Imagebaru tanggal 14 februari 2013 lalu, buletin sastra pawon membuat acara ultah bertema surat. Dan malamnya atas anjuran seorang teman, saya akhirnya membeli novel grafis kim dong hwa, sepeda merah. Saya langsung membelinya  2 seri, karena tak mau mengulang kesalahan seperti dulu saat membeli seri warna tanah 1 seri demi  1 seri.  Karena sialnya seri ketiga buku itu ternyata terlanjur diretur oleh pihak toko… L

seperti biasa saya suka gambar-gamabar eyang kim. Rapi dan detail. Apalagi khusus sepatu merah ini, setiap halamannya penuh dengan warna. Bisa dibayangkan keindahan apa yang terjadi karena paduan eyang kim dan warna-warna? Saya suka eyang kim karena ia bukan tipe komikus yang hanya menggambar 2 kepala orang saat dialog. Angle2nya luar biasa. Ini mungkin yang menyebabkan buku ini disebut novel grafis… 🙂

kisahnya tentang seorang tukang pos muda berdedikasi yang menghantarkan surat-surat ke penduduk desa dengan sepeda merahnya. ia tak butuh alamat. rumah-rumah hanya ditandai dengan dengan ciri khasnya, seperti: rumah besar bercat putih, rumah tua di antara pepohonan hijau, rumah dengan seorang perempuan yang selalu melambaikan tangan.

di seri pertama buku ini, yahwari, kita seperti diberi kisah-kisah pendek yang menyentuh hati. saya suka saat penduduk yang kebanyakan sudah tua-tua, ternyata menunggu tukang pos itu sebagai rutinitas. dan  tukang pos muda itu selalu menghibur para penduduk yang menunggunya dengan mengatakan; ‘hari ini tak ada surat.’ Padahal jelas, sang penunggu itu tahu kalau memang sudah sekian lama ia tak menerima surat. Tukang pos yang baik hati itu seperti memberi penghiburan baginya dengan menyebutkan: hari ini.

Saya suka di bagian ketika tukang pos itu diceritakan mengantarkan seorang perempuan muda dan membocengkan di belakangnya. Ia akan mengatakan bagaimana menikmati perjalanan ini. Ia bahkan sampai perlu menuntun sepedanya karena melewati sebuah sungai yang jernih.

saya juga suka pada saat saat eyang kim menggambarkan tukang pos muda itu tengah meniup dandelion, yang kemudian berterbangan di atas kepalanya.

ah, surat memang membawa nostalgia sendiri bagi saya. Mungkin saya dari angkatan jadul yang masih merasakan saat tukang pos mengantarkan surat dengan membawa sepeda. Ia akan membuat saya berlarian keluar dengan terburu saat mengkring-kring bel sepedanya. Saya bahkan mengalami masa pacaran saat menggunakan surat. Sehingga betapa seringnya saya, dan dia, saling berkirim surat waktu itu. Hingga petugas kantor pos begitu hapal, walau saya suatu kali lupa menulis nomor alamat rumahnya.

sepeda merah seperti mengisahkan nostalgia itu semua. walau tema2nya hanya cerita2 kecil yang teramat sederhana, tapi sungguh, tetap menyenangkan bisa membacanya… 🙂

Iklan