Saya mungkin terlaImagembat!

Baru setelah membaca Kumpulan Budak Setan (Gramedia, Februari 2010) saya seperti baru tersadar. Saya terkesan dengan satu penulis dari tiga penulis pengisi antologi itu: Intan Paramaditha. Buku yang sejatinya dipersembahkan untuh penulis novel horor Abdullah Harahap ini, memang penuh dominasi kengerian. Namun buku ini nyaris menjadi persembahan kosong bagi Abdullah Harahap. Untunglah ternyata ada Goyang Penasaran di situ, salah satu cerpen Intan Paramadhita yang saya pikir merupakan cerpen paling kuat dari semua cerpen yang ada.

Solihin menangkap dendam pada mata Salimah, mata lelah yang tak lagi berbinar seperti mata kucing.Ia sadar meski keadaan berubah, Salimah tetap cinta dan nafsu sejatinya. Kalau ia belum mendapatkan perempuan yang dulu jadi rebutan,sampai mati pun akan ia perjuangkan.

Itulah yang membuat saya mencari Sihir Perempuan (KataKita, 2005). Untungnya buku yang sudah tak ditemukan di too-too buku itu masih bisa saya dapat di jualanbukusastra.blogspot.com.

Tak butuh waktu lama menyelesaikannya. Saya langsung tertohok pada kisah-kisah yang ada di situ. Saya baru menyadari cerpen Pemintal Kegelapan adalah tulisannya. Saya dulu pernah membacanya di salah satu koran, dan sampai sekarang terbayang kalimat-kalimat penutupnya. Kini saya mendapati kisah-kisah seperti itu terkumpul dalam 1 buku merah!

Tapi kisah paling saya suka adalah kisah Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari. Ada semacam lemparan imajinasi ke masa kanak-kanak saat ayah kerap mendongengi saya dan saudara-saudara lainnya. Intan seperti membawa saya ke masa itu, namun ia menceritakannya kala saya sudah sedewasa ini.

Mari, mari, Nak! Duduk di dekatku. Yakinkah kau ingin mengetahui bagaimana aku menjadi buta? Ah, ceritanya mengerikan sendiri, Nak. Terlalu banyak darah tertumpah seperti saat hewan dikurbankan…

Ia membawa saya ke ruang-ruang sempit yang saat kecil tak pernah saya pikirkan, namun saat dewasa saya coba untuk mengutak-atiknya. Dan ia berhasil. Dongeng yang sejatinya berakhir happy ending, kini dibuatnya penuh dengan darah, dengan akhir yang tak terduga!

Saya juga menyukai Pintu Merah. Sebuah pintu yang dibaliknya penuh dengan misteri tak terbayangkan. Idenya mungkin hampir mirip dengan Narnia. Namun kisah yang dibuat Intan ini tentu jauh lebih kuat. Ia seperti dapat kembali melempar saya pada masa kecil saya. Saat saya membayangkan sebuah pintu tua yang penuh mitos di belakang rumah saya, yang sampai sekarang tak pernah saya buka karena takut. Dan hari ini, Intan seperti membukakan untuk saya, dan menuntun saya berjalan bersamanya.

Sungguh, membaca 11 kisah dalam Sihir Perempuan, saya seperti sengaja dibawa ke taman penuh kabut berwarna hitam pekat. Bahkan mata indah kekasih yang biasanya selalu dapat saya tatap dimana pun, kini hanya samar terlihat. Semua sepertinya hanya kegelapan. Tak akan ada kisah manis di sini, seperti kisah seorang gadis kecil berkepang yang membawa boneka, atau kisah seorang perempuan cantik yang tersenyum manis, atau kisah-kisah ciuman yang membuat tenggorokan kering. Hal-hal seperti itu tak perlu diharapakan. Semua seperti beruntai di kegelapan. Bahkan hingga di bagian akhir.

Ya, satu hal lagi yang cukup kuat dari kumpulan kisah di sini adalah ending yang tak terselesaikan. Beberapa mungkin merasa jengkel, amun saya yakin, bagi orang-orang  punya imajinasi lebih, kalian pastilah akan bersenang hati mengukir kisah lanjutannya, karena Intan seperti terus mengikat kita untuk terus bermain bersama.

Namun tetap saja, sebuah kisah yang dikumpulkan dalam sebuah buku tentu mengandung resiko. Terlebih bila itu mengangkat 1 tema besar yang sama. 11 kisah di sini tentu tak akan sama kuat posisinya. Terlebih Intan membuat resiko dengan menempatkan beberapa kisah yang saya pikir tak sekuat kisah-kisah lainnya di awal buku. Pada Misteri Polaroid, saya merasa kisah ini seperti bukan ditulis oleh dirinya. Kisah itu sangat standart. Lurus seperti orang yang berjalan ke depan dengan pelita yang sudah terlihat di ujung tujuan. Ia sepertinya lupa menaburkan kabut gelap di situ.

Tapi tentu saja itu bisa dimaklumi. Toh, kadang kita tetap butuh pelita di kegelapan.

Iklan