Image

aku dengar

bagai mengulang kisah dongeng manusia penakluk api

kau tahu;

dulu, di sepetak tanah yang mulai terpisah dari bumi

pernah ada seorang yang mencapai puncak kedigjayaan

dewa akhirnya memilih dirinya untuk menjadi dewa

namun api cemburu!

saat angin tengah membawa sosok itu ke ujung langit

api membakarnya

namun kesaktiannya tak membuat api menaklukannya

ia tetap bisa bersimpuh di depan para dewa dengan tubuh penuh api

tapi tidak di sini

laki-laki yang masih kerap berada dalam pelukan ibundanya itu

mungkin salah menebak arah angin, karena tubuhnya yang basah keringat

ia berpikir tentang satu hal besar seperti yang terjadi pada Bouazizi

: bersekutu dengan api!

tanpa pernah ia sadar kalau api adalah penghianat besar!

ia mungkin lupa, negeri ini: tak lagi bermata, tak lagi bertelinga, tak lagi berhati

lantas apa api masih menarik perhatian orang-orang?

bukankah semua tahu, komisi lebih penting, rok mini lebih menggairahkan

belagio lebih menarik, ipad lebih mengasikkan?

dan ia: masih menawarkan api?

maka jangan salahkan bila api kemudian murka dan menghabisi tubuhnya

meninggalkan gema menyayat, diakhiri suasana hening yang khusuk

ah, ia benar-benar berharap terlalu muluk

seharusnya bukankah lebih baik ia memerintah api untuk melumatkan bajingan-bajingan tengik itu?!

dan aku kini hanya bisa sekedar mengenangnya: dengan air mata aroma kamboja untuk pusara

tanpa bisa memaki tayangan televisi, dan berita koran yang semakin lama melupa

sembari terus berharap, seperti dongeng lapuk itu, agar angin tetap membawanya melayang ke ujung langit

untuk bertemu tuhan, tentunya

dan terus meyakinkan aku di sini, atau kalian mungkin, kalau tak ada siapa pun yang berpaling sejak hari itu

termasuk dirinya

21 Maret 2012

foto diambil dari: http://culas.blogspot.com/2011/12/sondang-hutagalung.html

Iklan