Image

1

Ia memulai kisah

tentang tukinem, perempuan yang sinar matanya terebut rembulan

yang memilih lelaki, dengan sinar mata tercerabut!

yang anaknya mati, bahkan sebelum sinar matanya rekah

ini: tiga luka tiga pilu tiga perih

cobaan yang melebihi tubuh rentanya

namun ia masih berkata bahwa penderitaan adalah keadilan

seakan ia telah menelan mantra padhang ati bulat-bulat, sebelum seorang pun merapalnya

 

ati-ati katengi aku njaluk padhanging ati

ora ana padhanga ati

damar kurung cumanthel pulunging ati

byar padhang wus oleh padhang ati saking karsaning Allah

 

2

aku adalah penyimpang kata

yang berkelok dalam paragraph

yang membuat siasat mencari air mata dari kata yang bisa terperas

sesuatu yang bukan untuk menantangku, tapi untuk merinduku

 

aku menemukan

pada kisah tiga luka tiga pilu tiga perih

yang tersimpan dalam kotak tua yang penuh rayap

tapi tak ada satu dari binatang kecil itu yang mampu menggerigiti kisah itu

mereka seakan membiarkan kisah itu kembali beranak pinak

hingga anakanakku, cucucucuku, anakanakmu, cucucucumu

kembali bias dikisahkan, tanpa perlu menelan mantra padhang ati

 

ati-ati katengi aku njaluk padhanging ati

ora ana padhanga ati

damar kurung cumanthel pulunging ati

byar padhang wus oleh padhang ati saking karsaning Allah

 

3

engkau memilih tunduk

pada kata, pada kisah

walau itu kisah tiga luka tiga pilu tiga perih

kau bahkan tak lagi bisa mengeja mantra itu!

 

ati-ati katengi aku njaluk padhanging ati

ora ana padhanga ati

damar kurung cumanthel pulunging ati

byar padhang wus oleh padhang ati saking karsaning Allah

 

pagi mojosongo, april – mei 2012

 

 

yudhi herwibowo, seorang penulis tanda hati di pipi kekasihnya

 

* puisi ini masuk dalam antologi buku persembahan untuk ultah sindhunata tahun ini

 

Iklan