, sudut pandang yang dipakai dalam kisah ini adalah orang pertama tunggal, tapi bukan Kumari yang dipilih Yudhi sebagai narator.—seandainya begitu, cerita pasti akan gampang ditebak.
Anginlah yang dipilih sebagai narator dalam kisah itu—mari kita sebut si narator itu “sang angin”. Dengan teknik personifikasi—memberi sifat-sifat manusia yang hidup, berdarah-daging, dan berperasaan pada benda-benda yang kita anggap mati—Yudhi menghidupkan sebuah angin yang sedang melintas di bukit Bakhtapur sebagai pengkisah. Angin itu hadir sebagai pengamat yang tekun, semacam saksi bagi kisah hidup sang mantan Kumari yang tengah hamil.
Dengan teknik tutur yang amat lembut, sedikit mendayu, dan cenderung feminin, sang angin mengungkapkan solilukui perasaannya tatkala melihat perempuan jelita tiba di bukit dengan tubuh penuh luka dan baju yang koyak. Sang angin, terdorong oleh kepekaan perasaannya barangkali, akhirnya merasa kasihan pada sang perempuan. Tapi, apalah dayanya sebagai angin? Pada akhirnya, posisinya di kisah itu tetaplah tinggal sebagai penonton yang mengisahkan kembali pada kita para pembaca.
Berturut-turut setelah rasa kasihan sang angin disampaikan, cerita bergerak ke kenyataan bahwa air mata yang dikeluarkan sang perempuan itu secara terus-menerus ternyata amat banyak sehingga akhirnya menjelma menjadi semacam mata air yang mengaliri sebuah desa. Pada satu titik, sejumlah penduduk desa yang heran sekaligus takjub pada munculnya mata air dadakan itu, pergi menelusuri aliran mata air sampai ke hulunya.
Akhirnya, ketika para penduduk sampai ke bukit di mana sang perempuan mantan Kumari itu tengah menangis, klimaks pun muncul: para penduduk yang mengenali sang gadis, kemudian marah karena si wanita yang dulu Kumari itu telah bercinta sampai hamil—dan ini berarti, mengambil kata-kata seorang pemimpin penduduk desa dalam kisah itu, “memurukkan dewi kami ke dalam nista”. Setelah dialog-dialog yang menjelaskan masa lalu sehingga kisah ini menjadi amat terang, para penduduk ramai-ramai mengeroyok sang perempuan sampai tewas. Beberapa saat setelah mantan Kumari itu tewas, bayi di perutnya lahir.
Lalu kisah seolah berulang: bayi yang dilahirkan mantan Kumari itu menangis terus-menerus sampai sedemikian rupa sehingga membentuk mata air baru yang kembali mengaliri desa dari para penduduk yang menewaskan perempuan mantan dewi itu. Sampai di sini, cerita diakhiri ketika sang angin sebagai penyaksi memutuskan meninggalkan Bakhtapur dan memilih bersekutu dengan angin yang lain—secara terbuka, sang angin mengaku takut jika mesti melihat para penduduk yang penasaran dengan mata air baru itu kemudian naik ke bukit dan menemukan sang bayi yang menangis.

/3/
Saya kira, kita semua paham bahwa dalam sastra yang kita anggap paling realis sekalipun selalu terselip kemungkinan bagi keberadaan metafora. Dalam kisah pendek Yudhi yang saya bahas tadi, kita pun maklum bahwa perubahan air mata menjadi mata air adalah sebentuk metafora. Moral kisah yang hendak disampaikan, barangkali, adalah bahwa pihak yang dianggap sebagai nista atau najis berdasar kategori nilai tertentu justru bisa menjadi sosok yang menghadirkan manfaat pada mereka yang menganggapnya najis.
Walaupun kenyataan semacam ini mungkin—dan memang itulah yang terjadi dalam cerita pendek Yudhi—tapi kita tak bisa mengharapkan akan ada semacam terima kasih dari orang-orang yang terlanjur menganggap perempuan mantan Kumari itu sebagai nista yang tanpa ampun. Meski faktanya mereka memanfaatkan air mata Kumari guna mencukupi kebutuhan sehari-hari, pandangan mereka pada Kumari tak berubah. Dan kita tahu bagaimana akhir cerpen “Mata Air Air Mata Kumari” yang tragis itu.
Ketragisan yang dihadirkan sebagai penutup cerita pendek itu bukan berarti bahwa pembebasan manusia yang saya sebut ada dalam kisah ini menjadi gagal. Sama sekali bukan demikian. Sebab, seperti yang telah saya katakan di awal tadi, pembebasan manusia tak selalu diakhiri dengan semacam kemenangan yang menjadikan hidup terlihat amat mudah sekaligus indah.
Pemberontakan terhadap kuasa di luar diri manusia yang seringkali dianggap mengurung, tak mesti diselesaikan dengan sebentuk kemenangan yang dipaksakan di pihak “subjek-manusia-pemberontak”. Sebuah kisah yang justru memilih menyampaikan ketragisan juga punya kemungkinan menyuarakan pemberontakan—kadangkala strategi macam ini justru lebih mengena. Sebab, dalam kenyataan yang kita jumpai sehari-hari, pemberontakan seseorang terhadap kekuatan sosial yang mengelilinginya acapkali juga gagal. Ketragisan yang dihadirkan dalam kisah pendek Yudhi, bagaimanapun, akan lebih mudah kita cari padanannya dalam hidup kita sehari-hari yang berdarah serta berdaging.

Sukoharjo, 12 Februari 2009

Haris Firdaus
Seorang esais muda, masih tercatat sebagai mahasiswa FISIP UNS. Aktif dalam blog Dunia Mimpi dan penulis buku Misteri-misteri Terbesar Indonesia vol. 1 dan vol. 2. Kini merupakan wartawan Gatra.

Iklan