Pekerjaan ayahnya sebagai PNS di Badan Metrologi menuntut Yudhi harus kerap berpindah-pindah. Kelas VI SD, ia pindah ke Kupang, Nusa Tenggara Timur. Toh ternyata pindah membawa berkah.

Yudhi mengisahkan karena rumahnya di Kupang jauh dari kota, waktunya banyak ia habiskan untuk membaca buku. Saat itu, ia masih suka membaca Majalah Bobo. Ia ingat, ia kerap menu­lis cerpen dengan pensil dan menitipkan karyanya itu ke Maja­lah Bobo via ayahnya. Maklum, kantor ayahnya dekat kantor pos. “Ayah tahu kalau saya menulisnya pakai pensil, lalu ayah bilang biar dimuat menulisnya harus diketik,” ungkapnya.

Dari sanalah setiap hari Minggu selepas bermain pingpong, Yu­dhi diajari ayahnya mengetik di kantor. Rupanya, Yudhi malah lebih asyik mengetik. Walhasil, ayahnya membawakan sebuah mesin ketik lawas ke rumah.

Dengan mesin ketik itu, ia mengetik cerpen-cerpennya. Rupa­nya, kebiasaan mengetik dengan mesin tik yang tutsnya meng­hasilkan irama cetak-cetok memengaruhi semangat menulisnya hingga kini.

Yudhi mengaku hingga kini lebih cepat menuangkan ide saat mengetik menggunakan keyboard komputer yang menghasil­kan suara nyaring. “Kalau pakai laptop lama, suara keyboard-nya kan lembut sekali,” katanya.

Di Kupang, saat liburan, ia selalu menyambangi toko buku. Sua­tu ketika, ia melihat buku berjudul Mengarang itu Gampang kar­ya Arswendo Atmowiloto seharga Rp 2.500 di Toko Buku Sema­ngat Kota Kupang. Yudhi lantas menyisihkan sebagian uang ja­jannya demi memboyong buku itu. “Saat beli, pelayannya ma­lah bilang gini, ini buku orang gede lho tapi akhirnya terbeli ju­ga,” ujarnya.

Dari buku itu, Yudhi semakin asyik membuat cerpen. Ia ingat cerpen pertamanya tembus di Majalah Kawanku saat ia duduk di Kelas II SMP. Judulnya Seorang Lelaki Tua. Yang berkesan, tulisan itu menginspirasi teman-teman sekelasnya untuk menu­lis. ”Honornya saat itu Rp 25.000, dulu dikirimnya pakai wesel.”

Saat remaja, cerita karangannya tak lepas dari kehidupan re­maja kala itu. Namun, kesan yang paling menukik ia dapatkan dari karya Bubin Lantang berjudul Anak-anak Mama Alin. Cerita itu tentang tiga anak kembar Mama Alin yang memiliki karakter berbeda-beda. Membaca itu, Yudhi mengaku dihadapkan de­ngan emosi yang berbeda-beda. Ada yang menyentuh, lucu sampai romantis. ”Bubin Lantang tipikal penulis yang bikin apa saja. Benar-benar oke. Saat itu, penulis yang menyentuh masa­lah sosial tidak banyak tapi Bubin Lantang sudah melakukan­nya,” ungkapnya.

Karena itulah, kepekaan sosial penulis salah satunya bisa dida­patkan dari bergumul dengan teman-teman yang memiliki hobi sama di komunitas. Sebelum terlibat di Komunitas Pawon, Yu­dhi menjadi koordinator Komunitas Penulis Sketsakata.

Sayang, itu tak bertahan lama. Akhirnya pada 2007 terbentu­klah Komunitas Pawon.

http://edisicetak.solopos.com/berita.asp?kodehalaman=h79&id=112972

Iklan