ImageKadang dibalik sesuatu yang indah, ada kisah pahit di baliknya.

Entah quotes itu milik siapa, saya hanya seperti pernah membaca atau mendengarnya di suatu tempat yang tak saya ingat, dan mungkin bisa jadi tempat itu ada di otak saya sendiri.

Dan quotes itu ternyata pas sekali dengan kisah hidup sosok pelukis besar Vincent Van Gogh. Irving Stone dalam novelnya Lust for Life (Serambi, 22012) seperti bisa hadir di sana untuk mengisahkannya. Penulis yang terkenal karena beberapa novel yang diangkat dari biografi ini, memang sudah terkenal piawai menulis kisah-kisah semacam ini.

Van Gogh adalah legenda besar. Keberadaannya bagai dewa. Nama besarnya melebihi pelukis mana pun di dunia, bahkan di tata surya. Kalau kita mencoba mencarinya di google search, kita akan mendapati hampir seluruh lukisan-lukisannya terpampang di mana-mana. Tapi walau telah setenar itu, tetap tak banyak yang mengetahui kisahnya secara detail.

Padahal Van Gogh seakan terlahir untuk dikisahkan. Jalan hidupnya bagai kisah sebuah drama yang membuat pengunjung bertahan untuk menyelesaikannya. Dan Irving ternyata dapat menuangkannya dalam kisah yang runtut dan sistematis. Seraya mengisahkan, ia mampu mengajak kita pada sebuah petualangan dari satu kota ke kota lainnya.

Kota-kota itu seakan memang sudah disiapkan sebagai latar dari kisah besar ini. Dalam London, ada kisah pahit tentang cinta yang tak berbalas, dan itu kembali diulangi dalam Etten dan Neunen. Lalu ada bagian-bagian khas kehiduan pelukis di Bornage, Den Haag, Paris dan ST. Remy. Bahkan di kota-kota seperti Arles keduanya terjadi secara bersamaan. Sungguh, bila kita memiliki waktu membuat skema tentang kota-kota itu, kita seperti menemukan kalau kota-kota itu seakan memang telah digariskan Tuhan, bukan Irving, untuk menyeimbangkan kisah hidup sang pelukis

Sekedar curhat, kegigihan hidup Van Gogh begitu dekat dengan kehidupan seorang penulis. Pada masa itu beberapa penulis besar, yang juga disebutkan oleh Irving Stone seperti Shakesperare , Zola, dll, juga mengalami masa yang berat. Dan Irving dapat masuk ke dalamnya dengan baik. Ia tak meninggalkan kekhasan perbincangan antar para pelukis yang ada. Ia juga tak hanya membuat narasi, namun mampu membuatnya dalam percakapan-percakapan yang hidup, seakan-akan ia begitu menguasai semua yang ada di kepala tak hanya Van Gogh, tapi juga para pelukis lainnya.

Saya jadi terpancing untuk mengenal beberapa di antaranya. Berharap perbincangan mereka dapat saya masuki lebih dalam. Entahlah, saya merasa perlu tahu, bagaimana bisa sosok Van Gogh dan Gauguin begitu terpesona pada cara Seurat melukis. Lukisan seperti apa sebenarnya yang dibuat Seurat? Saya juga merasa harus tahu siapa sosok Anton Mauve, yang sampai membuat Van Gogh bersusah hati untuk belajar padanya. Maka itulah saya mencoba mencari mereka. Mencoba melihat lukisan-lukisan yang sudah dibuat mereka.

Ini berapa pelacakan saya:

Anton Mauve dan salah satu karyanya

200px-AntonMauve  Image

Paul Gauguin dan salah satu karyanya

Image   Image

Georges Seurat dan salah satu karyanya

150px-Georges_Seurat_1888  Georges_Seurat,_1889-90_Chahut,_Kröller-Müller_Museum,_Otterlo,_Netherlands

Henri de Toulouse-Lautrec dan salah satu karyanya (potret Vincent Van Gogh)

Image   Image

Karena itulah, saya kemudian menganggap kisah ini menjadi sangat penting. Ada hubungan erat antara semua pelukis. Sebagian bernasib kelam. Dan itu membuat saya merebung: sebenarnya bila kisah kehidupan sudah sedemikian muram, lalu untuk apa lagi sebuah fiksi? Itu tentu saja semacam pertanyaan yang tak perlu dijawab.

Yang pasti membaca Lust for Life membuat saya kagum pada Irving. Ia mampu mengeksplorasi tokoh utama tanpa melupakan tokoh-tokoh pendukungnya. Ia tak memudahkan diri dengan menciptakan tokoh fiksi lainnya. Ia teguh kalau keberadaan tokoh-tokoh itu pun penting untuk diceritakan.

Sunguh, kisah ini bagai candu. Saya sampai mengkhayal, mungkin ada baiknya para penderita putau beralih pada novel ini. Candu yang diciptakan sepertinya lebih dasyat dari putau, terutama di bab Den Haag.

Saya pikir inilah bagian terbaik dari seluruh buku ini: kisah percintaan Van Gogh dengan Christine (dalam kehidupan nyata, nama perempuan ini bukanChristine), seorang pelacur yang telah memiliki anak. Di sini kisah terasa bergerak sangat liris. Irving tak perlu repot-repot membuat metafora, ia hanya menceritakan sebagaimana biasanya, namun kelirisannya sama sekali tak bisa ditampik. Bersama perempuan inilah kita dapat merasakan sosok Van Gogh yang begitu penuh kebaikan. Setelah kita terkagum-kagum dengan upayanya di Borinage sebagai pendeta yang dibuang karena sebuah sistem, kisah ini seperti menggumpalkan kebaikan-kebaikan itu. Terlebih saat Van Gogh berniap untuk menikahi perempuan itu, Irving berhasil mengiring saya pada sebuah kesyahduan yang pekat.

Namun terlepas dari semua kisah besar itu, ada satu yang kemudian saya catat tebal-tebal: sosok Theo Van Gogh. Kebaikan hatinya seakan menjadi sebuah kisah fiksi yang biasa diciptakan penulis. Kisah tentangnya tentu bukan sekedar fiksi. Ini seperti yang diakui Irving di penutup novel ini, bila semua kisah dalam buku ini, selain 2 hal, adalah benar adanya. Jadi saya membayangkan seorang adik yang begitu menyayangi dan percaya pada kakaknya, sehingga rela mengirimi 100 franch setiap bulan, di tengah kondisinya sendiri yang belum cukup mapan. Itu adalah  hal yang menggetarkan hati. Tiga tumpuk surat dari Van Gogh yang disimpannya rapi, dan suratnya saat mengirimi uang 400 franch untuk lukisan pertama kakaknya yang laku, benar-benar menggugah. Terlebih harapannya membentuk sebuah pameran tunggal untuk kakaknya. Sungguh di bagian ini pembaca berhati baja pun, saya pikir luluh. Theo Van Gogh seperti menyempurnakan kisah Vincent Van Googh. Dan saya tak bisa membayangkan bagaimana kisah pelukis besar ini tanpa kehadirannya.

Maka saya merasa sangat senang saat Irving mengakhiri kisah keduanya seperti di bagian akhir novel ini. Itu adalah puncak dari drama perjalanan kakak beradik yang dirangkainya sepanjang buku.

Tak ada kata lain: ini adalah buku dari seorang tokoh besar, dengan alur kisah yang mengagumkan dan ending yang sempurna. Jadi apa lagi yang bias saya harapkan? Sungguh, sampai saya menulis review buku ini, saya masih terus merasa beruntung bisa menyelesaikan buku ini.

***

Semua foto saya ambil dari Wikipedia.com

Iklan