ImageDan saya mungkin terpesona pada bab awal kisah ini. And the Mountains Echoed (ATME) dibuka dengan sebuah dongeng mengerikan yang diceritakan seorang ayah pada anaknya yang masih kecil. Itu  dongeng tentang div, jin, yang meminta seorang bocah sebagai persembahannya. Di situ, tak ada yang bisa menolak keinginan sang div, termasuk Babah Ayub, ia terpaksa merelakan anak yang paling dicintainya. Di akhir dongeng, secara tragis div membuang semua ingatan Babah Ayub tentang kejadian ini, hingga ia tak pernah lagi bisa mengingat anaknya… 

Ini sebuah awalan yang tragis. Namun dari kisah inilah semua bergulir…

ATMEadalah novel Khaled Hosseini (KH) yang saya baca. Awalnya saya terpaksa membacanya karena diskusi Klub Buku Pawon memutuskan buku itu. Sebenarnya saya sudah mencoba untuk membeli sejak bukunya rilis, tapi membaca sinopsisnya, tak cukup membuat saya tertarik. Walau begitu saya masih terkenang dengan film Kite Runner yang beberapa tahun lalu saya tonton. Itu film yang menyentuh. Atas dasar itulah saya menyelesaikan buku itu.

 

Adalah Abdullah dan Pari, dua saudara, yang karena suatu hal, harus dipisahkan. Nabi, paman mereka, karena sebuah rencana terselubung  berhasil merayu Saboor, ayah Abdullah dan Pari, untuk menjualnya pada majikannya. Inilah kisah yang menjadi benang merah dari buku ini.

Lalu di lembar-lembar berikutnya, saya akan dipertemukan dengan tokoh Parwana, gadis yang sejak kecil menerima perlakuan tak adil, karena orang-orang lebih suka memperhatikan saudara perempuan sendiri yang lebih cantik. DI sini, saya masih merasa benang merah yang kuat dari kisah Abdullah dan Pari. Apalagi dikisahkan pada bab selanjutnya tentang Nabi, paman mereka, secara detail. Bagaimana ia bisa bekerja pada seorang kaya bernama Sauleman Wahdati, bagaimana ia kemudian diam-diam mencintai istri majikannya, Nila, yang jelita dan sangat modern. Namun pada akhirnya ia tahu bila ternyata majikan laki-lakinya yang kemudian terkena stroke, mencintainya sejak lama. Namun sampai puluhan tahun kemudian Nabi dengan setia tetap merawatnya. Ini tentu kisah yang mengharukan. Kesetiaan yang tak lekang waktu.

Namun semakin halaman berjarak dari halaman awal, benang mnerah yang sebenarnya kita bayangkan, semakin terasa kabur. Namun yang pasti, membaca novel ini, kita akan selalu menemukan tokoh-tokoh yang begitu tak berdaya. Sejak awal kita melihat Saboor, ayah Abdullah, yang hanya bisa menerima ketika ia harus menjual Pari, anaknya. Kita juga melihat tokoh Masomaa, adik Parwana, yang jelita harus memutuskan berkorban kepada Parwana, yang sebenarnya sudah melukainya. Juga tokoh Thalia yang wajahnya cacat, tokoh Abdullah sendiri, dan lainnya.

Ketakberdayaan seakan ingin digambarkan KH untuk melukiskan tanah Afganistan yang menjadi setting novel ini.  Penuh ketakberdayaan.

Namun kasah tak hanya bergulir sampai di situ. Membaca ATME kita akan menemukan beberapa kisah yang seperti terpisah dengan benang merah itu. KH mungkin tengah mencoba teknik baru yang berbeda dari novel sebelumnya, ia mencoba tak terfokus pada satu tokoh utama saja. Ia membut banyak tokoh. Ini tentu mengandung kelebihan dan juga kelemahan. Kelebihannya kisah dibuku ini dapat memberi kita banyak sudut pandang tanpa terikat dengan garis utama. Ini selayaknya membaca sebuah kumpulan cerpen yang telah diberi benang merah. Namun kelemahannya kita menjadi sosok pembaca yang terus bertanya-tanya. Sejak awal kisah perpisahan Abdullah dan Pari sudah membekas begitu kuat, namun itu seperti dilupakan KH. Ia malah sibuk menceritakan Perwana, Nabi, bahkan Timur dan Iqbal, tetangga mereka. Tak hanya di situ KH juga menceritakan Adel, seorang bocah yang benar-benar jauh dari kisah utama, ataubahkan tentang Mr. Marcos

Semuanya seakan hanya diikat hanya dengan benang merah yang begitu tipis. Itulah mungkin, menurut kawan saya yang juga ikut dalam diskusi ini, menjadi alasan mengapa KH menjuduli buku ini dengan gunung bergema. Karena kita seakan hanya mendengar gema dari kisah-kisah di buku ini, bukan suara aslinya. Dan saya mengamini itu.

Tapi sungguh, walau menjadi kelemahan buku ini, saya tak bisa menghindari untuk tak menyukainya. Saya suka kisah-kisah bagaimana KH memberi pandangan baru tentang Afganistan. Kita melihat, walau tak banyak, kondisi negara itu yang bergerak begitu cepat, bahkan saat generasi Afganistan yang berhasil bermigrasi, harus menerima perubahan yang berkali-kali, bahkan mungkin merelakan, generasi-generasi selanjutnya seakan mulai melupakan tanah leluhurnya.  Mungkin ini gambaran dari sosok KH sendiri, yang memilih menjadi orang Amerika.

Terlebih perhitungan sebuah novel yang baik bagi saya tidaklah muluk-muluk.  Novel harus sanggup membuat sebagian atau seluruh jiwa saya terbawa ke dalamnya.Saya akan tiba-tiba merenung, atau bahkan berkaca-kaca. Dan di ATME, saya mengalaminya beberapa kali.

Namun sepanjang 512 halaman membaca ATME, saya tetap terus berpikir tentang kisah Abdullah dan Pari. Bagaimana kelanjutannya? Bagaimana mereka akhirnya kembali bertemu. Sungguh, perjalanan novel ini sudah terasa panjang. Belokan-belokannya yang bahkan menjauhi  jalan utama, sudah saya lalui. Dan saya berharap di bab terakhir KH  mau menuliskan itu. Sekedar mengabarkan lagi keduanya, atau menyenandungkan lagi lagu masa kanak keduanya. Lagu yang hanya bisa diingat sepenggal saja oleh Pari…

Kulihat peri kecil muram

Di keteduhan pohon kertas

Kumengenal peri kecil muram

Yang tertiup angin suatu malam

Dan saya berharap Abdullah melengkapinya…

Iklan