Belum lama ini, Yudhi mengisi workshop menulis yang peserta­nya anak-anak SD. Yudhi kaget bercampur senang. Ketertari­kan anak-anak kini terhadap dunia menulis begitu besar. “Ima­ge menulis sekarang memang sudah bergeser, profesi penulis semakin diakui,” ungkapnya.

Yudhi menilai ada sejumlah faktor yang membuat dunia kepenu­lisan makin diminati. Alasannya, Jejaring sosial yang makin hi­dup. Kemudian, banyak penulis Jakarta yang memosisikan diri seperti artis. Meski untuk penyebab kedua itu, Yudhi tak terlalu suka tapi imbasnya memikat masyarakat pada dunia tulis-menu­lis. “Dan akhir-akhir ini, saya terus berpikir untuk menulis buku sejarah karena buku sejarah semakin lama semakin sulit dica­ri,” terangnya.

Alasannya, penulis buku sejarah dari kalangan muda tidak ba­nyak. Menulis buku bertema bukan tanpa risiko. Menulis seja­rah butuh waktu panjang. Yudhi mengaku menghabiskan wak­tu selama 13 bulan untuk menggarap novel terbarunya Untung Surapati setebal 660 halaman. Sementara untuk menggarap novel Gokil Backpacker yang jauh lebih tipis, ia cuma butuh wak­tu sebulan.

Konsekuensi lain, royalti buku sejarah juga tidak terlalu mena­rik. Karena itulah, banyak penulis menghindari sejarah. Terlebih kebanyakan panduannya justru dari luar negeri. “Kadang saya mikir lucu sekali sejarahnya sendiri tapi yang nguplek-nguplek orang dari luar,” gerutunya.

Toh dengan konsekuensi itu, Yudhi tak khawatir. Ia sudah me­nyiapkan sejumlah trik agar banyak pembaca melirik novel seja­rahnya itu. Caranya memublikasikan lewat blog.

Itu salah satu cara menunjukkan bahwa si penulis juga bangga dengan karyanya. Penulis bagi Yudhi memang harus nyambi ja­di pemasar bukunya. Tidak sekadar pasrah kepada penerbit. Setelah Untung Surapati, kini Yudhi menggarap novel yang ber­kisah tentang jugun ianfu, perempuan yang jadi korban pelam­piasan seks penjajah Jepang. “Kalau dilihat masa lalunya bah­kan seorang Andrea Hirata juga berpromosi dengan biaya sen­diri ketika jadi penulis belum ngetop banget, ya kita harus laku­kan,” ungkapnya. Baginya, permasalahan terbesar menulis sebetulnya adalah ra­sa malas. Kalau toh tidak, idenya grambyang bahkan macet.

Ba­ginya, itu sah-sah saja. Setiap orang yang bekerja dengan ide kreatif akan mengalaminya. Kadang di puncak, tak jarang juga di bawah. “Dan saya sudah menyiasati dengan membuat kerangka dan banyak membaca. Penulis yang baik selalu menjadi pembaca yang kuat,” ungkap­nya.

Iklan