Saya bagai debu yang terhempas menuju tanah yang tak terkenali. Sosok asing yang menenteng ransel lusuh dengan selembar undangan sebuah festival: wordstorm.

Image

Selalu, selalu, selalu: beberapa hari sebelum berangkat, dalam suasana tak terlalu tenang ada saja kerikil terinjak. Kamera yang baru direparasi kembali ngadat. Padahal esok paginya saya harus menuju bandara, dan semua uang telah ditukarkan dalam dollar Australia. Untunglah di tengah malam, mbak sanie b. kuncoro mau berbaik hati mentransfer agar paginya saya bisa membeli kamera.

Tiba pukul 03.00 dinihari waktu Darwin, saya berada di suasana yang asing. Surat rekomendasi dari panitia cukup membuat semua lancar. Pak Rizal, dari pihak konsulat Indonesia akhirnya datang menjemput. Ia membawa saya ke rumah konsulat, rumah yang ada di belakang Konsulat Indonesia, yang memang diperuntukkan buat tamu-tamu yang mewakili negara.

Di sana, ada 2 staff konsulat sebelumnya. Hesti dan Niken. Namun Hesti ternyata baru datang sehari sebelum kedatangan saya. Dan baru esok paginya, saya bertemu dengan semuanya, termasuk Mbak Linda Christanty, undangan lainnya di wordstorm ini.

Wordstorm

Sekitar 10 tahun yang lalu, saya pernah datang di acara menulis di mana pembicaranya adalah Mbak Linda Christanty. Waktu itu bukunya Kuda Terbang Mario Pinto cukup saya suka, dan sampai sekarang masih saya simpan baik-baik.

Hari ini saya kembali membenarkan ucapan bahwa dunia ini terlalu kecil, terutama lagi sastra, maka kita akan selalu punya waktu untuk bertemu lagi!

Selesai sarapan, saya dan Mbak Linda datang ke worstorm. Hanya butuh beberapa menit ke sana dengan berjalan kaki. Acara wordstorm ada di sebuah taman dengan pohon-pohon besar. Burung-burung dengan seenaknya berterbangan di atas kepala kami. Satu dua bahkan hinggap di rerumputan bekas jejak-jejak kaki kami.

Mungkin saya berekspetasi terlalu tinggi, festibal ubud witer and reader festival yang sebelumnya saya datangi, membentuk bayangan terhadap sebuah festival internasional. Tapi festival ini sangat sederhana. Dengan tenda-tenda besar di tengah taman untuk acara. Tenda-tenda itu diberi nama, mungkin sesuai sponsor, ada Roma Bar, Dummont Bookstore. Beberapa tempat lainnya seperti Browns Mart Theater, Town Hall Ruins, Northern Territory Library, Chan Contemporary Art Space, Harbour View Room yang ada di sekitar tempat itu, juga digunakan sebagai venue. Ini merupakan tempat untuk diskusi serius. Beberapa acara digelar bersamaan. Poetry battle dan acara-acara untuk anak saya lihat di kejauhan. Beberapa orang nampak berkerumun.

Namun saya tetap merasa tak menemukan aura festival yang berlebihan di sini. Sepertinya tak ada badai kata di festival ini!

Menurut mbak Linda acara wordstorm tahun 2005 lebih terorganisir. Kehirukpikukan sangat terasa. Para undangan pun berasal dari beberapa negara. Mereka bahkan menerbitkan antologi dwi bahasa dengan judul Terra. Untunglah saya mendapatkan antologi ini, di hari terakhir sebelum pulang.

Mungkin semua ini karena adanya pergantian ketua acara, beberapa bulan sebelumnya, yang membuat acara ini terasa kurang gayeng.

Hari ini Mbak Linda telah membuat janji dengan Bapak Richard Curtis, dosen bahasa Indonesia dari Charles Darwin University (CDU) di siang hari. Sebelumnya Pak Curtis inilah yang meminta saya untuk tampil di CDU.

Kami sempat mencari makan siang di daerah Smith Street. Bertemu dengan sosok ini membuat saya kembali percaya bahwa dunia itu sangat kecil. Istrinya ternyata orang Solo, dan saya kemudia bertemu beberapa hari kemudian.

Sarapan Pagi Indonesia

Acara saya dan Mbak Linda ada di hari minggu, judulnya Sarapan Pagi Indonesia.

Saya merasa acara ini begitu diistimewakan karena di buku pegangan festival, terlihat iklannya yang cukup mencolok di 2 tempat sekaligus. Walau berkesan seperti konsulat yang membuatnya, sungguh saya dan mbak Linda tidak dalam rangka misi kenegaraan. Saya pikir, kami benar-benar diundang karena naskah kami.

Image Image

Di acara Sarapan Pagi Indonesia, saya sekedar membacakan naskah dan sedikit berdiskusi. Acara yang diadakan jam 8 pagi itu dihadiri oleh sekitar 25-30 orang dengan sarapan nasi goring dan ayam goring khas Indonesia. Pengunjung termasuk cukup banyak bila dibanding acara-acara sehari sebelumnya. Namun hanya ada 1 orang Indonesia di sana.

Saya membacakan cerpen saya Kofa dalam bahasa Indonesia, dan ketua wordstorm, Hammish McDonald membacakan versi Inggrisnya, yang sudah diterjemahkan oleh Mbak Rini Badariah dan Mbak Nita Candra dalam buku Spring of Kumari Tears…

Kofa used to be very cozy. Long, long time ago. One of small hamlets in northern Larantuka, Nusa Tenggara Timur, was once very different. Land was fertile, unlike other hamlets. Why rain fell often, it stayed unanswered. Rinsing the land regularly, as a routine. Therefore, Kofa was unsurprisingly green. It was not only a place for bougenville to grow, but also almost every kind of plants. As if rocks, found in each corner, had been covered by thin humus

Cerpen bertema nusa tenggara yang mungkin membuat saya diundang. Saya tahu hubungan Darwin dan Nusa Tengara Timur cukup dekat. Sejak saya sekolah di Kupang dulu, kerap saya lihat pertukaran guru dan murid antara kota itu.

Tak heran bila mereka sangat mengenal pulau Komodo, juga Lama Fa. Mereka bahkan tahu Pulau Flores dan beberapa kota di sana. Bahkan seorang dosen dari CDU pula, merupakan peneliti di Pulau Pasir.

Acara saya selesai hari itu. Namun Mbak Linda masih memiliki 1 lagi acara di hari itu, AustralAsia, bersama penulis Australia, Singapura, dan beberapa lainnya.

Β 

Charles Darwin University

Image Image

Pihak konsulat mengantar kami di acara keesokan harinya di CDU. Wakil konsulat sendiri, Bapak Anto yang mengantar kami.

Acara di CDU adalah pembacaan karya dan diskusi. Kali ini saya membaca cerpen Lama Fa dalam versi Inggris.

Marten Bataona closed one eye. He turned 360 degrees, but only the blue color of sea that he saw. Several seconds ago, he took a deep breath and panted. He was close to leaving this world. His title as lama fa did not do any good. He’s been a lama fa for almost two years and that kind of thing never happened. His heart beat harder, his legs without energy. He was nothing by the time. As if all he was proud of had gone. Only because of luck, yes, his luck, he could still stand up on pledang right now. Not because he was a lama fa.

Sayangnya pembicara ketiga Ouyang Yu, terlalu lama membaca. Ia membaca 15 halaman papernya, yang entah bicara tentang apa L Sehingga kami hanya punya waktu berdiskusi yang sangat sedikit.

Tapi untunglah acara cukup lancar. Di sini barulah saya bertemu dengan banyak orang Indonesia. Ada mahasiswa dan dosen. Sebagian besar dari mereka berkerudung. Bahkan ada 1 yang dari UMS. Dari mereka saya tahu bila penulis Indonesia 2 tahun lalu di wordstorm festival adalah Andrea Hirata. Namun ia datang benar-benar atas undangan konsulat.

Saya merasa ada kepentingan atas sastra di sini. Isu pelajaran bahasa Indonesia di Australia akan dihapus mungkin penyebabnya.

Setelah itu acara saya dan Mbak Linda adalah berjalan-jalan. Kembali membeli souvenir di Smith Street dan mencari coklat Australia. Sebenarnya saya selalu tertarik mencoba makanan khas suatu tempat yang baru. Tapi apa yang bisa dicoba di Australia? Mereka hanya makan sandwich? Mungkin, Mbak Linda berkali-kali bercanda, saya harus mencoba sandwich dengan daging buaya. πŸ˜€

Namun pada akhirnya Mbak Linda mengajak saya ke sebuah restoran Indonesia: Ayutris.

Sorenya saya sempat diundang kepala konsulat Bapak Ade untuk bertemu di konsulat. Dan kembali dunia terasa begitu kecil: Pak Ade ternyata kerap ke Solo, maka perbincangan yang begitu sederhana yang kemudian terjadi, tentang nasi liwet, tentang sate buntel dan tentang gudeg ceker…

Walf

Malamnya Pak Anto mengajak kami makan malam di Walf, sebuah tempat makan di tepi pelabuhan. Ia mengajak istri dan 2 anaknya yang sangat penurut. Kami bicara tentang banyak hal. Satu yang paling dominan adalah pembicaraan tentang tragedi sukhoi. Di Australia berita tentang Indonesia sangat terbatas, bahkan nyaris tak ada. Untunglah di konsulat, mereka memakai tv satelit sehingga tetap bisa menonton metrotv.

Image

Kami pulang setelah di waktu paling akhir, saat sebagian kursi telah dirapikan. Darwin memang sepi. Sebagian toko tutup jam 5 sore, beberapanya jam 9 malam. Bisa dibayangkan sesepi apa kota ini. Untunglah saya tak sedang patah hati, sehingga kensunyian kota itu tak terlalu terdramatisir J

Pulangnya kami melewati Bugot, perumahan untuk orang aborigin. Banyak cerita tentang suku asli Australia ini yang sudah saya dengar. Namun mendengar secara langsung cerita mereka di negerinya sendiri, menimbulkan gejolak perasaan yang sangat berbeda.

Ada yang menarik tentang suku aborigin ini. Saya bisa melihatnya di beberapa tempat dengan mudah. Bahkan di sebuah taman kami melihat seorang di antara mereka mabuk. Pemerintah Australia memang mengupayakan untuk memberdayakan mereka. Sebagai negara pengusung HAM paling kritis, Australia sangat berupaya untuk itu. Sejarah telah menoreh kalau ribuan aborigin telah dibantai oleh penduduk pendatang dari Inggris dan Eropa ini sejak ratusan tahun lalu. Posisinya telah begitu minim, itulah mengapa pemerintah Australia kini seakan berupaya membayar kesalahan mereka.

Konon setiap orang aborigin setiap bulannya mendapat tunjangan 2.000 dollar. Namun para aborigin ini tak memafaatkan dengan baik. Mereka cenderung royal dan malas. Bahkan menurut Pak Anto, untuk memaksa anak-anak mereka mau sekolah saja, pemerintah harus dibayar!

Sepulang dari makan malam itu, merupakan jam-jam terakhir bagi saya. Sekitar jam 2 dini hari saya harus kembali ke Indonesia, melalui Singapura.

Sebuah pertemuan kadang memang tak pernah tertebak. Seperti sebuah debu yang terbawa angin. Tak pernah terduga akan terbang kemana. Dan saya tentulah menjadi debu yang beruntung dapat terhempas ke tanah itu.

solo 18 mei 2012

untuk info wordstorm: http://www.ntwriters.com.au/

Iklan