Dan kelak akan lahir
Satu manusia yang dipilih
Yang mengawali kehidupannya sebagai budak hina
Namun, kemudian menjadi raja
Yang dikenang sepanjang waktu (hlm. xxiii)

Kisah yang terdiri dari tiga bab ini; Batavia, Kartasura dan Pasuruan berisi riwayat Untung Surapati sejak bayi hingga liang kubur. Jujur, sebelum membaca buku ini, saya kurang begitu familiar dengan perjuangan seorang Untung Surapati dalam memperjuangkan tanah air tercinta ini. Ternyata perjuangan beliau tidak kalah semangat. Sosok Untung Surapati ini mengingatkan tentang perjuangan Pangeran Diponegoro yang lebih kita kenal. Dia juga ditakuti para penjajah:

Barangsiapa yang bisa menangkapnya, apabila ia orang biasa, akan diberi gelar mantra, dan apabila ia berpangkat mantra, akan diberi hadiah empat desa yang subur, berikut nama yang harum. (hlm. 507)

….. dan perang adalah sebuah jalan! (hlm. 544)

Lewat buku ini kita akan menemukan banyak sekali pengetahuan sejarah yang diselipkan tanpa terkesan menggurui seperti buku pelajaran sekolah. Seperti asal-usul nama Batavia, tentang seluk-beluk VOC dan lain-lain.

Ada hal menarik tersendiri dari segi nama Untung Surapati. Untung, sebab saat beliau kecil selalu memberikan serba kebetulan sebagai faktor menyelamatkan nasib Mijnheer Moor yang membelinya saat menjadi budak.

Raden Surapati dinyatakan secara jelas bersalah telah melakukan fitnah dan berusaha membunuh tamu yang telah berjasa bagi tanah Cirebon, Sultan Cirebon pun tak segan lagi memutuskan untuk menghukum mati anak angkatnya itu. Sebagai bukti penyesalannya yang dalam, Sultan Cirebon kemudian menganugerahkan gelar Surapati kepada Untung. Sejak itulah, Untung dikenal dengan nama Untung Surapati.

Dilabeli roman sejarah, memang sangat terasa sekali kisah sejarah yang dibalut nuansa romantika para tokoh-tokohnya. Dari sekian banyak tokoh yang ada, tokoh favorit saya adalah Raden Ayu Goesik Kusuma yang selalu setia hingga akhir hayatnya.

“Dari semua yang sudah terjadi pada kita, maukah… engkau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?” (hlm. 145)

Baru aku sadari kalau aku ingin terus bisa bersama Kakak. Aku ingin terus bisa melihat Kakak setiap hari… Dan, aku ingin terus bisa memegang tangan Kakak seperti ini. Apa… ini semua berlebihan? (hlm. 255)

Tapi, kita tak bisa terus melihat masa lalu dalam langkah-langkah hidup kita seterusnya, bukan?
Menikah dengan perempuan lain, bukan berarti menepikan dirinya… (hlm. 374

Aku akan tetap selalu membiarkan sepotong hati Kakang untuk masa lalu Kakang), tapi berikan bagian hati Kakang yang lain kepadaku walau itu sedikit saja… (hlm. 539)

Ada pengetahuan yang menarik dalam buku ini yang kurang familiar di telinga kita, Pohon UPAS. Apa itu?
Konon ketika tentara Portugis di bawah Alfonso d’Alberquerque menyerbu Malaka 1511, hampir semua tentaranya terbunuh oleh panah beracun pohon upas. Nasib yang sama dialami oleh tentara Belanda pada abad 17. Rumor yang berkembang, bahkan burungpun akan jatuh dan mati jika berani bertenger di rantingnya. Saking kalang kabut dan takutnya Belanda, mereka berusaha menangkap seorang pribumi, lantas menyiksanya agar menunjukkan penawar racun pohon upas tersebut.

Dalam buku Loves of The Plants oleh Erasmus Darwin bahkan diceritakan, keampuhan pohon upas untuk mengeksekusi penjahat. Terhukum hanya disuruh berdiri saja di bawah disekitar pohon upas menunggu angin yang melaluinya. Ketika angin telah menerpa tahanan, dari dua puluh tahahan hanya dua orang tahanan yang bisa kembali dengan selamat. Meski cerita ini hanya rumor saat itu, namun mengukuhkan betapa ganasnya bisa pohon upas, si pencabut nyawa.
(Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/environment/2027132-bunga-bunga-cantik-pencabut-nyawa/#ixzz3qB0iKNJl)

Untung Suropati (lahir di Bali, 1660 – meninggal dunia di Bangil, Jawa Timur, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang berjuang di Pulau Jawa. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.

Kisah Untung Suropati yang legendaris cukup banyak ditulis dalam bentuk sastra. Selain Babad Tanah Jawi, juga terdapat antara lain Babad Suropati. Penulis Hindia Belanda Melati van Java (nama samaran dari Nicolina Maria Sloot) juga pernah menulis roman berjudul Van Slaaf Tot Vorst, yang terbit pada tahun 1887. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tetaplah hidup karena kehidupan begitu sempurna. (hlm. 153)
  2. Kadang, kita hanya melakukan kejahatan untuk bertahan hidup, atau membela keyakinan kita. (hlm. 157)
  3. Hidup ini adalah pilihan. Kupikir, mereka telah tahu resiko ini semua. (hlm. 521)
  4. Karena di masa yang akan datanglah, kupikir sesuatu yang indah pada akhirnya tiba. (hlm. 539)
  5. Kita tak akan pernah terlepas benar-benar dari masa lalu, bukan? (hlm. 538)
  6. Kematian selalu menyisakan kepedihan. Seperti sebuah luka yang kembali menganga setelah lama tersimpan. (hlm. 607)
  7. Kita memang tak harus kembali lari ketakutan untuk bersembunyi. Ini tanah kita, dan kitalah yang menentukan nasib kita sendiri. (hlm. 627)
  8. Dan, perasaanlah yang kemudian menunjukkan arah. Sedalam apa seseorang mencintai, sedalam itu pula arah yang akan ditunjukkan. Semuanya tampak begitu sederhana. (hlm. 117)
  9. Mewujudkan kekuasaan sendiri.. Membuat hidup kami menjadi lebih bermanfaat,, (hlm. 522)

Dari segi isi, perlu diacungkan dua jempol untuk penulisnya yang mampu menuliskan cerita roman sejarah yang ciamik ini. Takjubnya lagi, disela-sela menulis buku ini, penulisnya mampu menulis dua buku lain. Waktu kali pertama pegang dan lihat halamannya yang berjumlah 660, sempat berpikir ragu apakah bisa menyelesaikan untuk membacanya. Ternyata, dari halaman pertama langsung kepincut. Deskripsinya detail sekali. Pemilihan font dan spasi antar paragrap juga nyaman untuk membacanya. Hanya perlu dua hari untuk menyelesaikan buku ini. Ahhh…seandainya saja semua kisah para pahlawan dibuat roman sejarah seperti ini, tentu banyak generasi muda kita yang mencintai sejarah dan mengingat para pahlawannya… ˇ)-c  

Dan itu bukan karena matahari yang berputar menentang arah..
Bukan karena hari yang terlupa bergerak maju..
Bukan karena ombak yang tak kembali dari pesisir..
Juga bukan karena kepompong yang tak menjadi kupu-kupu..
Tapi sekadar jawaban dari sebuah penantian.. (hlm. 218)

Keterangan Buku:
Judul                : Untung Surapati
Penulis              : Yudhi Herwibowo
Penerbit            : Tiga Serangkai
Editor               : Sukini
Desain sampul  : Rendra TH
Layouter           : Tri Mulyani Ch.
Terbit               : Februari 2011
Tebal                : xxviii + 660 hlm.
ISBN               : 978-602-98549-1-6

http://www.facebook.com/notes/luckty-giyan-sukarno/review-untung-suropati/10151093576402693

Iklan