1. Perempuan yang ingin menjadi alunan nada
Moonlight Sonata?
Kau dengar alunan itu? Denting-denting lembut yang muncul dari ujung sana? Samar, merayap, meratap, bagai hembusan angin yang bergelitik? Aku mendengarnya dengan jelas dari bilikku. Sedikit echo telah menambah kekuatan nada-nada yang terbentuk.
Dan aku terpana dibuatnya. Siapa yang bermain piano seindah itu? Rasanya sudah begitu lama aku tak mendengar orang memainkan seperti ini.
Maka segera kubawa kakiku melangkah ke sana. Walau ini malam pertamaku tinggal di sekolah musik ini, aku tahu dari mana asal suara. Sedikit terburu aku melangkah. Tetap dengan menahan setiap langkahnya, agar suaranya tak mengganggu alunan itu.
Semakin dekat, jantungku semakin berdebar. Semakin kurasakan irama yang begitu sempurna. Aku bahkan dapat merasa energi yang pas tekanan jemari-jemarinya pada tuts. Aku hapal lagu ini. Mungkin sudah ribuan kali kudengarkan. Ini adalah lagu pertama yang kudengar dan membuatku terpesona.
Aku masih ingat kala itu, aku masih begitu kecilnya. Sepertinya alunan itu sengaja memilihku, menghampiriku, dan membuatku mendekat. Seorang perempuan jelita kulihat memainkan sonata itu di ruangan gelap dan berdebu.
Aku terpana. Waktu itu adalah kali pertama aku melihat seorang bermain piano. Maka aku tak melepas mataku memadang jemarinya yang bergerak, seperti melakukan sebuah tarian. Kadang lincah, kadang lembut.
Dan ketika ia usai memainkan sonata itu, aku segera mendekat padanya dan berkata, “Bolehkan aku memainkannya?”
Perempuan itu tak nampak terkejut. Ia hanya tersenyum lebar, “Tentu saja.” Ia kemudian mendudukkanku di depannya.
Saat itu aku masih mengingat gerakan jemari perempuan ini, juga nada-nada yang menghampirinya. Semuanya seperti terekam kuat. Tapi tentu semuanya tak semudah itu, walau perempuan itu kemudian meletakkan jemarinya di bawah jemariku, sehingga aku tinggal mengikutinya gerakannya.
Nada-nada kemudian terbentuk. Itulah pertama kalinya aku berpikir ingin menjadi alunan nada. Muncul di udara, membuat orang-orang terbuai mendengarnya, lalu hilang terbang meninggalkan kesan.
Maka seperti kala itu, kini aku pun mendekati alunan nada yang menghampiri tadi. Dengan gerakan ragu, mulai kubuka pintu besar ruangan, tempat kami biasa berlatih piano.
Namun tak kutemui siapa pun di sana. Ruangan itu kosong. Hanya sebuah piano tua dengan cacat mencolok di samping tubuhnya, yang terlihat di ujung ruangan. Namun nada-nada itu, entah mengapa, masih tetap terdengar di telingaku. Sungguh, sama seperti kala itu… Continue reading “Piano, cerpen saya untuk Mbak Sanie B. Kuncoro di majalah Femina (edisi asli, tanpa potongan, tanpa editan)”

Iklan