Pertama kali melihat sampul dan judul buku kumpulan cerpen Yudhi Herwibowo (YH) ini, terbersit sekilas keraguan akan kualitas yang dikandungnya. Memang dunia sastra Indonesia sekarang pada posisi perkembangan yang sangat signifikan. Begitu banyak bermunculan penulis-penulis muda dari berbagai pelosok negara dengan berbagai gaya dan karakter yang menarik, namun tetap dapat dicermati bahwa kualitas tidak selalu ada dalam setiap karya.

Cerpen pertama “Kofa” langsung menghapus keraguan hati. Dengan segera dapat terbaca bahwa YH sangat berbakat dalam menulis cerita. Menulis cerita yang baik tidaklah mudah. Ia harus ditampilkan dengan ketelitian yang tinggi, sehingga membaca menjadi sebuah rekreasi yang menyegarkan, tetapi idealnya tetap memiliki misteri yang dapat memicu gairah pembaca serta mencerdaskan pembaca. Dan semuanya ini dapat ditemukan di dalam cerpen-cerpen YH yang terkumpul di dalam “Mata Air Air Mata Kumari”.

Di dalam “Amela-Ameli”, YH meneguhkan bahwa ia adalah penulis yang cerdas. Ia mampu menyimpan misteri, dan menyajikannya pada waktu yang tepat, dengan kuantitas yang tepat pula. Pembaca dibawa ke dalam gairah keingintahuan, namun tanpa ketegangan berlebihan yang melelahkan. Amela dan Ameli menjadi medium yang menyampaikan bahwa kesalahan yang diperbuat seseorang akan berdampak juga kepada orang-orang lain.

“Lama Fa” menampilkan unsur kelokalan yang sangat deskriptif dengan cara yang menawan. Pembaca mendapatkan pengetahuan yang jarang diperhatikan, seperti teriakan-teriakan “Irka… irka… irka…”, yang sekaligus membawa pembaca berekreasi. Terlihat betul bahwa YH sangat menguasai latar belakang lakon yang ditulisnya.

Ada kerenggangan alur cerita dalam cerpen ini, ada pertanyaan tak terjawab tentang hubungan kejadian dengan sang “papa”, ada suasana yang tidak sepenuhnya terlukiskan, ada karakter yang belum tampil, namun secara garis besar cerpen ini sangat menarik. Kerenggangan alur cerita ini tampaknya sebagai akibat dari pemadatan scene yang kurang tepat. Cerpen yang merupakan versi singkat dari cerber pemenang majalah Femina ini tentu lebih nyaman dibaca sebagai cerber.

Bagaimanapun, empat belas cerpen di dalam buku ini sangat menghibur. Selain pengetahuan-pengetahuan yang disajikan dengan ringan, yang membuat cerpen-cerpen YH menjadi mengagumkan adalah penggunaan bahasa yang indah dan puitis.

“Aku adalah gelora penuh amarah!

Dengan bara bagai pecahan matahari dan tempa bagai hujanan batu, aku mulai mengambil wujudku. Laku dan mantra kemudian mengisi napasku satu demi satu. Masih kuingat jelas, walau telah ratusan tahun lewat, empu paling termashur kala itu, menguntai bait-bait mantra dengan ambisi yang memuncak dalam relung hati. Keringatnya yang terus menetes, dan terus pula langsung menguap ke atas, bagai jawaban dari gejolak hatinya yang membuncah.”

Kalimat-kalimat indah ini adalah ungkapan tentang sebilah keris, yang pernah menjadi milik Sunan Kudus. Cerpen “Keris Kyai Setan Kober” ini sebenarnya mengetengahkan sejarah tentang kehidupan Arya Penangsang dari abad-16 dengan sang keris sebagai medium. Di dalam cerpen ini, pembaca dibawa oleh YH untuk mengenal sebuah sejarah tanpa harus merasa bosan ataupun sulit.

Seandainya judul cerpen ini berbeda, tentu pembaca masih berada di alam misteri, hingga paragraf ke empat belas. Di sini keris digunakan sebagai medium penyampaian dengan sudut pandang manusia. Ia bukan sekedar keris benda mati, tetapi berperan seperti manusia, yang bisa mengerti darah, emosi, bau tuak, rumah bordil, mayat, dan lain sebagainya. Ia menjadi seperti manusia yang telah dikelilingi setan sejak lahir dan membiarkan setan-setan menguasai dirinya dengan dalih sang pembuat yang sekaligus pelindungnya telah tiada.

Peran “setan” atau pengaruh buruk yang secara tak sengaja menjadi pesan moral dalam cerpen ini, menjadi tampak dominan ketika Penangsang melawan nasehat Sunan Kudus karena masih tidak mampu menguasai bara kemarahan dan dendam, hingga menjelang hari akhir “laku”nya ia kembali berperang.

Terkonsentrasi pada jalannya sejarah membuat penggambaran suasana dalam cerita ini agak terlantar. YH misalnya tak menggambarkan bagaimana suasana di dalam tempat kerja sang empu, dengan api yang merah membara, dan bagaimana bara itu diambil oleh si wilah keris hingga menjadi gaun merah yang membentuk lekuk tubuhnya dengan pasti setempa demi setempa. Demikian pula medan laga dimana Penangsang menemui ajalnya. Karakter Penangsang yang digambarkan “lelaki dengan mata tenang yang dapat secara mengejutkan menjadi setajam tatapan elang” tentulah tak akan menemui ajal secara mudah di dalam peperangan kecil tanpa suasana.

Penangsang yang menjadi tokoh utama cerpen inipun tidak ditampilkan secara maksimal dibandingkan dengan penampilan Sunan Kudus yang lebih terperinci dan berwatak.

Sejarah tak akan pernah diketahui kebenarannya.Yang telah pasti disampaikan oleh YH adalah bahwa pengaruh jahat atau emosi dapat “membunuh” diri sendiri, tak peduli sekuat apapun diri seseorang.

Kalimat-kalimat indah lainnya bisa dijumpai dalam cerpen “Dua Mata Perak”:

“Malam liris. Bulan seperti terpaku di kiri bahuku. Seingatku, di sini, ini tidak biasa. Biasanya ia selalu malu hadir di sini. Selimutnya, awan gelap, selalu mengelambunya lekat-lekat, dan sayap-sayap kelelawar seolah menjadi cadarnya.”

Kalimat indah di atas ini sekaligus menjadi suasana pengantar yang mengatakan bahwa tokoh cerpen tersebut adalah pejalan malam. Penggunaan bahasa yang puitis ini berhasil membuat pejalan malam YH tampil tanpa kesan porno dan kotor.

Dalam keadaan yang tidak terburu-buru, YH termasuk penulis yang sangat teliti. Salah satu bentuk ketelitian YH dapat dibaca dalam “Cerita tentang Tiku”:

“Kupandangi ia beranjak menjauh. Baru kutahu kini, kalau ia pincang. Ia menyeret kaki kirinya, hingga terus membuat garis di tanah!”

Dengan berbagai kandungan lokal yang dikuasai dan ditampilkan oleh YH dalam buku kumpulan cerpen ini, agak mencengangkan ia memilih judul yang lebih akrab dengan budaya bukan lokal, meskipun “Kumari” adalah juga representasi Dewi Durga dari agama Hindu.

Bakat akan menjadi sempurna apabila terus diasah. Demikianlah waktu akan mengasah bakat seorang YH sehingga kelak mampu melahirkan cerpen-cerpen yang lebih baik, semoga.

Jakarta, Januari 2011

(Medy Loekito)

Iklan