ImagePernahkah kau mendengar kisah tentang seorang mestizo, yang mengalami kematian paling mengerikan di negeri ini? Ia disiksa hingga tubuhnya hancur. Tangan dan kakinya yang diikat, kemudian dikaitkan pada 4 ekor kuda yang dipacu kencang dengan arah berlawanan, hingga tubuhnya pun tercerai berai menjadi beberapa bagian. Tak hanya di sampai di situ, kepalanya kemudian di gantung di gerbang kota untuk dipertontonkan kepada khalayak, dan ketika membusuk, dibangunlah untuknya sebuah tugu setinggi 2 meter yang di atasnya dipasang sebongkah tengkorang dengan tombak yang tertancap!

Kau mungkin sudah tak ingat lagi tentang kisah itu, tapi aku akan selalu mengingatnya dengan jelas. Sangat jelas, sejelas setiap kata yang ditulis di tugu pengingat itu:

Sebagai peringatan yang menjijikkan akan penghianat  yang dihukum, tak seorang pun sekarang atau untuk seterusnya akan diijinkan membangun, menukang, memasang batu bata menanamkan di tempat ini. Batavia, 14 April 1722.[1]

 

***

 

Aku adalah laki-laki yang terlahir dengan jiwa tercerabut.

Aku tak pernah ingat masa kecilku, atau aku memang tak ingin mengingatnya. Aku hanya tahu ketika umurku tak lebih dari lima tahun, seorang lelaki bertampang menakutkan tiba-tiba menyodorkan gulali padaku. Walau takut, tapi gulali itu begitu menggoda. Namun sebelum tanganku benar-benar menyentuh gulali itu, lelaki itu sudah meraih tubuhku, dan memasukkanku ke dalam karung.

Sejak itulah aku menjadi budak belian. 15 tahun berpindah tangan dari satu tuan ke tuan lainnya. Tak ada yang cukup lama mau memeliharaku. Mereka hanya bisa bertahan beberapa saat saja, sebelum akhirnya kembali menjualku. Kata mereka; perangaiku tak cukup baik. Tapi apa perduliku? Hatiku telah membatu dan tubuhku telah kebal dengan segala siksa. Aku yakin mereka tak akan sampai berani membunuhku. Aku tahu beberapa kejadian pembunuhan budak, membuat seorang dapat diperkarakan. Ini tentu akan menjatuhkan reputasi. Maka itulah mereka pasti lebih memilih tak mencari masalah, dan menjualku saja.

Tapi ternyata, tak semua tuan yang membeliku berpikir sepengecut itu. Seorang Belanda, yang sebelumnya kunilai sangat dungu, tak kusadari memiliki mata berkilat bagai binatang buas, dan bongkahan hati bagai iblis.

Ia memerintahkan marechaussee’-nya[2] untuk membawaku ke sebuah ruang rahasia. Di situ tubuhku ditelanjangi, lalu kedua tangan dan kakiku diikat pada setiap sudut pembaringan dengan posisi tengkurap. Lalu setiap malam belanda dungu itu akan menyelinap datang dan mengeluarkan cambuk untuk menyiksaku, sebelum mengakhirinya dengan menusukkan kemaluannya di lubang duburku.

Kau tak akan pernah bisa membayangkan kesakitan yang kulalui di sepanjang malam-malam laknat itu. Rasa perih seakan tak pernah selesai. Darah yang meleleh, bagai penuh dengan butiran jarum. Melukai kulit yang terlalui, seakan tertancap ketika mengering.

Tapi aku tak pernah memohon ampun padanya sekali pun. Saat itu, keinginanku hanyalah untuk membunuhnya. Begitu ikatan tanganku lepas sekali saja, akan kucekik belanda dungu ini sekuatku.

Tapi kesempatan itu tak pernah muncul. Kediamanku setiap malam, rupanya membuatnya semakin tak bernafsu. Napasnya tak lagi sememburu dulu saat aku berteriak-teriak kesakitan. Gerakannya pun tak lagi secepat dulu.

Maka di hari yang entah ke berapa, ia membuangku begitu saja, bagai sampah bacin di tepian Angke!

 

***

 

Tapi garis nasibku belum berubah. Para pedagang budak berhasil kembali menemukanku, dan menjualku pada seseorang Belanda lainnya. Ah, kali ini bukan Belanda, tapi seorang mestizo, berdarah inlander dan Jerman.

Hanya menatap sekali saja, membuat tanganku langsung bergetar hebat. Dadaku terasa sesak. Siap terbuncah. Terlebih saat melihat senyumnya mengembang. Sungguh, guratannya benar-benar tak berbeda dari senyum belanda dungu yang membuangku sebelum ini. Tiba-tiba saja keinginan untuk mencekiknya muncul begitu saja!

“Kau nampak kumal,” ujar lelaki itu. “Bersihkan dirimu. Kau sekarang ada di tempat yang tepat.”

Aku menyeringai dalam hati. Tempat yang tepat dia bilang? Bagaimana mungkin aku berada dalam sebuah tempat yang tepat, bila aku masih menjadi seorang budak?

Tapi aku tak membantahnya. Sama seperti tuan-tuanku sebelumnya, lelaki ini pun selalu di kelilingi beberapa pengawal yang membawa senapan panjang. Tentu saja aku tak ingin melakukan sesuatu yang konyol di depannya. Maka aku pun hanya bisa mengikuti seorang pelayannya, yang menempatkanku di sebuah bilik bersama beberapa budak lainnya.

Ada 3 budak lainnya di bilik kecil ini. Dan aku menjadi yang termuda. Awalnya mereka mencoba bersikap ramah padaku. Namun aku benar-benar tak tertarik untuk membina hubungan dengan para kroco ini. Maka aku pun tak mengindahkan mereka. Ini yang kemudian membuat mereka tak lagi perduli denganku. Seorang yang bertubuh paling besar, bahkan kerap menendangku tanpa alasan, saat aku tertidur. Tapi semua itu tak lagi kuperdulikan!

 

***

Orang yang membeliku kali ini bernama Pieter Eberveld. Walau bukan orang Belanda, tapi semua orang memanggilya Mijhneer[3]. Ia termasuk pedagang asing paling sukses di Batavia. Ayahnya, Peter Erberveld senior, merupakan seorang pengusaha kulit binatang yang berasal dari kota Elberfeld[4]. Dari sinilah ia mewarisi kekayaannya.

Semakin hari, aku semakin tahu reputasinya. Ia dikenal cukup baik di sini. Mungkin karena darahnya separuh pribumi, membuat hubungannya dengan pribumi cukup baik. Saat College van Heemraden[5] menyita ratusan hektar tanahnya dengan alasan tanah itu tak memiliki akte yang disahkan oleh VOC, banyak pribumi yang membelanya.

Tapi tentu saja aku tak perduli dengan itu semua. Aku hanya tahu semua orang yang memelihara budak, layak untuk mati! Dan untuk meredam gelora keinginan itu, aku sebenarnya tak ingin ada di dekatnya. Aku lebih suka mengangkuti kotak-kotak barang, seperti yang dilakukan budak-budak yang telah bertahun-tahun mengabdi padanya. Namun entah mengapa, mestizo ini selalu memilihku untuk menemaninya berburu rusa. Di belakang rumahnya yang besar, memang ada sebuah hutan kecil yang dilalui anak Sungai Angke. Di situlah kerap terlihat rombongan rusa tengah beristirahat.

Seminggu sekali, biasanya aku akan menemaninya pergi ke sana. Aku akan memanggul bekal dan perlengkapannya lainnya, sambil berlari mengikuti kudanya yang berderap cepat. Ia kadang memintaku untuk mencari jejak-jejak, dan mengamatinya. Tentu itu sebuah permintaan yang percuma. Ia masih memperlakukanku seakan-akan aku adalah budaknya yang penurut. Sungguh tolol.

Tapi mestizo ini sepertinya tak pernah menyadari kediamanku selama ini. Dia seakan tak perduli dengan pendangan mataku yang tajam padanya. Saat kami beristirahat, ia bahkan kerap mengajakku berbincang, layaknya seorang kawan.

“Kau tahu, aku sudah mendengar kisah tentangmu,” ujarnya suatu kali.

Aku berkerut kening, tak mengerti kisah apa yang dia maksud.

“Orang yang membawamu padaku mengatakan kalau kau sudah tak lagi memiliki siapa-siapa, karena seluruh keluargamu meninggal karena wabah penyakit.”

Dalam hati aku tersenyum sinis. Pedagang budak bajingan itu rupanya telah mengarang sebuah cerita untukku, dan nampaknya kisah itu cukup membuat mestizo ini bersimpati padaku!

“Kau tahu, aku berbeda dengan lainnya,” ujarnya. “Kau akan mendapat gaji karena ikut denganku.”

Hatiku semakin menyeringai. Jelas sekali ia mencoba menarik simpatiku dengan menjanjikan beberapa sen uangnya padaku. Apa ia tak sadar bila nilai itu sama sekali tak berarti bila dibanding dengan keinginanku untuk pergi?

“Aaah, lihat! Rombongan rusa itu datang,” ujarnya tiba-tiba. Lalu tanpa menunggu reaksiku ia segera menyiapkan senapannya. Dan hanya dengan sekali letusan, seekor rusa jatuh. Rusa yang lain pun segera berlarian.

“Sayang sekali,” ujarnya sambil menatap ke depan. “Aku sebenarnya tak suka berburu dengan senapan seperti ini. Kau hanya akan mendapatkan seekor saja buruanmu, dan membiarkan yang lain lepas, Seharusnya akan lebih baik dengan memakai perangkap, kau bisa mendapatkan beberapa rusa sekaligus, tanpa perlu mengotori tanganmu.”

 

***

Semakin lama, aku semakin tak tahan! Rumah megah ini telah menjadi penjara bagiku. Aku benar-benar ingin pergi. Tapi bagaimana mungkin? Setiap sudut rumah selalu dijaga marechaussee’. Aku sama sekali tak melihat ada celah untuk melaluinya. Kesempatan paling mungkin hanyalah saat aku pergi menemani mestizo ini ke hutan. Saat itu, aku mungkin bisa menyelinap untuk melarikan diri. Tapi apa aku dapat benar-benar keluar dari kota ini? Pedagang-pedagang budak pastilah akan mendengar kabar tentangku, dan mereka pasti akan berusaha kembali menangkapku. Selain itu pula, mestizo ini pun tak akan tinggal diam. Bisa jadi ia akan melaporkan kejadian ini pada VOC, atau memerintahkan anak buahnya mengejariku!

Bedebah! Aku tak ingin hidup selamanya seperti ini!

Di tengah kecamuk pikiran seperti itu, aku mendengar percakapan 3 budak lainnya di sudut bilik.

“Aku melihat kedatangan Raden Kartadriya[6],” suara budak yang biasa menendang diriku setengah berbisik.

Tanpa menggerakkan tubuh, aku diam-diam menajamkan telingaku.

“Aneh, bertamu malam-malam begini?” sahut lainnya.

“Seperti sedang merencanakan sesuatu yang buruk saja!” ujar budak yang pertama. “Kita semua tahu bukan, siapa Raden Kartadriya itu. Kudengar ia baru saja gagal melakukan pemberontakan di luar benteng.”

 

***

Dan percakapan samar itu, benar-benar menimbulkan gejolak yang tak terduga di kepalaku!

Ya, aku tahu, selama ini kebencian mestizo itu telah menumpuk pada VOC. Dulu, saat College van Heemraden menyita ratusan hektar tanahnya, permasalahan tak selesai sampai di situ saja. Gubernur Joan van Hoorn bahkan malah menambah hukuman dengan mewajibkannya menyerahkan denda 3300 ikat padi kepada VOC.

Seiring pikiran itu, semua seakan terkuak di otakku. Satu persatu kejadian kecil yang selama itu kulihat dan kurasakan bagai menemukan simpulnya…

Kotak-kotak besar panjang yang hanya diangkuti oleh budak-budak yang telah lama mengabdi, dan kemudian selalu dipindah-pindahkan di waktu-waktu tak tentu, tentu bukanlah barang sembarangan. Terlebih dengan ngiang ucapan-ucapan yang seakan menjadi echo abadi di kepalaku…

Seperti sedang merencanakan sesuatu yang buruk saja…

Semua kemudian bagai susunan kata-kata yang mulai terangkai dari huruf-huruf yang acak…

Kita semua tahu bukan, siapa Raden Kartadriya itu. Kudengar ia baru saja gagal melakukan pemberontakan di luar benteng…

Bagai susunan kalimat-kalimat yang terbaca dari susunan kata-kata tak bermakna.

Ah, satu pertemuan yang dilakukan oleh dua sosok yang sangat membenci VOC? Aku menyeringai. Semuanya tiba-tiba menjadi terang bagai matahari yang semakin meninggi. Semuanya menjadi sangat sederhana.

Maka esok paginya, di kesempatan paling cepat yang datang padaku, aku sudah menyelinap dari tapak-tapak kuda sang mestizo di depanku. Aku berlari bagai kesetanan, hingga aku yakin laki-laki pucat itu tak akan menyadarinya sampai lama.

Dan Kantor VOC-lah tujuanku. Di sana nanti akan kuungkapkan semua yang beberapa hari ini telah kusimpulkan. Sesuatu yang akan membawa lelaki pucat itu ke tempat seharusnya dia berada. Sungguh, sudah kubayangkan hukuman apa yang akan terjadi padanya, dan mungkin pula pada kawan pribumi itu!

Pastilah, sesuatu yang lebih perih dari yang kurasakan selama ini!

Aku menyeringai penuh kemenangan, sambil tak lupa mengucapkan terima kasih pada mestizo itu, karena dari ucapannya kala berburu dulu itulah, aku tak perlu lagi mengotori tanganku untuk membunuh!

 

*****

 


CATATAN

[1]Tulisan pada Monumen Pieter Elberveld yang dibangun VOC sebagai peringatan terhadap pemberontakan Pieter Elberyeld. Dulu letaknya ada di Jalan Jakarta (sekarang Jalan Pangeran Jayakarta). Pada tahun 1942 monumen itu dihancurkan tentara Jepang yang baru tiba.

[2]  Marechaussee’ (Belanda), marsose, polisi militer

[3] Mijnheer (Belanda): menir / tuan

[4] kini merupakan bagian kota Wuppertal di negara bagian Nordrhein-Westphalen, Jerman

[5] Dewan Heemraden semacam dewan yang mengurusi kepemilikan tanah, pembangunan, penataan dan perawatan jalan, jembatan, kanal, dll.

[6] Seorang Raden dari Jawa Tengah, keturunan Sunan Kalijaga Adilangu. Sejak tahun 1690 banyak membantu perjuangan rakyat dengan tekun mengumpulkan senjata.  Kelak pada tanggal 23 Januari 1722 bersama Pieter Erberveld ia dijebloskan dalam tahanan VOC dan disiksa agar mengakui rencana perlawanannya. Bulan April 1722, ia mendapat siksaan yang sangat mengerikan, digantung pada tiang salib dan dipereteli dengan tang yang panas. Setelah mati, mayatnya diikat dan ditarik oleh dua ekor kuda. Tempat hukuman kelak dinamakan Kampung Pecah Kulit.
Iklan