ImageSalah satu program Pawon yang saya sukai adalah Klub Buku Pawon. Ini diskusi dengan konsep tantangan. Awalnya kami sekedar ingin membedah buku layaknya film Jane Austin’s Book Club. Tentu bukunya haruslah khusus. Ndilalah, kadang buku yang terpilih adalah buku baru yang tebal dan harganya cukup mahal. Tapi itulah tantangannya? Berani membeli. Berani menyelesaikan. Berani mengomentari.
Suatu kali saat saya mempromosikan buku untuk diskusi itu, seorang kawan mengirim sms; kenapa selalu buku-buku mahal? Awalnya saya ingin menjawab, namun saya mengurungkan niat karena saya ingat siapa dia. Kawan saya itu saya kenal sebagai orang yang enggan membeli buku. Padahal dia juga seorang penulis buku. Saya ingat di kamarnya, ia hanya memiliki sebuah rak buku kecil yang memuat tak lebih dari -mungkin- 50 buku. Kondisi itu tak jauh berbeda dari 5 tahun lalu. Ironisnya, selain  menulis, ia sebenarnya juga bekerja dengan gaji yang lumayan.
Akhir-akhir ini ia mengeluh sulit menembus penerbit. Buku-buku yang sudah ditulisnya tidak ada yang laku. Dan yang lebih mengenaskan: ia kebingungan mau menulis apa lagi?
Saya jadi ingat kisah-kisah tentang penulis yang berupaya keras memperoleh buku. Chairil Anwar bahkan harus menjual pakaiannya untuk bisa membeli buku. Tak hanya penulis yang ternama, beberapa kawan penulis juga punya pengalaman yang tak jauh berbeda. Kisah-kisah mereka bisa dilihat di buku Aku & Buku.
Saya sendiri harus menabung untuk memiliki sebuah buku. Seperti kala membeli buku Mengarang itu Gampang karangan Arswendo Atmowiloto, saya harus menabung sampai berbulan-bulan. Waktu itu saya masih SMP, dan buku itu berharga Rp. 2.500. Itu tergolong mahal.
Jadi saya pikir membeli buku bukan perkara memiliki uang atau tidak. Itu soal kebiasaan saja. Kawan saya itu memang tak pernah memiliki kebiasaan itu. Ia lebih sibuk memikirkan gadget terbaru, dan menggantinya tiap 1-2 tahun sekali. Tapi ia selalu sesumbar  menganggap dirinya pecinta sastra.

Mungkin orang-orang seperti kawan saya inilah yang membuat buku sastra selalu diterbitkan, namun tak pernah laku. Lebih parahnya lagi, saat ia menulis buku, ia berharap orang-orang membeli bukunya, tanpa pernah ia berkaca kalau selama ini ia tak pernah mencoba membeli buku penulis lain?
Sebagai teman, saya tentu selalu berharap yang terbaik untuknya, tapi mungkin ketidakadilan perlakuannya selama ini yang sekarang harus dibayarnya! *

Iklan