ImageBerabad-abad yang lalu ada penyihir besar yang bisa berkomunikasi dengan para zar, roh-roh yang memerintah – atau sebenarnya, salah mengatur – dunia kita. Waktu penyihir ini mati, dewa langit sedih sekali, karena sekarang tak ada lagi yang cukup kuat untuk mengendalikan para roh. Air mata pahit Tuhan jatuh ke atas makam si penyihir, dan di mana air matanya jatuh, semak kopi pertama tumbuh. (halaman 616)

Sewaktu membaca blurbs di cover novel The Various Flavours of Coffee karangan Anthony Capella, 3 hal yang menarik perhatian saya: seorang calon penyair, kopi-kopi yang istimewa dan sebuah perjalanan panjang ke negeri eksotis.

Coba bayangkan, apa yang bisa terpikirkan dari 3 hal tersebut?

Hanya sebuah kisah menarik yang kemudian saya bayangkan.

Kisahnya awalnya terasa sangat sederhana. Tokoh aku, Robert Wallis, selalu menganggap dirinya seorang penyair. Tanpa disangka, ditawari sebuah pekerjaan besar gara-gara komentarnya tentang kopi yang sedang diminumnya terdengar oleh seorang pengusaha kopi. Pengusaha itu Samuel Pinker, seorang pengusaha kopi.

Robert kemudian ditawari untuk membuat sebuah pedoman tentang kopi. Dan dengan terpaksa ia kemudian menerimanya. Di sela-sela pekerjaannya itulah, ia kemudian jatuh cinta dengan dengan sang putri atasannya itu, Emily Pinker, yang cerdas dan sangat liberal. Namun ia tahu posisinya, maka ia sama sekali tak berani untuk berbuat lebih jauh. Tak heran setiap ia ke rumah pelacuran, perempuan-perempuan seperti Emily-lah yang kemudian dicarinya.

Seiring berjalannya waktu, Robert yakin bila atasannya berniat menawarkan sang putri padanya. Tentu ini adalah harapan yang berlebihan. Pinker hanya menawarinya sebuah karir di perusahaannya. Namun ia ternyata tak menutup pintu bila sang penyair tetap bisa mendapatkan putrinya bila ia telah mendapatkan banyak uang.

Maka pergilah Robert menuju Afrika, untuk membuat perkebunan kopi pertamanya.

***

Sampai di akhir halaman, harapan saya tentang novel The Various Flavours of Coffee dapat terpenuhi. Ceritanya semakin lama semakin menarik. Alurnya lancar terjaga. Walau saya bukan pecinta kopi sejati, namun secara continue saya selalu minum kopi. Sehingga membayangkan kopi yang begitu istimewa, rasanya sebuah sisi lain yang sangat menarik.

Banyak sekali formasi data tentang kopi di novel ini. Namun anehnya Anthony Capella tak membuat data-data itu seperti layaknya data. Ia menjelaskannya bagai sebuah percakapan biasa, yang dapat kita terima dengan mudah. Ini saya pikir inilah satu kelebihan novel ini.

Satu yang saya suka, tokoh aku, begitu dekat dengan gambaran-gambaran penyair-penyair besar yang pernah saya kenal sebelumnya melalui film-film dan buku-buku. Ia dengan mudah membicarakan Oscar Wilde, bahkan Rilke. Jelas sekali penulisnya memasukkan diri terlalu dalam di bagian ini. Ternyata ini merupakan bentuk kekaguman penulis terhadap penulis-penulis di era itu, 1800-1900.

Anthony Capella sendiri merupakan penulis kelahiran Uganda, Africa, tahun 1962. Ia merupakan lulusan Sastra Inggris di St Peter’s College, di Oxford. Buku pertamanya, The Food of Love, telah diterjemahkan dalam 19 bahasa. Sama seperti novel keduanya, The Wedding Officer. The Various Flavours of Coffee, adalah novel ketiganya. Sedang The Empress of Ice Cream dan Love and Other Dangerous Chemicals novel-novel selanjutnya.

***

Selain kisah seorang penyair, kopi dan perjalanan panjang, dapat disimak juga kisah tentang gerakan perempuan di masa-masa awal. Kisah ini dilukiskan begitu kuat dari sosok Emily Pinker. Ada juga kisah tentang perbudakan, yang digambarkan begitu kuat karena sosok Fikre, yang pada akhirnya menjalin hubungan dengan Sang Penyair sendiri. Ini merupakan hubungan yang panas dan membuat pembaca, mungkin, menghentikan napas sejenak. Namun yang malah membuat saya semakin kagum, Anthony Capella ternyata memasukkan pula – kalau boleh saya katakan – pelajaran bisnis.

Kenapa saya sebut pelajaran, karena dari cara dia mengelolah perusahaan kopinya, tanpa sadar kita seperti melalui step by step untuk menjadi entrepreneur. Ini saya sadari sangat terlambat. Baru saat  Samuel Pinker bertemu seorang rekanan dari Amerika itulah saya baru menyadarinya. Ketika itu si Amerika bertanya, bagaimana ia memasarkan brand-nya?

Dan Pinker menjawab, dengan memberi kupon di dalamnya, untuk potongan harga di pembelian selanjutnya.

Dan jawaban ini ternyata bukanlah jawaban yang tetap. Si Amerika kemudian menjelaskan tentang pentingnya brand. Bagaimana dalam iklan kita tak perlu detail memberikan kelebihan-kelebihan produk. Cukup citra yang dibutuhkan. Sungguh, mendengar uraian-uraiannya saya langsung teringat dengan buku Siasat Bisnis milik Hermawan Kertajaya, buku yang pertama-tama saya baca saat memutuskan berwiraswasta.

Maka di hari itu, Minggu 26 Mei 2013, selepas Pilkada Jawa Tengah, dalam Klub Buku Pawon yang ada di rumah saya, saya katakan kalau saya senang bisa membaca buku ini. Buku ini memberi saya banyak sekali dari yang saya harapkan dari sebuah buku. Sangat banyak!

***

The Various Flavours of Coffee – Anthony Capella

Penerbit Gramedia Pustaka Utama – 660 halaman

Alih Bahasa Gita Yuliani K. dan Editor Tatyana Subianto

Iklan