Saya bagai debu yang terhempas menuju tanah yang tak terkenali. Sosok asing yang menenteng ransel lusuh dengan selembar undangan sebuah festival: wordstorm.

Image

Selalu, selalu, selalu: beberapa hari sebelum berangkat, dalam suasana tak terlalu tenang ada saja kerikil terinjak. Kamera yang baru direparasi kembali ngadat. Padahal esok paginya saya harus menuju bandara, dan semua uang telah ditukarkan dalam dollar Australia. Untunglah di tengah malam, mbak sanie b. kuncoro mau berbaik hati mentransfer agar paginya saya bisa membeli kamera.

Tiba pukul 03.00 dinihari waktu Darwin, saya berada di suasana yang asing. Surat rekomendasi dari panitia cukup membuat semua lancar. Pak Rizal, dari pihak konsulat Indonesia akhirnya datang menjemput. Ia membawa saya ke rumah konsulat, rumah yang ada di belakang Konsulat Indonesia, yang memang diperuntukkan buat tamu-tamu yang mewakili negara.

Di sana, ada 2 staff konsulat sebelumnya. Hesti dan Niken. Namun Hesti ternyata baru datang sehari sebelum kedatangan saya. Dan baru esok paginya, saya bertemu dengan semuanya, termasuk Mbak Linda Christanty, undangan lainnya di wordstorm ini. Continue reading “Mencari Badai Kata di Wordstorm Festival, Darwin”

Iklan