Rumah bercat hijau di Villa Bukit Cemara 1 Mojosongo seperti bukan kantor percetakan dan penerbitan. Tak ada meja pega­wai berderet.

Di ruang tamu hanya ada sebuah meja dan seperangkat kom­puter ditemani tumpukan koran yang tercecer di beberapa su­dut ruangan. Tak terdengar pula suara mesin cetak yang me­raung-raung. Siang itu terdengar justru cericit burung kutilang dari kebun di depan rumahnya yang dibatasi dinding berbahan batako.

Yang menunjukkan rumah bertipe 36 itu tak hanya berfungsi se­bagai rumah tinggal adalah sebuah spanduk kecil yang ditem­pel di bagian kaca bertuliskan percetakan El Torros. ”Hari ini li­bur,” ungkap Yudhi Herwibowo saat dijumpai Espos di rumah­nya, Selasa (17/5).

Yudhi lalu bergegas ke ruang tengah mengambil beberapa bu­ku karyanya yang masih bersegel. Sebutlah seperti kumpulan cerpen Air Mata Mata Air Kumari, Untung Surapati, Gokil Backpa­ker dan Samurai Cahaya. Tanpa ba bi bu, ia lalu menyebar bu­ku tersebut di teras hingga membentuk tikar mini.

Sambil cengar-cengir dan membetulkan kaca mata, Yudhi pun berbaring di “tikar buku” itu untuk dipotret. Sebelumnya, Espos memang memintanya bergaya untuk diambil gambarnya. Seu­sai pemotretan, tawa pun pecah. “Haha baru kali ini jadi model. Apa kata teman-teman nanti,” ungkapnya sambil tertawa geli.

Ya, di rumah bernomor 1 itulah, Yudhi melahirkan 20 buku, dari total jumlah karyanya sebanyak 27 buku. Salah satu novelnya berjudul Menuju Rumah Cinta-Mu yang lahir 2007 menembus pasar buku Malaysia, Singapura, Brunei sampai Thailand. Novel itu juga pernah difilmkan dan ditayangkan salah satu stasiun televisi. Sebelumnya, cerpennya pernah memenangi sayemba­ra cerpen majalah Femina 2004, sayembara novelet Femina 2005 dan sayembara novel inspirasi penerbit Andi Jogja.

Pada 2010 lalu, Yudhi menjadi satu dari 15 penulis Indonesia yang diundang di Ubud Writer Festival.

Meski nama Yudhi barangkali belum setenar Andrea Hirata pengarang novel Laskar Pelangi, pada momentum hari buku na­sional yang diperingati pada 17 Mei kiranya tak salah menelisik sepenggal kisah lulusan Jurusan Teknik Arsitektur UNS ini. Apa­lagi ia berpengaruh dalam perkembangan jagat kepenulisan di Kota Solo.

Lahir di Palembang, bakat menulis Yudhi terasah sejak kecil. Di Kelas VI SD, menggunakan pulpen dan buku tulis, Yudhi membu­at majalah. Ia membuat rekaan cerita mirip cerita detektif. Ia la­lu melepas sampul buku dan menggantinya dengan kertas pu­tih. Dan ia menggambari sampul putih itu sesuai tokoh rekaan­nya itu. “Terkumpul sekitar tujuh buah, sekarang masih ada,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Soenarto dan Nunung Rohana ini.

Hobi menulis itu terus berlanjut di SMP dan SMA. Yudhi mulai mengirimkan cerita-cerita pendeknya di majalah Kawanku mau­pun Hai.

Energi menulis

Saat itu, Yudhi belum tertarik menjadi penulis. Di bangku kuliah, Yudhi malah tertarik menggeluti usaha apalagi ketika krisis eko­nomi 1998 menghantam Republik ini. Sebagai anak kos, Yudhi mengaku turut terkena imbasnya. Jatah bulanan sebagai anak kos tak naik. Sementara bahan makanan dan kebutuhan lain­nya melambung tanpa ampun.

Demi melapis kekuatan ekonominya, ia dan teman-temannya di kos El Torros depan kampus UNS membuka berbagai usaha. Ada yang patungan membuka toko komputer, ada yang jualan siomai, buka rental PS. Ia sendiri membuka persewaan buku. “Nama usahanya El Torros semua,” ungkapnya.

Beruntung, usahanya itu cukup menopang kehidupannya seba­gai anak kos. Bahkan usahanya itu sempat berkepak hingga Jogja. Momentum itu membangkitkan energinya lagi untuk me­nulis.

Setelah sukses di bidang usaha itu, Yudhi berpikir me­ngumpulkan sejumlah cerpennya untuk diterbitkan. Pada 2001, ia mengirim belasan cerpennya ke Balai Pustaka.

Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Naskah Yudhi diterima de­ngan syarat ia harus mengganti bahasa prokem yang masih ba­nyak dituangkannya di cerpen. Ia sepakat.

Yudhi mengaku momentum itu membuat hatinya mantap hidup dari menulis. Sempat sih ia melamar di sebuah perusahaan pe­ngembang perumahan. Namun, ia hanya sekadar melamar dan melupakannya begitu saja. ”Hasil persewaan sudah cukup bu­at hidup.” Yang bikin ia tergoda saat itu, ada iklan di Harian SOLOPOS so­al lowongan menjadi penulis yang ditawarkan oleh penerbit An­di Jogja. Di penerbit Andi, Yudhi dibimbing membuat buku. Pada 2002, buku pertamanya berjudul Mengenal Adobe Pagemaker 7.

Yudhi sadar, menulis baginya tak lebih dari panggilan hati. Na­mun, di benaknya pernah terlintas sederet keraguan. ”Dulu ber­pikir, apa bisa hidup dari sastra? Karena dulu banyak sastra­wan yang kere,” ujarnya.

Toh ia bisa menepis keraguan itu. Baginya, banyak hal menge­jutkan yang ia dapatkan dari menulis. Salah satunya ketika da­pat berinteraksi dengan pembaca. Yudhi menyebut buku Perja­lanan Menjadi Cahaya beberapa kali menjadi bahan skripsi. Itu cukup membuktikan, dunia kepenulisan kian membaik. ”Maka­nya saya selalu menyemangati teman yang sedang kehilangan pekerjaan untuk menjadi penulis. Hidup saya tidak akan jauh-jauh dari buku dan kertas,” tandasnya.

http://edisicetak.solopos.com/berita.asp?kodehalaman=h79&id=112973

Iklan