“Para pencerita piawai adalah pesulap-pesulap yang baik. Mereka berusaha mengubah yang nothing menjadi something, atau sebaliknya dengan berbagai cara, dengan berbagai nonsens dan kebetuilan. Hasilnya mungkin kekosongan yang indah. Mungkin keriuhan yang sublim. Ke-12 pencerita dalam buku ini telah berjuang keras menghipnotis pembaca. Tak semua pembaca takjub atau mungkin kecewa karena tak semua pencerita mampu mengubah hal-hal biasa menjadi sesuatu yang terlalu. Tetapi percayalah setiap kreasi pencerita adalah sulapan kreatif yang mendebarkan hati kita…”
(Triyanto Triwikromo, sastrawan pemeroleh Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa)

JOGLO 14

cerpen saya di antologi ini adalah budak sang mestizo, cerpen sejarah tentang seorang bernama Pieter Elberveld yang diduga akan memberontak pada voc.  ia kemudian dihukum secara mengerikan. untuk menakut-nakuti, voc kemudian membangun sebuah monumen. Kelak monumen itu diberi nama  Monumen Pieter Elberveld. Dulu letaknya ada di Jalan Jakarta (sekarang Jalan Pangeran Jayakarta), sehingga orang2 dapat dengan mudah membaca tulisan di monumen itu:

Sebagai peringatan yang menjijikkan akan penghianat Pieter Erberveld yang dihukum, tak seorang pun sekarang atau untuk seterusnya akan diijinkan membangun, menukang, memasang batu bata menanamkan di tempat ini.Batavia, 14 April 1722.

Namun pada tahun 1942 monumen itu dihancurkan tentara Jepang yang baru tiba.

Iklan