Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Tanggal

Oktober 15, 2012

[un]affair, [un]forgetable, [un]predictable, review Ary Yulistiana (penulis 100th Dragonfly)

ImageSebuah catatan kecil dari novel [un]affair karya Yudhi Herwibowo
Ihwal terbitnya novel ini saya ketahui dari kolom berita sebuah surat kabar lokal, yang memuat profil penulisnya. Dalam kesempatan tersebut, sang penulis (siapa lagi kalau bukan Yudhi Herwibowo) mengatakan akan segera meluncurkan novel berikutnya yang bergenre cinta. Diakuinya novel tersebut merupakan novel pertamanya yang bergenre cinta, ehm. Langsung terbayang di benak saya deretan karya penulis yang sungguh baik hatinya itu, mulai dari cerita humor, roman sejarah, sampai kisah-kisah inspiratif.
Dan pada sebuah akhir pekan, saya mencari buku tersebut di Gramedia. Karena malas mencari secara langsung karena banyaknya display di berbagai rak dan meja, dan sedang terburu-buru, saya langsung menuju ke komputer yang ada di tengah ruangan untuk melacak keberadaan buku tersebut. Perlu beberapa kali ketik juga ketika pencarian. Karena bila hanya diketik unaffair demikian, maka tidak bisa muncul judul bukunya.  Lanjutkan membaca “[un]affair, [un]forgetable, [un]predictable, review Ary Yulistiana (penulis 100th Dragonfly)”
Iklan

Mata Air Air Mata Kumari, review Luckty Si Pustakawin

ImageCerpen Mata Air Air Mata Kumari. Kali pertama mendengar kata Kumari, banyak yang mengira (dalam komentar foto kumpulan cerpen ini saat ikut kuisnya) berasumsi bahwa kumari berasal dari kata Jepang. Ternyata salah, kumari berasal dari bahasa Nepal. Artinya Dewi Perawan, gadis kecil yang dipilih berdasarkan waktu kelahiran oleh pihak Istana Nepal, untuk bertugas memberi berkah pada masyarakat setempat. Masa tugasnya berakhir saat menstruasi pertama.

Cerpen Dua Mata Perak mengisahkan pergolakan batin antara sosok ‘Aku’ sebagai ibu dengan anak sematang wayangnya, Aritha. Kedua mata perak itu seakan menusukku, melihat ketelanjanganku. Bahkan aku merasa mata itu juga menembus pintu kamarku, melihat laki-laki yang sedang bertelanjang menantiku di pembaringan (hal.131). Membaca cerpen ini mengingatkan beberapa cerpen yang pernah saya baca, sama-sama mengangkat tema antara ibu yang (terpaksa) menjadi perempuan malam dengan anak perempuan yang menjadi saksi mata kehidupan kotor ibunya . Lanjutkan membaca “Mata Air Air Mata Kumari, review Luckty Si Pustakawin”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑