Image

dan di antara tumpukan buku-buku,yang jumlahnya ratusan lebih itu

aku merasa sangat beruntung, otak ini menggerakkan tanganku memilih buku ini untuk kubaca…

Aku bagai ingin menjadi bocah kecil yang bersembunyi di balik rerumputan lebat dan melihat  dua orang perempuan itu, seorang China dan seorang berambut pirang, yang sedang berpandangan dalam suasana hiruk pikuk di dekat sebuah desa bernama Ciang-kiang.

“Aku akan membawakan bunga-bunga segar ke makam Carrie di musim semi.” Suara perempuan China itu, yang kutahu bernama Willow, terdengar.

“Aku akan segera kembali,” Pearl, perempuan satunya lagi yang berambut pirang, berjanji.

Aku mendengar nada suara keduanya yang sengau. Walau aku tahu, ini adalah kali ke sekian mereka berpisah. Aku selalu yakin mereka selalu akan selalu bertemu lagi. Gambaran persahabatan keduanya entah mengapa terasa sekali begitu erat. Seperti tertemali.

Tapi dugaan itu ternyata salah. Keduanya pun tak menyangka.

Kalau saja aku tahu ini kali terakhir kami bertemu, aku pasti memeluknya lebih lama dan lebih erat. Aku pasti berusaha mengingat bagaimana penampilannya; pakaian yang dia kenakan dan raut di wajahnya. Aku  barangkali bahkan akan berusaha membujuknya, agar tidak pergi.

Suasana begitu terburu kala itu. Kapal Amerika, yang akan menyelamatkan warga-warga Amerika di China, hanya punya waktu beberapa saat saja di sana. Maka untuk membawa piano kesayangan peninggalan ibunya, Carrie, Pearl tak bisa. Semua seakan hanya mengucapkan perpisahan yang tak lengkap, untuk pergi secepat mungkin. Walau detik-detik terakhir Absalom, ayah Pearl, seorang misionaris di sana, memutuskan untuk tetap tinggal di China. Ia hanyalah sekedar menegaskan seperti apa takdirnya.

Dan aku masih ingin menjadi bocah kecil yang ada di situ. Bocah kecil yang masih terlalu rentan memahami sebuah perpisahan, bagaimana pun juga, selalu menyisakan ruang kosong di hati. Tapi tentu saja aku yakin bahwa kisah masih panjang. Kisah masih berlanjut. Dan aku berharap kembali menemukan keceriaan mereka seperti dulu, seperti kala mereka menemukan penjual pop corn, atau pun kala belajar bernyanyi bersama, atau hal-hal lainnya.

Aku masih ingat bagaimana dulu keduanya bertemu. Willow, kala itu mencuri dompet Absalom,  dan itu membuat Pearl harus berlari mengejarnya hingga ia berhasil menangkapnya. Walau ia tak menemukan dompet itu, karena Willow telah terlebih dahulu menyembunyikannya, namun itulah awal persahabatan mereka.

Sejak itu Pearl tak pernah lepas mengikuti Willow. Ia adalah gadis kecil dari barat yang sangat ingin menjadi gadis China, dan terus-terus mengeluh bagaimana rambutnya yang pirang menjadi hitam. Sedang Willow adalah perempuan China yang jatuh cinta pada lagu Amazing Grace tanpa ia tahu apa maksudnya. Namun dari perbedaan yang sangat jelas itulah, keduanya menyatu!

 *****

Kadang ada sebuah buku yang saat kita baca, membuat kita terlempar pada kenangan-kenangan jauh sebelumnya. Membaca Pearl of China tulisan Anchee Min membuatku kembali teringat di masa-masa membaca beberapa buku Pearls S. Buck. Dulu, aku membacanya tanpa tahu di posisi mana genre buku itu berada. Aku hanya membacanya di sela-sela membaca Trio Detektif dan Lupus, tanpa sadar itulah salah satu buku pemenang nobel. Seingatku semuanya lancar-lancar saja. Aku hanya mengenang, buku-buku itu memiliki kalimat-kalimat yang sangat  panjang, sehingga membuatku lebih lama dan lebih lelah membacanya.

Dan kini Anchee Min mencoba menuliskan kisah penulis itu. Entahlah, saat pertama kali melihatnya terpajang di toko buku, aku merasa perasaanku begitu berlebihan. Aku merasa seakan-akan Anchee MIn sengaja menulis buku itu khusus untukku. Walau saat itu aku langsung mengirim pesan pada beberapa teman untuk mengabarkan, tapi aku yakin, mereka tak akan segembira aku.

Anchee Min lahir di Sanghai dengan nama Mín Ānqí pada 14 Januari 1957. Ada yang menarik dari kisah hidupnya, terutama hal yang berhubungan dengan Pearls S. Buck.

Saat remaja, Anchee Min adalah salah satu sosok yang diperintah Madame Mao untuk menjelek-jelekkan Pearls S. Buck. Di tahun 1971, selama Revolusi Kebudayaan, Anchee Min yang saat itu berusia 14 tahun, diperintahkan untuk menuduh Pearl S. Buck sebagai imperialis kebudayaan.  Walau sebelumnya, ia belum pernah mendengar tentang pemenang nobel dengan tulisan-tulisannya yang menceritakan kehidupan orang-orang China biasa itu, namun Anchee Min tetap melakukannya.

Tahun berlalu, Anchee Min sempat dikirim ke kamp pekerja pada usia 17 tahun dimana bakatnya ditemukan untuk studio film Madame Mao’s Shanghai. Ia bekerja sebagai aktris dalam film-film propaganda. Ia pindah ke Amerika tahun 1984 dengan bantuan artis Joan Chen. Dan mulai menulis Red Azalea, yang menceritakan hidupnya selama Revolusi Kebudayaan. Buku itu diterbitkan tahun 1994, dan menjadi buku laris internasional.

Saat ditengah promosi buku itu seorang pembaca bukunya, menyerahkan sebuah novel Pearls S. Buck di tangannya. Kemudian, saat ia membaca buku itu di atas pesawat, saat itulah ia menangis sejadi-jadinya.

“Aku menangis karena baru menyadari bagaimana indah Buck menceritakan kisah orang-orang China, dan apa yang ada di sekitarnya, yang bahkan tak terpikirkan oleh orang China sendiri.”

“Dan aku semakin menangis karena aku baru menyadarinya kemudian. Aku adalah satu generasi yang telah diindoktrin untuk berpikir sangat rendah terhadap Buck.”

Maka itulah ia menulis Pearl of China. Di situ Anchee seakan ingin mengungkap kesalahan masa lalunya dengan menceritakan kisah Pearl S. Buck.

“Aku menulis novel ini untuk menunjukkan dimana sensitivitas Pearl yang besar dan pandangan terhadap masyarakat China dan budaya China berasal,” ujarnya.

 *****

Dan aku terus berharap dapat tetap menjadi seorang bocah yang dapat menyaksikan pertemuan keduanya. Walau aku bisa mendengar ungkap hati Willow, bahwa perpisahan itu adalah perpisahan terakhirnya, namun terus terang aku tetap berharap ada lagi perjumpaan itu.

Tapi suasana saat itu kemudian menjadi begitu memburuknya. Pertentangan kelompok Nasionalis dan Komunis seakan mengebiri semua manusia China yang ada. Namun aku hanyalah bocah kecil yang tak terlalu paham dengan itu semua. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana kesiah persabatan Pearl dan Willow. Tapi kisah yang awalnya halus dan penuh emosi tentang kedua sahabat ini, seperti kisah saat keduanya berkencan dengan laki-laki, kisah bagaimana Pearl melahirkan anaknya, kisah bagaimana mereka berdiskusi sebagai kolumnis, semua itu seakan lenyap! Tergiring ke kisah politik yang pelik.

Bahkan Mao pun pernah berupaya meminta Dick, suami Willow, untuk merayunya masuk ke dalam komunis, “Pearl Buck tidak bisa dibandingkan dengan Edgar Snow, Pearls S. Buck dibaca di semua negara di atas peta dunia. Buku-bukunya diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa. Jika Edward Snow adalah sebuah tank, Pearls Buck adalah bom nuklir.”

Pada upaya terakhir, Willow harus memilih apakah ia mau mengecam Pearl ataukah tidak. Tekanan ini begitu beratnya. Ia tahu, bila ia pada akhirnya mengecam, Pearl akan tetap bisa cukup memahaminya. Namun itu tak pernah dilakukan Willow.

Dan itu yang membuatku luruh. Begitu banyak film-film tentang revolusi China yang membuat orang-orang China menjadi tak bernyali. Begitu banyak buku-buku yang melukiskan permakluman ketakutan-ketakutan itu. Namun Willow, seperti membalikkan pandanganku terhadap itu semua. Ia memilih menolak mengecam Pearls, walau bui jalan untuknya selanjutnya.

Bahkan suaminya pun, sosok yang diam-diam mengagumi Pearl, tak berani pernah berani mengucapkan itu, dan ia memilih membiarkan istrinya dijemput paksa oleh tentara-tentara merah.

Di balik mata teguh tetapi tenang seorang perempuan China, aku merasakan kehangatan yang yang membara. Kami mungkin berteman, dia dan aku, kecuali dia memutuskan terlebih dulu bahwa aku adalah musuhnya. Dia yang harus memutuskan bukan aku.

Sungguh, rasanya tak pernah ingin menuntaskan buku ini. Berharap terus menjadi bocah kecil yang ingin diceritakan kisah yang sama dengan akhir yang berbeda-beda.

 *****

Ada satu hal yang membuat aku begitu menyukai buku ini.

Bagaimana Anchee Min mengajarkanku keberanian menulis buku sejarah. Dulu aku menulis beberapa cerpen sejarah, dan betapa angkuhnya aku membuat catatan kaki yang begitu banyak. Ada rasa bangga. Rasanya puas mendapat data yang tidak pernah didapat orang lain! Seorang kenalan penulis novel sejarah bahkan sampai mencantumkan halaman sumber buku-bukunya!

Tapi membaca Anchee Min saya seperti disadarkan oleh caranya menulis. Sampai hampir separuh aku baca bukunya, aku tak menemukan detil sejarah di buku itu. Ia bahkan dengan berani merubah waktu sejarah untuk sekedar mendapatkan plot yang sesuai. Tapi kisah bagaimana suasana politik saat itu, begitu membekas di hati!

Jadi membaca buku ini aku seperti tersadarkan atas keangkuhan saat menulis. Data memang penting, namun bukan berarti harus diumbar sedemikian rupa!

 *****

Walau tak pernah ingin selesai, tapi sebuah buku tetaplah harus tuntas dibaca. aku harus merasa ‘senang’ Anchee Min menyelesaikannya dengan sebuah kematian. Jadi aku tak perlu lagi berharap-harap ada kelanjutan setelah ini.

Sekedar sajak Sungai Yangtze yang ingin kembali kuulang…

Aku tinggal di tepi Sungai Yangtze, di dekat sumbernya,

Sementara kau tinggal lebih jauh di tepiannya juga

Kau dan aku minum air dari aliran  yang sama

Aku belum melihatmu meski setiap hari aku memimpikanmu

 

Bilakah air sungai ini berhenti mengalir?

Bilakah aku tak mencintaimu sebagaimana sekarang?

Aku hanya berharap dua hati kita berdenyut menjadi satu

Dan kau tak akan kecewa terhadap cintaku padamu

Ah, rasanya ingin terus menjadi bocah kecil di sana. Bocah kecil  yang tak perlu merasa malu saat harus menangis di setiap penggalan-penggalan kisah-kisah ini.

 *****

 Yudhi Herwibowo, penulis sebuah sms pagi ini.

Iklan