ImageIni seperti di luar bayangan saya.
Saat pertama kali menerima telefon dari Imam Muhtarom untuk membicarakan Sriwijaya di Borobudur Writers and Cultural Festival 2012 (BWCF 2012)dengan tema Musyawarah Agung Penulis penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara, saya masih merasa tak percaya. Novel yang sudah dirilis 4 tahun lalu itu, sebenarnya nyaris lenyap dari muka bumi. Bekasnya seperti samar-samar saja. Namun buku selalu punya nasibnya sendiri! Jadi saya mengiyakan saja tawaran itu. Awalnya saya kira ini festival biasa. Namun saat beberapa minggu kemudian, saat saya menerima proposalnya, ternyata dugaan saya salah.
Selain pembicara-pembicara senior, ada juga 150 peserta aktif yang diundang. Seluruhnya penulis-penulis ampuh di nusantara. Apalagi sebulan sebelum acara, saya sempat bertemu dengan Mas Seno Joko Suyono dan Imam Muhtarom, 2 konseptor acara selain Mbak Dorothea Rosa Herliani dan Wicaksono Adi, di Omah Sinten, Solo. Dari sini saya mulai merasakan keseriusan yang tak biasa!
Tiba-tiba saya merasa tak enak. Saya lihat lagi nama-nama seluruh pembicara, semuanya merupakan pembicara senior. Saya tiba-tiba merasa kecil sendiri. Saya bahkan sempat berpikir untuk menjadi peserta aktif saja. Tapi beberapa teman saya yang saya curhati malah bicara, “Siapa lagi yang sudah menulis Sriwijaya selain saya?”
Teman saya itu salah. Sebenarnya ada beberapa penulis lagi yang menulis tentang Sriwijaya. Tapi buku-buku itu memang terbit belakangan. Lanjutkan membaca “Perayaan di Kaki Borobudur, catatan kecil tentang Borobudur Writers and Cultural Festival 2012”
Iklan