Sebuah judul yang membuat penasaran. Sebagai orang yang bukan pecinta sejarah maupun bahasa, judul tersebut membuatku penasaran. Apakah itu nama sebuah keris? Apakah itu Keris milik Kyai Setan Kober? Siapa Kyai Setan Kober dan kenapa dia punya keris? Apa yang begitu menarik dari Keris ini? Maka saya pun mulai membaca cerpen ini dengan harapan bahwa saya akan mendapat sesuatu; apakah itu sejarah atau hiburan.

Sayang sekali saya dikecewakan. Ini hanyalah kasus yang sering ditemui di kelas Menulis Bebas 101: Tidak ada arah, dan berkata bukan bercerita.
Pada awal sudah langsung diketahui bahwa sudut pandang cerita harusnya adalah sudut pandang orang pertama, sang keris. Sayangnya sudut pandang orang pertama ini kelihatannya lupa bahwa dia seharusnya seorang keris yang sedang bercerita dan sering kali melompat menjadi burung di udara dan bercerita.

Hal ini dapat dilihat dari ketidak sesuaian pengetahuan sang Keris. Misalnya: Bagaimana sang Keris bisa tahu bahwa yang sedang menempanya adalah Empu terkenal? Siapa yang bilang padanya?
Ambillah pendapat bahwa sang Keris mengerti karena ini adalah kilas balik dalam ingatannya dia dari jaman sekarang ke jaman ratusan tahun yang lalu. Seseorang mungkin pernah bercerita pada dia atau dia pernah dengar sambil lalu. Maka patut ditanyakan dua hal:

1. Kenapa dia masih ingat, apakah merekam ratusan tahun dalam suatu badan, yang tidak memiliki otak sebagaimana manusia/djin dapat dilakukan? Apakah karena itu suatu benda keramat? Bisa memang ingatannya terkait pada sihir, apakah menghilang dan tidak terawat selama bertahun-tahun (sampai pada jaman ini dimana tiada yang tahu bagaimana membuat keris keramat dan hanya ada manusia-manusia yang membeo tindakan para leluhur dengan menyucikan keris bukan mengasah kesaktiannya lagi) tidak membuat keris dan sihirnya rusak? Bila sihirnya kurang kesaktian (karena belum pernah saya dengar ada orang mengamuk pakai keris ini saat ini, jadi kemampuan keris ini untuk mempengaruhi orang untuk membunuh –kesaktiannya- sudah mulai luntur), dan ingatannya terkait pada sihir, bukankah ingatannya akan hilang juga? Tapi ini tidak terlalu penting.

2. Kenapa dia tahu bahwa itu empu terkenal tapi tidak tahu bayang-bayang yang mengitarinya adalah makhluk halus? Mengerti mantra, mengerti empu, mengerti kerongkongan dan lambung, tapi tidak tahu bayang-bayang makhluk halus atau sihir? Tapi harus saya akui bahwa bagian dimana sang Keris ditempa adalah satu-satunya bagian dari cerita ini yang menarik. Hanya karena kerisnya bercerita, bukan berkata.
Selain ketidak sesuaian sudut pandang ada satu hal lagi yang mengganggu saya: perwatakan keris yang tidak jelas.
Banyak adegan-adegan yang bisa mengeluarkan watak sang Keris. Mengapa sang Keris haus darah? Mengapa dia kecewa terhadap Penangsang? Kenapa tidak diperdalam lagi sehingga kita dapat merasakan dan mengerti keris itu?
Misalkan:
“Aku merasa gagal.”
Kenapa Keris itu merasa gagal? Bagaimana dia tahu dia merasa gagal? Dia sudah selesai, dengan lekukan 13 yang indah. Bagaimana dia tahu bahwa dia barang gagal? Karena, ingat, dia adalah makhluk yang baru lahir. Belum bisa mengerti manusia dan dunia, tapi sudah tahu bahwa dia gagal.
Bisa saja disajikan dengan bagaimana sang Keris melihat kekalahan di mata dan badan sang empu dahulu (jelaskan bagaimana pundaknya jatuh dan tubuhnya meringkuk mengecil bukan membara bersemangat seperti saat pertama mulai membuat sang keris, bukan mengatakan, ‘sang empu pun terduduk dan menyerah’. Ini cerita; buat saya, sebagai pembaca, untuk mengambil kesimpulan bahwa dia sudah menyerah, saya tidak perlu diberitahu bahwa dia sudah menyerah), bukan sesudah kalimat tersebut.
Kemudian lanjutkan ke sang Keris mempertanyakan, mengapa pandangan matanya sang Empu nanar? Mengapa sang empu memandangi sang Keris yang sudah jelas-jelas selesai bukan dengan senyum dan kebanggaan maupun dengan keseriusan tetapi dengan sesuatu yang membuat Keris merasa tidak nyaman dan tidak gembira.

Ceritakan bagaimana sang Keris mulai merasa putus asa, sedih dan marah karena telah ditinggalkan di tempat tersembunyi. Dia adalah Keris buatan empu terkenal! Dibuat dengan mantra sihir dan dikelilingi oleh bayang-bayang penggemar sang Keris! Dia seharusnya berada di luar sana, melihat Matahari dan pepohonan, dimandikan dengan air kembang tujuh rupa, bertarung dengan sesama keris. Tapi setiap hari dia selalu melihat senjata-senjata lain, senjata tidak bernama, senjata tidak berjiwa diambil oleh orang-orang; dan bertanyalah dia ‘Kenapa?’

Buat kita melihat bagaimana sang keris menjadi marah dan ingin membunuh. Karena jelas bahwa sang Keris ini sombong karena dia tidak suka pada ‘Kroco’ yang mengambilnya, bukannya berterima kasih. Artinya sang keris mengerti kenapa dia itu spesial.

Dan bahwa keinginan marahnya bukan hanya dari awalnya karena dia adalah benda yang dikutuk untuk haus darah. Tapi karena ada dorongan kebencian terhadap kegagalannya sendiri dan juga dorongan dari bayang-bayang disekitarnya. Buat bayang-bayangnya sebagai teman percakapan sang keris. Ceritakan bagaimana bisikan-bisikan halus dari mereka membuat dia perlahan-lahan marah, benci dan haus darah.
Kemudian setelah dia digunakan dalam perang dan membunuh, bisa diperlihatkan bahwa pada awalnya dia hanya ingin digunakan. Tetapi setelah orang yang memungutnya memandang tubuhnya yang penuh darah dengan rasa kagum, perlihatkan bahwa sang keris berpikiran bahwa dia hanya penting bila bermandikan darah. Tubuhnya yang tanpa balutan darah dilihat dengan kesedihan oleh pembuatnya, tetapi tubuhnya yang bersalut darah dipandangi dengan rasa kagum. Maka mulailah sang Keris meminta darah.
Seperti anak kecil yang menginginkan perhatian kerena orang tuanya tidak pernah memperhatikannya.

Pada saat yang sama: ‘Aaaaarrrccchhh…’ itu apa? Bunyi-bunyian? Atau bahasa daerah yang tidak saya ketahui? Kalau itu suara… rasanya tidak ada apapun yang bunyinya begitu.

Kemudian pertemuan dengan Penangsang. Ceritakan bagaimana sang keris mengagumi Kyai Plered, berikan dia teman atau guru dalam bentuk si Kyai Plered. Tokoh yang dia kagumi dan sayangi karena dapat memberikan dia kesejukan, ketenangan dari para bayang-bayang, ceritakan bagaimana dia dan Penangsang berdua sama-sama mengagumi guru mereka dan ingin menjadi seperti mereka.
Ceritakan bagaimana sang Keris dan sang pemuda berteman dan memiliki jalan pikiran yang sama sehingga mereka bisa cocok dan mengerti satu sama lain. Ceritakan bahwa karena mereka memiliki keinginan yang sama; menjadi seperti sang guru, mereka jadi memiliki ikatan batin yang kuat.
Dengan begitu paragraf, “Saat pertarungan harus berakhir, Penangsang hanya dapat memandanku dengan perasaan bersalah. “Bersabarlah,” ujarnya dengan napas yang memburu, “Aku tahu keinginanmu. Kelak aku pasti akan menuntaskan perjumpaan ini!”jadi masuk akal. Mereka memiliki ikatan batin dan dapat berkomunikasi satu sama lain, bukan karena Penangsang itu gila dan hobinya bercakap-cakap dengan benda mati.

Ceritakan bagaimana Penangsang dan Sang Keris mempengaruhi satu sama lain. Sang keris mulai mengerti perang atau pelajaran yang Penangsan pelajari saat itu, seperti perasaa manusia dan juga mendapat tambahan kekuatan karena Penangsang juga sakti. Penangsang sementara itu mulai menjadi seseorang yang ‘keras’ dan ‘kuat’ bukan ‘Lelaki yang lemah dan tak sanggup membunuh seorang pun’ seperti saat sang Keris dan Penangsang bertemu pertama.

Kemudian saat berantem dengan Raden Sutawijaya, ceritakan bagaimana dan kenapa Penangsang melepaskan Raden Sutawijaya. Berikan sedikit cerita, mungkin sang keris melihat bahwa Raden Sutawijaya agak mirip dengan adik Penangsang; mungkin Penangsang melihat bayang-bayang seseorang di mata/muka Raden Sutawijaya dan memanggil nama orang tersebut pelan. Sedikit saja, bukan, ‘Mereka bertarung, pada saat Penangsang harusnya membunuh Raden Sutawijaya, dia tidak jadi. Tidak tahu kenapa.’
Ceritakan bagaimana sang Keris merasa terhina dan terkhianati oleh Penangsang. Sampai sebegitu marahnya untuk membunuh tuannya sendiri dan mengutuk dirinya. Sebagai teman baik atau memiliki ikatan batin, sang Keris sudah merasa gembira mendapat seseorang yang menggunakan dia dan membasuh dahaga akan darahnya, tetapi pada akhirnya Penangsang mengkhianatinya dengan menolak untuk membunuh, lagi. Kembali lagi ke nol. Teman yang sudah sepengertiannya hilanglah sudah. Dan di kesedihan dan kemarahannya sang keris pun membabi buta dan membunuh temannya sendiri; menghancurkan dirinya sendiri pada saat yang sama.
Anda mengatakan bahwa keris dibuat, keris ditinggal, keris haus darah dipakai di perang dan ujung-ujungnya ada di tangan Penangsang. Walaupun Penangsang, Raden Sutawijaya ditaruh di dalam cerita Anda, sama sekali tidak ada korelasi dengan alur cerita yang jelas-jelas adalah hidup sang keris dari lahir hingga mati. Tapi saya saluti Anda karena ada niat memasukkan budaya dan sejarah Indonesia kedalam tulisan Anda. Jarang yang mau melakukan ini.

Tapi sebagai pembaca saya ingin berada di jaman itu. Saya ingin bisa mengikuti jalan pikiran sang keris, merasakan hidupnya sang keris. Drama hidup sang keris akan cukup untuk membuat latar belakang cerita jaman dahulu kala. Dialog dan jalan pikiran sang keris dengan sekelilingnya yang membuat ceritanya berjalan bisa memberitahu.

Misalnya, sang Keris ikut ke rapat tak tik perang dengan Penangsang; atau Penangsang berbicara dengan sang Keris dan menjanjikan darah karena mereka akan memerangi siapa karena apa dan perasaan Penangsang sendiri mengenai perang itu, mungkin dia merasa cemas tetapi kegembiraan sang Keris melegakan Penangsang. Bisa juga Raden Sutawijaya menyembah-nyembah bercerita kenapa dia jangan dibunuh, tolong; atau keris bercerita betapa bosannya ikut jaga dengan keroco, bisa menceritakan bagaimana kehidupan sebagai prajurit penjaga biasa.

Ada banyak karakter yang dapat dipakai, tapi malah tidak dipergunakan semaksimal mungkin. Misalnya bayang-bayang, Penangsang, sang Empu dan lainnya, bahkan kroco yang mati di tengah cerita. Banyak cara membuat cerita ini menarik dan dramatis.

Sayangnya Anda tidak tahu apa yang Anda inginkan saat membuat cerita ini.
Apakah bercerita mengenai kehidupan sang keris? Bila iya, mana dramanya? Kenapa pembaca tidak bisa merasuki perasaan dan karakter sang keris?
Apakah menceritakan sejarah sedikit-sedikit? Kalau begitu jangan pakai ringkasan buku text SMP. Walaupun point-point pentingnya harus sama sisanya kan terserah Anda. Misalnya: Point utama- Penangsang tidak jadi membunuh Raden Sutawijaya. Sisanya- Penangsang tidak jadi membunuh Raden Sutawijaya karena dia mendapat wahyu bahwa Raden Sutawijaya akan jadi tokoh penting dalam menjaga perdamaina, atau karena dia mengingatkan Penangsang akan adiknya dan dia tidak bisa membunuh adiknya.

Sekian saja kritik dari saya.

Iklan