GambarSaya sangat tertarik dengan ide cerita salah satu dari lima orang sahabat bisa melihat masa depan yang lainnya. Saya sedih melihat kelima kawan akrab ini masing-masing menghilang tanpa kabar setelah berpisah jalan. Nasib memisahkan jalinan pertemanan mereka yang indah begitu saja. Semua karena pilihan. They’ve became apart by choice, that was what made me sad.
Dalam Enigma, Yudhi Herwibowo membawa kita berkeliling Jogja dan Solo. Kali ini saya merasa terlibat dalam latar tempatnya karena saya tinggal di Jogja dan akrab dengan tempat-tempat yang disebutkan. Apalagi deskripsi latar tempat sangat mendetail. Jadi penasaran warung lotek itu beneran ada apa enggak. Kalau ada sih saya mau mampir.. hehe.
Di setiap awal bab ada prolog kisah sepasang kakak beradik yang sedang bermain-main dan berpetualang. Awalnya saya nggak ngeh ini kisahnya siapa. Sempat saya abaikan karena nggak ada sangkut pautnya sama kisah utama. Tapi makin ke belakang saya makin merinding karena kok kisah kakak beradik ini serem sih.. dan barulah saya tahu kalau ini kisah masa kecil salah satu dari lima sahabat di Enigma.
Meskipun kelima karakter mendapatkan porsi sama besar, entah kenapa selain Goza, pengkarakterisasian yang lainnya kurang kuat. Saya sedikit susah untuk membedakan satu sama lainnya namun seiring berjalannya waktu jadi lebih mudah mengingat ini siapa itu siapa dari latar tempat. Kecuali Goza, begitu deskripsi tentang Goza di awal paragraf saya baca, saya segera tahu siapa yang sedang berbicara tanpa harus melihat namanya. Seru banget si Goza ini, agak kurang ajar juga karakternya.

“Dalam hati aku kembali tersenyum. Seks hanyalah masalah kecil saja. Tak usah terlalu dipikirkan. Soekarno saja pernah berselingkuh dengan Inggit Ganarsih yang kala itu masih merupakan istri orang. Ia juga berselingkuh dengan Fatmawati saat masih bersama Inggit. John F. Kennedy, Bill Clinton, semua berselingkuh. Tapi semuanya tetap menjadi orang besar!Seks cuma perkara kecil!”- Goza p.79

Seakan-akan itu bisa jadi pembenaran semua kelakuannya. Tapi kalau dipikir-pikir benar juga lho, mereka tetap menjadi orang besar. Haha. Dasar Goza.
Oh ya, dalam novel Enigma, penulis Yudhi Herwibowo sempat menyelipkan trivia dari karya-karya sebelumnya.
Contohnya dari sudut pandang Goza
Saat aku selesai membaca novel Pandaya Srwiwijaya, aku akan menyebut diriku Samudra, seperti nama tokoh utama di novel itu, Tunggasamudra. p.22
dari sudut pandang Patta
Ada sebuah kafe yang unik di daerah Soedirman. Namanya Cafe Untung Surapati. p.65
Haha.. boleh juga sebagai ajang promosi novel-novel beliau sebelumnya. Anyway, buku ini lumayan creepy menurut selera saya yang cupu. Saya memang penakut. Padahal disini sebenarnya nggak ada setannya lho, cuma saya merasa ada aura mistis yang misterius sepanjang membaca novel Enigma. Mas Yudhi emang paling bisa membangun suasana semacam ini.
Selain itu jalinan kisah mereka yang berkesinambungan menambah nilai plus buku bergenre thriller ini. Rahasia terkuak perlahan-lahan. Akhirnya saya hanya bisa ter-oooh begitu ya ternyata menjelang akhir cerita, haha I’m so clueless. Kalau kalian suka thriller ringan, then you should read this book. Saya menikmati setiap detiknya, it was a pleasant read.
PS: Terima kasih sudah menyuguhkan cerita thriller yang lumayan creepy dalam Enigma ini, Mas Yudhi 🙂
 
 
Iklan