ImageSungguh, bila saya membayangkan hidup dalam novel Mo Yan, Big Breast and Wide Hips (BBWH), saya pastilah akan merasa sangat ketakutan!

***

Novel  yang meraih nobel sastra tahun 2012, adalah novel tentang perjuangan seorang perempuan bernama Shangguan Lu. Dari rahimnya lahir 9 anak. Harapannya dan keluarga untuk mendapatkan anak laki-laki  membuatnya  mau melakukan apa pun. Ya , apa pun. Suaminya, Shangguan Shouxi,  terlahir mandul, sehingga ia harus bercinta dengan beberapa laki-laki yang tak sesuai dengan harapannya. Ia bahkan bercinta dengan pamannya, atas keinginan bibinya. Dan hampir semua laki-laki membenihkan rahimnya digambarkan begitu buruknya. Maka anak-anaknya Shangguan Lu muncul dari benih keterpaksaan, bukan cinta. Baru di hubungan yang terakhir, dengan Pastor Malory, ia mendapatkan anak kembar bermata biru dengan berambut merah.  Seorang di antaranya adalah laki-laki.

Ialah Shangguan Jintong! Sang anak penuh harapan!

Namun apa daya Jintong tumbuh sebagai seorang pecundang. Ia terobsesi dengan (air susu) payudara. Hingga di umur 13 ia masih menyusu. Bahkan sampai umu 42 tahun obsesinya pun masih saja menyusu. Mo Yan seakan-akan ingin membalikkan asumsi bila laki-laki yang selalu diharapkan menjadi penanggung jawab dan penerus keluarga, kadang terlahir di luar harapan.

Pelajaran yang diambil dari kisah ini sampai bagian ini adalah: jangan pernah berharap terlalu tinggi akan apa pun, biasanya tuhan suka memberi surprais dengan membalik harapan itu!

Anak-anak perempuan Shangguan Lu, yang lahir bukan karena cinta dan tak terlalu diharapkan, bahkan memiliki peranan melanggengkan keluarga Shangguan. Mereka tanpa disadari terlibat pada era-era kelam politik di China sejak Jepang masuk hingga Partai Komunis berkuasa. Pada puncaknya Xiangdi, yang memilih melacur, akhirnya menunjukkan peran paling menakjubkan di novel ini. Di ujung kisahnya, saat ia kembali pada ibunya, ia menderita penyakit kelamin yang parah. Tubuhnya begitu bau, hingga kutu-kutu pun digambarkan pergi dari tubuhnya. Kisah kembalinya Xiangdi adalah bagian paling emosional di novel ini.

***

BBWH adalah novel dengan kekuatan penuh. Novel dengan tebal 750 halaman ini punya paragraf-paragraf yang gemuk, dan bahasa-bahasanya lugas sepanjang lembar-lembarnya. Metafora khas China juga diselipkan, walau sebagian metafora itu untuk melukiskan payudara. Mo Yan seakan membuat novel tanpa bernapas, dan menginginkan kita para pembaca, merasakan itu juga. Alur bergerak dengan cepat. Jalinan cerita terjadi bagai kilasan lampu jalan, saat kita mengendarai mobil malam hari di jalan tol. Sungguh, saya akan merasa sangat berdosa bila melewatkan 1 paragraf darinya, karena itu dapat membuat saya tersesat!

Sekian hari, Mo Yan seakan telah menjadi penjuru bagi saya, dan mengesampingkan beberapa buku yang telah saya baca sebelumnya.

Walau jujur saja, kesan pertama membaca novel ini, saya berpikir Mo Yan terlalu kejam. Ia punya kebiasaan buruk dengan menanggapi kematian tanpa ekspresi. Kematian Shangguan Fulu, Shangguan Shouxi, dan Shangguan Lu (ibu mertuanya), bahkan kematian-kematian anak-anak Shangguan seperti Zhaodi, Lingdi,Quidi, hanya dilukiskan dengan 1-2 kalimat. Kematian seakan menjadi tak penting. Begitu dingin. Itulah kenapa begitu menakutkan hidup di novel ini. Kita akan mudah hilang, terlupakan tanpa bekas!

Mo Yan juga terlalu berlebihan melukiskan payudara, bahkan imajinasi payudara di anak balita sekali pun. Mo Yan juga seperti tak berlaku adil dengan menciptakan laki-laki yang hampir seluruhnya brengsek. Sun Gagu yang hanya bisa bicara ‘Copot, copot, copot!’, Sima Ting, Sima Ku, Sha Yueliang, dan lainnya. Saya sempat berharap tokoh Sima Liang, anak Sima Ku, merupakan sosok yang berbeda. Sosok baik-baik. Namun di akhirnya, ia pun tetap saja menjadi brengsek dengan membiarkan Sha Zaohua mati.

Mo Yan juga seperti melupakan Yunu, kembaran Jintong, yang terlahir buta. Karakter paling saya sukai ini, adalah karakter tak banyak cakap dan pengalah, karena selalu memberikan jatah air susu pada Jintong. Kisah terakhirnya saat ia pergi meninggalkan rumah karena tak mau menjadi beban bagi ibunya. Sungguh, sampai sekarang saya masih  berharap mata saya telah terlewatkan ending kisahnya. Dan itu membuat saya  membayangkan ia pastilah akan baik-baik saja, karena ketidaksempurnaan yang diciptakan tuhan padanya, tentulah layak dibalas dengan kebahagiaan.

Namun kecanggungan-kecanggungan kecil itu seperti tak berbekas bila kita meruntuti semua kalimat-kalimat di novel ini. Sungguh, Mo Yan terlalu piawai untuk dicap kejam, dicap berlebihan, dicap pelupa, dan dicap terobsesi payudara! Karena bagian-bagian terbaik, jauh lebih banyak bertebaran di seluruh novel ini.

Maka ketika saya sampai di 100 halaman terakhir novel ini, saya terus-terusan merasa sangat beruntung telah membaca novel ini, dan merasa melakukan hal yang tepat ketika mengusulkan novel ini dalam diskusi Pawon bulan Januari ini. Saya bahkan yakin, kelak saya pasti akan ada di urutan pertama membeli buku-bukunya selanjutnya…

***

Iklan