Image

Penerbit : Sheila

Tebal : 200 Halaman

“Di sebuah perjalanan, kau akan menemukan apa saja, Duara. Sebuah kisah yang aneh, seorang sahabat yang baik, dan kalau sudah cukup besar nanti, sebuah cinta yang dalam..”

Baca buku Perjalanan Menuju Cahaya dan [Un]affair nya Yudhi Herwibowo sungguh membuat saya kesengsem sama genre drama & romance karya beliau. Walaupun sebenarnya Perjalanan Menuju Cahaya ini lebih ke arah Magic Realism, satu lagi genre favorit saya selain Dystopia.

Kalo yang belum terlalu familiar dengan genre Magic Realism, salah satu contoh visualisasinya (dalam film) yang paling fenomenal adalah Big Fish. Karena itulah buku2 bergenre magic realism sangat mudah tergelincir ke prasangka plagiarisme film Big Fish. Padalah memang begitulah magic realism, kayak berjalan di sekumpulan taman penuh dongeng. Dan film Big Fish memang sangat menginspirasi. Dan terdapat perbedaan maha besar antara “terinspirasi oleh” dan plagiat. Karena itu saya angkat topi buat pengarang yang dalam pengantarnya menguraikan bahwa salah satu inspirasi buku ini adalah film Big Fish.

Cerita dibuka dengan dipecatnya seorang pemuda dari kantor tempatnya bekerja, Duara namanya. Duara yang sedang merasa sangat kecewa karena peristiwa tersebut tak lama kemudian menerima telepon bahwa kakeknya, yang sering ia panggil Opa Mora telah meninggal dunia di kampung halamannya di Ende, Maumere.

Duara tidaj berfikir panjang untuk segera pulang kampung ke Ende, walaupun harus meninggalkan kekasihnya Shi, di Jakarta. Apa yang Duara ingat tentang Opa Mora?. Opa Mora adalah seorang pendongeng yang hebat dan Duara menyimpan kisah2 itu dalam hatinya.

Di Ende Duara bertemu dengan Ayahnya. Namun karena urusan pekerjaan Ayah Duara harus segera pulang. Momen baru saja kehilangan pekerjaan dimanfaatkan Duara untuk menghabiskan waktu sejenak.

Dari hasil pembicaraan dengan beberapa kerabat, Duara menyimpulkan jika mereka menganggap semua dongeng Opa Mora hanyalah kebohongan belaka. Duara menemukan pertentangan di hatinya. Apalagi setelah beberapa hari setelah kematian Opa Mora datang sebuah surat yang diantar oleh seorang utusan. Utusan tersebut menyebutkan bahwa surat itu dikirimkan oleh seorang Tiku terakhir.

Pada akhirnya Duara memutuskan untuk mencari orang yang mengirimkan surat tersebut, sambil melakukan napak tilas perjalanan penuh dongeng Opa Mora. Dan seseorang tidak akan pernah tau apa yang akan ia alami ketika ia memulai sebuah perjalanan. Akankah Duara menemukan jawaban? Persahabatan? Atau… cinta yang mendalam?

Akhh.. Walau endingnya bikin saya gigit jari namun saya tetap mengacungkan dua jempol untuk cerita ini. Magic Realism Indonesia pertama yang saya sangat nikmati kisah per kisahnya.

“Kau tahu, apa yang sebenarnya membuatmu menjadi orang yang begitu berarti, Duara? Jawabannya begitu sederhana : saat seseorang begitu mengharapkan dirimu. Itu saja.”

Iklan