Saya bagai daun kering yang terbang ke tanah itu. Tanah basah beraroma samar wangi kamboja, yang biasa tergeletak menjadi banten  di depan patung-patung yang ada di setiap pintu masuk rumah. Walau saya sudah berkali-kali mampir di Denpasar, tapi ini adalah kali pertama saya tiba di Ubud. Menjejakkan tanah beriringan dengan angin, yang rasanya sedikit berbeda dari angin lainnya, untuk datang di undangan Ubud Writers & Readers Festival 2010 (UWRF 2010).

Festival yang selama ini hanya saya dengar gaungnya ini, kali ini mengambil tema Bhinneka Tunggal Ika: Harmony in Diversity, dan dihadiri oleh penulis-penulis dari China, Malta, Palestine, Israel, Lebanon, India, Pakistan, Sri Lanka, Burma, Vietnam, Malaysia, Singapura, Prancis, Bosnia, Turki, Afrika Selatan, Australia, Inggris, Irlandia, Amerika dan Canada, serta dari kepulauan Indonesia sendiri.

UWRF 2010 adalah sebuah kegiatan yang diusung Yayasan Mudra Swari Saraswati, yang di luncurkan pertama kali oleh Janet De Neefe, sebagai upaya menyembuhkan Bali akibat bom Bali I. Festival ini dimulai pertama kali sejak tahun 2004 dan telah dihadiri ribuan penulis hingga saat ini.

UWRF merupakan festival terbesar di Indonesia, bahkan dalam brosur yang saya baca UWRF merupakan festival terbesar nomor 3 di Asia. Maka itulah saya merasa beruntung bisa bersama 14 penulis Indonesia lainnya berada di sana. Selain saya ada Kurnia Efendi, Medy Loekito, Nusya Kuswatin, Hermawan Aksan, Wendoko, Benny Arnas, Imam Muhtarom, Hary B. Koriun, Iwan Darmawan, Magriza Novita Syahti, Ni Made Purnamasari, Arif Rizki, Andha S., Zelfeni Wimra, dan W. Hariyatno adalah rekan-rekan saya yang terpilih dari ratusan pelamar yang dikuratori oleh Triyanto Triwikromo, Cok Sawitri dan Aan Mansyur.

Selain kami, acara yang digelar selama 6 hari itu sejak 5–11 Oktober 2010 ini juga mengundang penulis Indonesia lainnya seperti Dewi Lestari, Sunaryono Basuki KS, Toenggoel Siagian, Sosiawan Leak, Debra Yatim, Noor Huda Ismail, dan beberapa penulis lainnya.

Program-program Acara

Di sepanjang jalan, aroma UWRF 2010 sudah begitu terasa, bahkan ketika saya belum benar-benar sampai di Ubud sekali pun. Poster-poster berukuran raksasa dengan warna biru tua, seperti menyambut saya sepanjang jalan.

Dari buku panduan yang saya dapat, baru saya tahu kalau lebih dari seratus acara akan digelar di festival ini. Setiap acara berdurasi antara 1/2 jam sampai 2 jam, di beberapa tempat yang berbeda. Alhasil tak akan ada dari kami yang dapat mengikuti semua acara. Kami harus pandai-panda memilih, mana yang acara lebih kami sukai dibanding acara yang lain.

Untunglah ketiga tempat utama itu tidaklah terlalu jauh. Sehingga kami bisa melaluinya dengan berjalan. Ketiga tempat utama itu ada di sepanjang jalan Raya Sanggingan. Neka Art Museum, Indus Restaurant dan CitiBank Lounge. Namun selain ketiga tempat ini, yang sejak jam 09.00 sampai jam 18.00 selalu diisi acara, ada juga tempat-tempat pendukung lainnya seperti Anhera, Casa Luna, Bali Wood, Pondok Pekak, STIBA Denpasar, bahkan Universitas Udayana, juga digunakan untuk workshop dan launching buku.

Sepanjang siang hingga sore kami akan disuguhi dengan panel-panel, dan setelah itu pertunjukan-pertunjukan dan acara makan malam menyusul di penutup hari. Hampir seluruh tempat wisata di Ubud digunakan untuk mendukung acara ini, terutama acara-acara performance, dari Pari Dalem, Puri Dalem Ubud, Lotus, dan tempat-tempat lainnya.

Walau hanya dijatah untuk mengisi 2 sesi panel, namun pada praktinya saya selalu menghabiskan sepanjang hari saya di Sanggingan, bahkan hingga larut malam. Bebekal sutlle bus yang selalu ada, atau bila terpaksa dengan menyewa taksi atau nebeng teman yang membawa mobil, saya berupaya mengikuti panel-panel penulis-penulis Indonesia lainnya.

Saya sendiri mendapat jatah 2 panel. Panel pertama bersama Dewi Lestari dan Sophie Cunningham, kami membahas tentang Writing the Digital Future. Sedang panel kedua, Travelling Southeast Asia, saya bersama bersama Su Li Zhang dan Moh. Jayzuan. Beruntung di panel kedua ini kami dipandu oleh Janet Steele, penulis War Within; The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia, yang cukup menghebohkan itu. Keseriusannya memandu acara ini sudah terasa jauh sebelum saya sampai di Ubud, karena ia sudah sejak jauh-jauh hari mengontak saya melalui email.

Semua acara menggunakan bahasa Inggris. Bahkan sesi peertanyaan pun menggunakan bahasa Inggris. Untuk itulah seorang interpreter disediakan bagi penulis-penulis yang mengunakan bahasa Indonesia. Walau sedikit merepotkan, namun ini cukup lancar.

Membaca daftar acara sepanjang 6 hari ini, saya merasa upaya panitia mencari tema-tema global yang bisa diterima di seluruh negara. Tentu ini sesuatu yang sulit saya rasa. Tak jarang beberapa kali terjadi sedikit kegagapan permasalahan. Permasalah dunia buku satu negera dengan lainnya tentu saja berbeda. Saya bahkan sempat ditanya 2 kali oleh peserta asing saat mengeluarkan statement ‘bahwa menjadi penulis yang total hanya menulis di Indonesia sangatlah sulit.’ Permasalahan yang saya rasa diketahui oleh semua penulis Indonesia. Tapi saya piker secara keseluruhan, acara bisa dijembatani dengan tema-tema itu. Pada panel kedua saya bahkan, diskusi menjadi sangat asyik karena perbincangan kisah-kisah traveling / backpacking yang seru ditanggapi oleh peserta panel yang ternyata merupakan traveler maupung backpacker.

Secara keseluruhan, ada beberapa panel yang saya sukai sepanjang acara ini, misalnya The Future of The Critism, Journalist Making It Up, Performing Words, dan peluncuran antologi Harmony in Diversity. Saya juga menikmati panel Violent Religious yang menghadirkan Noor Huda Ismail, penulis buku Temanku, Teroris. Saya pikir acara ini termasuk yang paling ramai selain peluncuran antologi Harmony in Diversity, di mana saat itu hampir dari semua penulis Indonesia hadir, bahkan bapak Sunaryono Basuki KS.

Namun saya merasa durasi panel-panel ini terlalu pendek. Seorang pembicara mungkin hanya mendapat jatah waktu 2-3 bicara. Penggalian tema jadi tidak dapat terlalu dalam. Tapi seorang teman yang kerap hadir di festival-festival di luar negeri hanya mengangkat bahu saat saya menanyakan ini. “Beginilah festival dimana pun,” ujarnya pendek.

Namun di antara semua panel, panel paling menghebohkan berdasarkan cerita dari seorang rekan, adalah saat seorang penulis keturunan Aborigin membuat heboh dengan pernyataan-pernyataannya yang keras terhadap diskriminasi kulit putih di Australia. Di panel ini, saya mendapat cerita bahwa saat sang penyair membacakan puisinya, di situlah kekuatan kata-kata begitu terasa. Sungguh, mendengar cerita itu, saya sangat menyayangkan tak menghadiri panel itu.

Tokoh-tokoh Terpilih

Gerimis memang hampir selalu hadir di Sanggingan. Tapi itu yang membuat suasana terasa lebih menyenangkan, kalau boleh saya bilang: lebih roomantis. Berlarian kecil dari Indus ke CitiBank Launge dengan penutup telapak tangan, akan selalu di pilih daripada sekedar berdiam diri di sudut keramaian. Ujung-ujung baju yang basah dan butir-butir air di antara garis-garis rambut seakan membuat suasana semakin dekat. Ak bisa saya pungkiri bila gerimis benar-benar mendekatkan kami dengan Ubud.

DI antara jebakan gerimis-gerimis itulah kami kerap bertemu dengan penulis-penulis ternama. Ada beberapa penulis ternama yang memang sengaja diundang di UWRF ini. Untuk mereka, panitia membuatkan sebuah acara sendiri untuk masing-masing, dalam panel In Conversation. Satu yang paling saya ingat adalah Rabih Alameddine. Membaca biodata penulis ini, mau tak mau mengingatkan saya pada Kahlil Gibran, karena ia lahir di Libanon namun menjadi warga Negara Amerika. Ucapannya dalam biodata ‘in America I fit but don’t belong, in Lebanon I belong but don’t fit’, entah mengapa sepertinya terus menggantung di ingatan saya. Terlebih ialah salah satu penulis asing yang memberikan kursinya, saat kami penulis Indonesia tiba di Casa Luna, namun tak mendapat tempat karena tempat telah sangat penuh.

Selain Alameddine ada juga William Dalrymple, Frank Moorhose, Nam Lee, Etgar Keret, Anne Enright, Kate Adie, Ma Thida, Thomas Keneally, Ali Eteraz, Selain itu dari Indonesia muncul Sitor Situmorang, Sutardji Calzoem Bachri dan Dewi Lestari.

Di acara ini dipilih Sitor Situmorang sebagai Life Achievment Award. Sayangnya, sebagai tokoh yang seharusnya menjadi penulis nomor satu di acara tersebut, berita tentang penasbihan itu sama sekali tak muncul di poster-poster besar Untunglah panitia membuatkan semacam brosur susulan untuk memberitahu penasbihan ini.

Di saat acara pembukaan pun ada sesuatu yang lain. Ini karena munculnya Etgar Keret, seorang penulis dari Israel. Ini adalah pertama kalinya seorang penulis Israel datang ke Ubud. Ia bahkan diminta untuk membacakan salah satu cerpennya pada pembukaan UWRF 2010. Saya sempat membaca dalam press realese di situs resmi UWRF, bila perjuangan Keret untuk hadir di sini begitu penuh perjuangan. Ia mengalami penolakan dari KBRI hingga 8 kali. Saat ia akhirnya dapat datang kesini ia berucap dengan begitu senang, kalau ia akan menyombongkan keadaan ini, karena hanya dialah satu-satunya penulis Israel yang bisa datang ke Bali.’

Pesta yang Usai

Lalu pesta itu pun usai. Kembali daun kering ini harus terhempas pergi.

Namun di perjalanan pulang saya bertemu dengan Rabih Alamadinne, yang ternyata mampir dulu ke Jogjakarta. Penulis itu masih mengingat saya. Kami bercakap sambil menunggu bagasi, dengan bahasa Inggris saya yang amburadul. Sempat saya tanyakan bagaimana kesannya di Ubud, dan ia berdecak kagum berkali-kali, “Ubud was great, the festival was great too…”

Dan saya mengamininya.

Iklan