Kepada M. X yang baik…

Sebelumnya terima kasih kamu sudah mau menulis tentang cerpen ini. Saya senang ada yang mendalami cerpen ini sedemikian detail. Sayangnya, saya ikut merasa tak enak, karena kamu kecewa setelah membacanya…

Keris Kiai Setan Kober memanglah sebuah cerpen sejarah yang sebenarnya saya buat dengan sedikit keinginan untuk tak terlalu mengekspos sejarah. Nama keris itu memanglah demikian adanya. Sehingga harapan saya, bagi yang belum mengetahui sejarah Penangsang pun dapat menikmati cerita ini.

Saat menulisnya saya mencoba untuk bereksperimen mengambil sudut pandang keris. Karena sudah banyak penceritaan yang mengambil sudut pandang Penangsang dan Hadiwijaya. Nah, di sinilah keasyikan bagi seorang penulis fiksi. Ia bisa melakukan apa saja dengan kisah yang dibuatnya. Tentu saja ada yang bisa diterima dan tidak diterima.

Namun beberapa contoh pengambilan sudut pandang bisa di lihat dalam beberapa karya sastra. Misalnya: Metamorphosis. Di sini Kafka bahkan mengambil sudut pandang seorang kecoa. Kecoa yang bisa berpikir layaknya manusia, mengamati manusia, merasa malas, bahkan jatuh cinta, dll. Dalam Camar-camar Jonathan Livingston, Richard Bach mengambil sudut pandang seekor burung camar yang mengamati orang-orang dari langit. Dalam Tanah Tabu, Anindita S. Thaft bahkan mengambil posisi sebagai anjing yang bisa bicara layaknya manusia dan hidup ratusan tahun! Bahkan dalam sebuah cepen Akutagawa Ryonosuike, saya lupa judulnya, dengan gamblang penulis mengambil posisi sebuah gerbang masuk yang mengamati manusia-manusia yang bersliweran di dekatnya.

Tentu mereka pun tak punya otak untuk berpikir bukan? Tapi di tangan penulis mereka akan menjadi layaknya manusia. Itulah dunia fiksi, terlebih sastra. Penulis harus terus mencari bentuk-bentuk baru, teknik baru, bahkan yang belum ada sekali pun. Tentu ada yang bisa diterima, namun tetap ada yang tidak.

Dan begitu pula saya memperlakuan sebuah keris di Keris Kiai Setan Kober..

Tentu, ia tahu sekali perilaku seorang empu yang membuatnya. Secara logika saya berpikir: sang keris tahu bila sang empu memperlakukan upaya keras saat akan membuatnya dengan tirakatan dan laku, ini tak ia lihat saat empu-empu lainnya membuat keris lainnya.

Namun karena gangguan-gangguan itu, upaya membuat keris itu tentu menjadi tidak sempurna. Bukankah empu yang baik menginginkan kesempurnaan dalam karyanya? Beberapa literatur memang menyebutkan bahwa Keris Kiai Setan Kober memang keris yang tak sempurna, bahkan dulu saat menjadi barang kraton, ia mendapat perlakukan melebihi keris-keris lainnya (diberi sesajen dan dimandikan di hari-hari tertentu). Tentu saja kita tak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Namun sebagai penulis fiksi saya kemudian mengambil hal-hal mistis yang melingkupi keris itu.

Tentang bayang-bayang yang ada di sekitar keris dan dirinya, tentu saja sang empu tahu. Tapi ia tak perduli. Dalam kalimat awal sudah saya tulis kan, ‘Dan siapa yang akan berani mengganggu lakuku? Bahkan jin-jin itu pun kuharap akan jera!’

Namun pada akhirnya setelah sekian lama ia bergelut dengan gangguan para jin,.tirakat dan lakunya tak cukup kuat membendung sang keris. Maka itulah ia kemudian merasa gagal. Ucapan ‘Aku gagal’, adalah ucapan sang empu, bukan ucapan sang keris. Mengapa itulah kalimat itu kemudian di-italic-kan.

Kisah ini kemudian bergerak terus hingga ada di tangan Penangsang. Terlebih kemudian, mengulas soal kematian Penangsang. Banyak kisah di balik kematian itu. Beberapa sumber sejarah mengatakan bila ia dibunuh Sutawijaya dengan licik, ada juga yang mengatakan kalau Penangsang menyerah, bahkan Gagak Rimang, sang kuda, disimbolisasikan sebagai seorang perempuan yang telah merayu Penangsang hingga membuatnya gagal.

Tentu penceritaan seperti itu bisa saja terjadi. Tapi bagaimana bila itu dilihat dari kacamata sebuah keris?  Sang keris walau disadari oleh sang empu sebagai kegagalannya, namun tentu saja sang keris tak mau menganggap dirinya gagal. Ia tetap merasa sempurna, terlebih godaan dari bayangan-bayangan itu begitu memaksanya. Maka itulah saya harus mengambil sebuah alasan ia marah terhadap Penangsang, bukan karena masalah politik yang terjadi di dunia manusia tentu saja. Tapi langsung menyangkut pada keris tersebut: godaan-godaan bayang-bayang itu!

Proses sang panjang kemudian membuat Penangsang merasa memiliki hubungan dengan sang keris. Mengapa itulah ia kemudian membatin pada sang keris. Tentu saja ia tak gila. Pada kehidupan nyata, kerap kita bicara sendiri untuk meyakinkan diri bukan? Bicara di depan cermin saat mematut diri, bicara di depan hape saat sinyal hilang atau lowbat, atau bicara kepada alam saat akan hujan, dan itu yang dulakukan pula oleh Penangsang. Sebuah hal wajar. Tapi sang keris tak bisa sepenuhnya mengikat hubungannya dengan penangsang. Bayang-bayang itu tentu saja saya buat terus menganggu sang keris.

Ada efek-efek yang saya bangun untuk menunjukkan kemistisan keris tersebut. Salah satunya dengan teriakan sang keris. Kata ‘Aaaaarrrccchhh…’ merupakan sebuah teriakan yang penuh amarah. Apakah ada kata yang dapat melukiskan sebuah teriakan yang penuh amarah? Di beberapa komik dan novel saya mendapatkan kata itu. Tentu saja, saat saya melafalkan sendiri, suaranya sangat cocok dengan teriakan yang saya bayangkan. Maka itulah kata itu saya pakai!

Tentang korelasi Sutawijaya tentu tak akan pernah lepas dari kisah Keris Kiai Setan Kober. Sutawijaya tentu harus dimasukkan di sini. Ia yang membuat sang keris marah. Dalam sejarah kejadiannya memang seperti itu,. Sutawijaya yang memancing Penangsang untuk keluar dari batas kesaktian. Ini sejarah! Kalau Sutawijaya tak ada: tentu itu artinya saya mengingkari sejarah, dan keris itu tak punya alas an yang kuat membunuh penangsang!

Kenapa Sutawijaya tak dibunuh, tentu banyak sekali tafsirnya. Dan sang keris Kiai Setan Kober pun punya tafsir sendiri untuk itu. Dalam logka saya sederhana: Penangsang tak bisa membunuh begitu saja Sutawijaya. Resikonya tentu akan menimbulkan efek terhadap Jipang Panolan. Saat itu Jipang Panolan hanyalah sebuah kerajaan kecil, tentu melawan kerajaan Pajang bukanlah hal yang menguntungkan.

Tentu ini semua yang kemudian menjadi drama dalam kisah Keris Kiai Setan Kober. Kalau Vega tak merasakan drama di sini, tentu saja mungkin hanya perasaan pribadi. Saya sabagai penulis tentu saja merasakan, dan beberapa pembaca yang sudah membaca juga merasakan sisi drama yang saya bangun. Tapi tentu saja ini soal selera. Saya tak akan mempermasalahkan itu… 😉

Menggabungkan sejarah dan fiksi memang bukan persoalan mudah. Terlebih bila itu ada dalam sebuah cerpen. Kenapa kisah ini hanya memuat sedikit-sedikit? Dan beberapa tidak terekpos? Kali ini saya setuju dengan Vega.

Namun yang perlu diingat Keris Kiai Setan Kober adalah sebuah cerita pendek. Apalagi saat akan dimuat di koran, harus ada ketentuan jumlah karakter di situ. Saat pertama kali saya buat, saya cukup membahas Sunan Gresik, bahkan karakter Penangsang cukup saya kembangkan. Tapi cerpen itu kemudian menjadi 16.000 karakter, saat akan dimuat di Suara Medeka saya harus mengedit sampai 14.000 larakter. Itu artinya saya menghilangkan 2.000 karakter. Dengan jumlah karakter yang terbatas, tentu harus kita harus memilih-milih mana bagian yang harus diekspos, bagian yang sedikit diekpos dan bagian yang perlu dihilangkan. Dan inilah hasil editan itu.

Tentu bila seseorang ingin mendapat kejadian sejarah yang detail, mereka tak akan mencarinya dalam sebuah cerpen, tapi akan mencarinya dalam novel… 😉

Sekian jawaban saya, semoga dapat diterima… 😉

  Yudhi Herwibowo

cerpen Keris Kyai Setan Kober pertama kali dimuat di Suara Merdeka, 30 Mei 2011, kemudian masuk dalam kumcer Mata Air Air Mata Kumari – Yudhi Herwibowo yang terbit Oktober 2011. Bisa dibaca di http://lakonhidup.wordpress.com/2010/05/30/keris-kiai-setan-kober/

Iklan