Sebulan sekali, kami menyelenggarakan Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI). Pada Sabtu, 4 Juni 2011, OPMI membahas buku Mata Air Air Mata Kumari karya Yudhi Herwibowo diterbitkan bukuKatta. Berikut ini petikan diskusi OPMI.

Dengan ramuan yang tepat, Yudhi Herwibowo menyuguhkan lokalitas dalam cerita pendek yang penuh kejutan.

KEKUATAN itu ada pada imajinasi dan kejutan di akhir cerita sehingga menjadi hal yang sangat menonjol dalam cerpen Mata Air Air Mata Kumari karya Yudhi Herwibowo, yang dikupas dalam Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI), Sabtu (4/6). Beberapa cerita juga dibiarkan mengambang seakan membebaskan pembaca menentukan akhir ceritanya sendiri.

Selain itu, sebagian besar kisah yang disajikan didasarkan pada legenda dan lokalitas yang berasal dari daerah timur Indonesia. Hal itu dianggap menjadi keunikan tersendiri.

“Saya salut dengan penulis karena bisa mengangkat cerita rakyat yang tidak kita ke nal sebelumnya. Saya jadi penasaran dan ingin tahu lebih banyak,” kata Mauliana, salah seorang peserta dari lima peserta yang mengupas buku kumpulan cerpen tersebut.

Salah satu contohnya adalah cerita pendek yang diberi judul Anak Nemang Kawi yang mengangkat kisah anak-anak Papua. Juga ada Bayi Baboa yang bercerita tentang legenda ular baboa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lainnya, ada kisah Keris Kiai Setan Kober yang berlatar sebuah peristiwa pada zaman Kerajaan Padjadjaran. “Yang menarik, penulis bercerita me lalui sudut pandang sebuah keris,” kata Didiet, peserta lain nya.

Di antara 14 cerpen yang disuguhkan, kisah berjudul Kofa yang berlatar sebuah de sa di NTT jadi salah satu favorit. Kofa bercerita tentang seorang anak bernama Kitta yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Walau ceritanya sangat sederhana,

Naila, yang antusias dalam diskusi itu, menilai ce rita tersebut punya makna mendalam.

“Cerita ini tentang keinginan semua manusia yang ingin dicintai,” katanya. Lama Fa, yang juga berlatar di NTT, memikat hati Mauliana, peserta lainnya. Lama Fa, yang berarti juru tikam paus, bercerita tentang seorang pemburu paus bernama Marten Batanoa yang terhempas di laut.

Kisahnya dituturkan dalam alur berpindah-pindah yang menarik. “Kalau saya perhatikan, kita bisa membacanya dari depan ke belakang dan belakang ke depan. Artinya tidak berubah,” kata Jimmy sependapat.

 Bukan horor

Akan tetapi, sayangnya, buku itu dianggap tak memiliki unsur horor. Sebelumnya, di forum-forum online, buku itu memang di-review sebagai kum pulan cerita yang menakutkan.

“Katanya ada yang sam pai enggak bisa tidur. Ta pi waktu saya baca, saya tidak menemukan horornya di mana,” kata Jimmy.

“Isinya bagus, tapi enggak sehoror itu. Saya agak kecewa karena ternyata ekspektasi horor itu ternyata tak sesuai dengan isi bukunya,” kata Naila.

“Tapi mungkin juga ukuran horor masing-masing orang berbeda ya?” ujar Mauliana menanggapi. Satu-satunya cerpen yang dianggap agak menakutkan adalah Ana Bakka, yang bercerita tentang seorang anak kecil yang dipasung karena membunuh ibu kandungnya sendiri. Namun, Beatrice merasa tak puas dengan cerita itu. Menurutnya, latar belakang cerita tak dijelaskan dengan baik.

“Cerita tentang asal usul fam Bakka misalnya. Kenapa mereka dicap sebagai orangorang jahat?” katanya. “Latar belakang pembunuhannya juga apa? Masalahnya tidak dijabarkan di sini,” kata Mauliana sependapat.

Gangguan

Selain itu, paparan dalam kata pengantar Ana Bakka, yang ditulis Bandung Mawardi, juga dirasa mengganggu. Mauliana yang punya kebiasaan membaca kata pengantar terlebih dahulu sempat dibuat bingung.

“Saya pusing duluan baca kata pengantarnya. Saya jadi punya bayangan kalau isi cerita akan seberat itu juga bahasanya, tapi ternyata bertolak belakang. Karena isinya ringan sekali,” katanya.

“Saya juga baca dua paragraph pertama, tapi akhirnya saya lewati karena enggak ngerti,” kata Jimmy.

Menurut Beatrice, kata peng antar sebetulnya berisi persepsi seseorang yang ditujukan untuk mengomentari karya.

“Saya takut spoiler, makanya saya baca belakangan. Memang pusing, tapi mungkin karena latar belakang Bandung Mawardi sebagai esais, jadi bahasanya rumit,” katanya.

Hal lain yang dipertanyakan adalah pemilihan judul buku. Biasanya, dalam kumpulan cerpen, cerita yang paling kuat akan dijadikan judul buku. Namun, tak demikian bagi cerpen Mata Air Air Mata Kumari yang ceritanya dianggap biasa saja. “Ceritanya biasa saja,” kata Didiet.

“Betul, tidak sekuat cerpen lain. Satu-satunya yang menarik adalah penceritaannya yang diantar oleh sudut pandang angin,” Naila menimpali.

“Menurut saya yang pantas jadi judul buku adalah cerpen Lama Fa karena ceritanya kuat sekali,” kata Mauliana.

Para peserta OPMI lalu menduga cerpen Mata Air Air Mata Kumari dipilih karena terdengar unik dan catchy. Anggapan lain, bisa saja ka rena cerpen itu merupakan satu-satunya yang berkisah tentang cerita rakyat dari luar negeri.

“Nama Kumari itu mungkin unik, ya. Ceritanya sendiri dari Nepal. Sementara yang lain dari Indonesia. Jadi, mungkin akan membuat orang penasaran,” kata Beatrice. (M-1)

 miweekend

@mediaindonesia.com

Iklan