ImageDulu, saya termasuk orang yang ikut berkusak-kusuk mengomentari cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo (TT). Mungkin tanpa TT tahu, ia sudah menjadi bahan pembicaraan sejak lama. Namun sayangnya pembicaraan kadang berlangsung abu-abu. Misalnya saat cerpen TT dimuat di salah satu media, beberapa kawan langsung menepuk jidat sambil mengeluh, aduh cerpen yang bikin pusing nih

Saya selalu mengamini keluhan itu. Tanpa saya sadari, saya jadi sosok egois yang sudah memandang terlalu tinggi kapasitas otak saya, sehingga menafikkan cerpen-cerpen yang kurang saya pahami.

Dan itu ternyata berlangsung sampai beberapa tahun. Untungnya cerpen minggu selalu datang. Kebiasaan membaca cerpen minggu itu menjadi rutinitas. Siapa pun yang menulis, tentu akan dibaca. Mungkin, bila TT merupakan penulis yang hanya menulis 2-3 tahun, saya pasti akan terus mengenangnya sebagai penulis yang sulit. Namun ternyata, selama lebih dari 10 tahun konsistensinya tetap ada. Maka walau masih kerap memandang rumit, saya tetap membaca kisah-kisah yang disajikan TT.

Dan waktu ternyata mejawab segala hal. Lama-lama entah kenapa, saya merasa lancar membaca cerpen-cerpen TT. Dari Ikan Terbang Kuffah, Burung Api Situ dan Lengtu Lengmua semua lancar. Bahkan yang panjang-panjang dan terakhir dimuat di media pun seperti semakin enak dinikmati.

Saat mulai membaca Celeng Satu Celeng Semua (CSCS) sebenarnya saya mungkin sudah membaca lebih dari 3-4 cerpen di situ. Namun dasar kapasitas memori saya memang kelas pentium jadul, saya tak terlalu mengingat secara detail. Jadi pembacaan kedua ini, tetap terasa seperti pembacaan pertama.

Kesan pertama saya terhadap pembacaan cerpen-cerpen di CSCS, adalah saya tiba-tiba seperti berada dalam lorong pekat, tanpa memasukinya lebih dahulu, namun tiba-tiba saja berada di situ. Lorong yang benar-benar gelap. Gawatnya saya tak tahu di mana saya awalnya berada, di tengah, di ujung, atau di mana, saya haya bisa meraba-raba dan membiasakan mata saya dalam kepekatan hingga tiba di ujung.

Saya tipikal penulis yang mengutakan kekuatan tema cerita. Tentu ini saya lakukan karena saya merasa tak cukup istimewa membuat diksi. Maka itu saya punya rumus sendiri untuk sebuah cerpen: pemilihan tema yang tak biasa, alur yang istimewa, dan ending yang tak tertebak. Saya sendiri tak cukup mampu mengembangkan sebuah cerita dengan diksi yang indah, liris, atau pun puitik.

Dan saya menemukan ke10 cerpen dalam CSCS dengan kategori yang saya suka: semua kisah tak biasa. Tema-tema begitu kuat. Ini bisa ditandai dengan mencoba menyimpulkan cerpen itu menjadi satu kalimat. Di situ kekuatannya akan terasa sekali. Saya yakin ide-ide ini mungkin tak terjamah oleh penulis lain. Kisah tentang perempuan berkulit hitam yang merasa tertepikan di Mata Sunyi Perempuan Takroni, kisah tentang Pangeran Diponegoro dalam Sayap Kabut Sultan Ngamid,dan tentang gundik Kun Sha dalam Iblis Paris. Kisah berkelok-kelok bagai sebuah permainan tebak-tebakan. Kalau pun kita mencoba berhenti, kita tak akan cukup mengerti bagaiamana endingnya, dan kalau pun kita mencoba menebak, kita hanya menjadi penebak yang alpa.

Sungguh, di akhir saya membacanya saya menyimpulkan bila buku ini adalah: buku 10 kisah, 10 pembacaan dan 10 perasaan.

Tentu ini bukanlah hal yang mudah. Membuat kumcer dengan kisah-kisah yang semuanya kuat sering dianggap tujuan kedua, atau kesekian. Karena keterbatasan pemuatan di media, dan media yang berbeda-beda tipenya, tanpa disadari penulis cerpen sering terjerumus dalam kumcer yang diuatnya. Ada bagian-bagian yang kita sangat suka, namun di bagian lain, kita menyesalkan kenapa ada cerpen yang dipaksakan berada di situ. Namun di CSCS, perasaan itu tak saya rasakan.

Kisah-kisahnya sendiri sebenarnya hanyalah kisah realis. TT sendiri dalam sebuah obrolan, pernah mengatakan kalau cerpen-cerpennya memanglah realis. Namun cerpen realis di tangan TT terasa berbeda. Ia khusuk pada kepekatan. Tak mudah memberikan pelita, walau setitik sekali pun. Bahkan untuk membuatnya semakin membuat berbeda, kadang TT membuat bagian-bagian yang seharusnya realis menjadi semu dan fana.

Coba lihat di penutup ini:

Namun lihatlah! Zulaikha masih tetap termangu di pintu makam. Puluhan, tidak-tidak, ratusan merpati yang kemruyuk di gundukan tanah kelabu (o jelmaan malaikatkah mereka) tiba-tiba melesat di atas kepala perempuan kecil itu. Mereka menukik ke arah Mesjid Nabawi, melambai-lambai sayap, seakan-akan mengajak Zulaikha meninggalkan daerah pertempuran

Atau yang ini;

… Aku hanya ingin kau tahu kereta yang sesaat berenti di stasiun itu memang semula ingin menumpahkan aku dan 99 pasang malaikat yang ingin merayakan pernikahan indahmu dalam hujan hijau, dalan sihir angin Friedenau. Tetapi tak ingin menjadi hantu pengganggu, mungkin kuurungkan keinginanku mampir di apartemen barumu. Mungkin aku hanya akan menatap sepasang reptil bercinta dari kejauhan…

Jadi, saya kemudian membuat kesimpulan sendiri, membaca cerpen-cerpen TT nampaknya kita hanya perlu dituntun hingga akhir, dan selesai. Kita tak usah repot-repot menjadi pembaca yang nakal menebak-nebak. Karena itu saya pikir akan sia-sia.

Namun selalu ada ada celah dari sebuah karya. Pada kenyataannya, penulis kadang tergelincir, tanpa ia sadari. Di antara 10 kisah ini, ada upaya TT membuat sesuatu yang mainstream dan telah menjadi pendapat umum di masyarakat, untuk dibolak-balik sedemikian rupa. Memunculkan sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama. Dalam satu sesi perbincangannya di Solo, secara berulang TT berupaya terus untuk melakukan itu. Ia bahkan mencontohkan kisah-kisah wayang yang dibuat dengan perspektif itu.

Namun dalam cerpen Sayap Kabut Sultan Ngamid, saya merasa itu sesuatu yang malah berkebalikan. Cerpen tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro ini, hampir sama dengan cerpen saya Lukisan Sejaran (Koran Tempo). Namun dalam cerpen itu, TT, saya rasa, malah mengikuti mainstream yang suda ada. Dalam banyak tulisan tentang penangkapan Diponegoro, masyarakata Jawa, kadang memandang terlalu tinggi kisah itu. Mereka mengatakan pangeran junjungan mereka itu sebenarnya kebal dan sakti mandraguna, sehingga sebenarnya mudah saja untuk kabur dari Belanda. Dan TT ternyata mengikuti pandangan-pandangan itu. Ia bahkan berdiri di  muka atas pandangan mainstream itu.

Selain itu, ada satu lagi yang membuat saya sedikit bertanya-tanya. Kumcer yang merupakan naskah terbaik selama 10 tahun ini, saya rasa memiliki diksi-diksi yang nyaris sama. Tak ada upaya percobaan pemakaian diksi-diksi baru. Padahal saat pertama kali membaca cerpen-cerpen itu dibagian awal, saya menemukan kata-kata yang tak biasa dipakai, seperti kata ‘menguar’, namun di halaman-halaman seanjutnya, saya tak menemukan kata-kata lain. Padahal seharunya itu bias dicari, apalagi di beberapa cerpen TT mencoba mengawali cerpennya dengan kata-kata yang puitik.

Kau tak tahu di mana tubuh Kufah, Kiai Siti, Zaenab dan ikan-ikan terbang itu menghilang bukan?

Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. Para pembunuh terbakar. Tubuh mereka menyala. Siti bertanya, Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?

Namun tentu itu hanya sebuah pertanyaan kecil saya yang saya rasa tak terlalu penting. Karena saya pikir tanpa diksi-diksi ampuh dan beda sekali pun, kisah-kisah ini tetap bisa bicara lantang. Itulah yang membuat saya memberi 5 bintang untuk buku ini di goodreads.

Iklan