ina soro budi, budi noro apadike

pao pana ponu te hama hama…

laut adalah ibu yang membesarkan dan mengasihi

karena itu jaga dan peliharalah kelestariannya…

– ungkapan orang-orang Lamalera

Oktober di Magelang terasa lebih ramai. Ini mungkin karena kota yang ada di antara Gunung Merbabu dan Gunung Sumbing itu, kembali menggelar Borobudur Writers and Cultural Festival pada 17-20 Oktober 2013. Setahun lalu masih lekat teringat saat Samana Foundation, menggelar event itu pertama kalinya, di tempat yang nyaris sama. Namun bila tahun lalu mengambil tema cerita silat nusantara, tahun ini diambil tema Arus Balik, Memori Rempah dan Bahari Nusantara Kolonial dan Poskolonial.

foto 1 Pembukaan di Hotel Royal Ambarukmo ok  foto 3 Penampilan Komunitas Lima Gunung 1 ok foto 4 Penampilan Komunitas Lima Gunung 2 ok  foto 5 Penampilan Komunitas Lima Gunung 3 ok 

Foto acara pembukaan di Ambarukmo Hotel dan pembukaan Hotel Manohara

Dalam pengantar yang ditulis oleh Yoke Darmawan, direktur festival yang menjadi salah satu dari 5 sekawan di balik Samana Foundation (Aji Wijakcono, Imam Muhtarom, Seno Joko Suyono dan Dorothea Rosa Herlianty), BWCF sengaja dibuat untuk perayaan bagi insan-insan kreatif, para pecinta budaya, di bidang kepenulisan. Karena merekalah yang kerap melakukan pengamatan, melakukan riset, melihat dunia baik dunia hari ini atau masa silam, bahkan masa depan. Sedangkan alasan mengapa tema ini dipilih, itu karena ada keinginan mengangkat kembali kekayaan bahari nusantara yang kini nyaris dilupakan, padahal saat itulah sebuah peradaban besar pernah lahir dan tumbuh.

Acara yang dibuka di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta ini, seperti ditandai dengan suara Ivan Nestorman, vokalis Lamalera band, yang seakan mulai mengabarkan pada para hadirin untuk bergerak ke laut: gemuruh di dalam dada, gemuruh riuh samudra, laut selalu menanti, laut selalu tersenyum…

Menjelang sore, barulah semua peserta di bawa menuju Magelang. Karena keesok harinya, di Hotel Manohara, yang letaknya tepat di kaki Borobudur, acara digelar.

Bahari

Kisah bahari nusantara bagai kisah petualangan seru yang tak pernah usai. Tak sekedar kisah pelayaran para pelaut-pelaut pemberani, namun juga kisah-kisah di balik itu.

Seperti di hari pertama saja, peserta sudah disuguhi kisah petualangan bak Indiana Jones. Sesi itu mengenai polemik harta karun dan kapal karam di nusantara. Telah kita ketahui bila sejak lama nusantara telah menjadi jalur perdagangan. Ribuan kapal melintasinya. Tak jarang, perampokan, perang dan musibah membuat kapal karam. Lautan nusantara tak sekedar berisi ikan dan terumbu karang yang indah, namun juga bangkai-bangkai kapal. Itulah yang selama ini membuat negeri ini  menjadi surga pemburu harta karun.

foto 7 2 buku yang diberikan bagi para peserta ok foto 6 Sesi diskusi di Ruangan Hotel Manohara ok foto 8 Yoke Darmawan, salah satu panitia ok foto 15 ok

Foto buku yang dibagikan, sesi acara dan ketua panitia Mbak Yoke Darmawan, serta peserta acara

Seperti yang diceritakan Surya Helmi, tim ahli Cagar Budaya Nasional, mata kita baru terbuka saat tahun 1985, Michael Hatcher, seorang pemburu harta karun,  mengangkat kapal Geldermarsen di peraian Karang Heliputan, Kepulauan Riau. Dengan kepiawaiannya, Hatcher berhasil mengangkat ribuan keramik dari dinasti Ching dan benda-benda logam lainnya. Ia kemudian melelang hasil jarahan itu di Balai Lelang Christie. Jumlahnya luar biasa besar, USD 17  juta. Kejadian ini diulangi lagi di tahun 1997, dengan menjarah kapal Tek Sing. Selama menjarah, Hatcher tak pernah mengantungi ijin resmi dari pemerintah. Padahal untuk mengeruk sebuah kapal saja, ia butuh waktu berbulan-bulan. Anehnya, pihak berwajib tak pernah mencium itu.

Daud Aris Tanudirjo, juga menyampaikan materi yang cukup mengejutkan di sesi Kemampuan Maritim Indonesia. Ia memaparkan bukti-bukti sejarah yang mengungkap bila kejayaan bahari nusantara telah berlangsung sejak lama. Tercatat ada 10 relief yang menggambarkan moda transportasi air di dinding Candi Borobudur. Maka itulah, anggapan bila nusantara merupakan kebudayaan lanjutan dari Eropa dan India, seakan runtuh. Ini dibuktikan oleh bukti-bukti penutur Austronesia. Teori Out of Taiwan, yang didukung dengan bukti bahasa, genetika maupun arkeolog, menyimpulkan bila bangsa Austronesia sudah mengembangkan peradabannya sejak 5.000 tahun lalu. Awalnya bangsa Austronesia adalah bangsa maritim, namun karena kepadatan penduduk, mereka mulai berpindah ke pulau-pulau di sekitarnya. Saat itulah mereka mengenal peradaban bahari. Konon bukti kedatangan mereka dapat ditemukan di pulau-pulau Formosa, Kepulauan Batanes dan Pulau Luzon di Filipina, hingga akhirnya menyebar ke separuh dunia, hingga Pulau Paskah di timur, Mikronesia di utara dan Selandia Baru di Selatan. Bahkan dalam buku Globalizing the Prehistory of Japan tulisan Ann Kumar, meyakini bahwa budaya bangsa Yayoi, yang muncul 2.500 tahun lalu, merupakan budaya Austronesia, khususnya dari Jawa.

Seorang lamafa hadir juga di sesi Petualangan dari Laut. Adalah Bona Beding, penombak ikan paus dari Lamalera yang menceritakan kisah-kisahnya hidup di pulau dengan tradisi menangkap ikan paus dengan tombak. Biasanya di bulan April – Oktober, saat ikan-ikan paus melintasi pantai mereka, mereka akan memburunya dengan berani di atas pledang, atau perahu sederhana. Seorang lamafa di pilih untuk berdiri di ujung kapal dan menombak ikan paus itu dengan sebuah lompatan berani dengan tempuling, atau tombak yang sudah diberi tali. Setelah itu mereka menunggu sampai ikan paus itu kelelahan.

Yang menarik dari tradisi ini, daging ikan paus yang di dapat nantinya akan dibagikan ke seluruh penduduk desa, terutama para janda, orang-orang tua dan anak-anak. Namun tradisi ini rupanya akan segera tercerabut setelah munculnya peraturan dunia tentang pelarangan penangkapan ikan paus.

Tak pelak lagi, kehidupan bahari memang mengakar di nusantara, terlebih saat Ridwan Alimuddin, menambahkan hasil penelitiannya tentang kebaharian suku Mandar. Hasil penelitiannya ini banyak ditulisnya dalam buku, seperti: Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut, Orang Mandar Orang Laut, Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara, dan Mandar Nol Kilometer.

Yang menarik adalah saat peneliti Horst H. Liebner dan Nick Burningham tampil. Horst yang telah 20 tahun meneliti tentang perahu nusantara memaparkan detil-detil membuat perahu di nusantara. Ia bahkan menganimasikan cara-cara pembuatan perahu yang ternyata cukup rumit. Sedang Nick menceritakan proses pengerjaan kapal Borobudur hingga ekspedisinya menjelajah samudra hingga ke Ghana, Afrika Barat. Ini tentu kisah yang luar biasa, apalagi setelah tahu, kalau kapal Borobudur yang dibuat merupakan hasil replika dari pahatan kapal di Candi Borobudur. Kisah ini memang sudah berawal sejak bertahun-tahun lalu. Saat itu Philip Beale yang memiliki ide untuk membuat kapal tersebut, menghubungi Nick Burningham yang dikenal sebagai ahli membuat replika kapal layar. Keduanya kemudian membuat kapal itu di salah satu pulau di Pagerungan Kecil, atas permintaan Pak Assad, ahli kapal yang akan mengerjakannya. Saat kapal itu akhirnya jadi beberapa bulan kemudian, seluruh warga Pegerungan Kecil bersama-sama mendorong kapal itu ke laut. Jumlahnya ada ribuan. Ini adalah kisah paling mengharukan, walau dibacakan dengan bahasa Indonesia yang tersendat dan kadang terhenti, Nick tetap membuat peserta tersentuh dengan kisahnya.

Rempah

Rempah adalah buah surga sekaligus buah neraka!

Kisah tentang rempah-rempah dan bahari, memang tak pernah lepas dari kisah tentang kolonialisme. Menurut Singgih Tri Sulistiono, guru besar Universitas Diponegoro, Semarang, rempah-rempah yang semula mendatangkan keuntungan besar bagi petani dan pedagang pada akhirnya malah menjerumuskan. Sejarah telah mencatat bagaimana negara-negara Eropa memulai pelayaran mereka untuk mencari rempah-rempah. Niatan yang semula diawali dengan bedagang ini, kemudian merembet untuk menguasai sebanyak-banyaknya. Tak heran, rempah-rempah yang di beli dari nusantara, konon bisa berharga 1.000 kali lipat di sana. Maka tak heran, segala macam cara pun dilakukan untuk mendapatkan rempah-rempah sebanyak-banyaknya. Rakyatlah yang akhirnya harus menanggung beban itu.

Edward L. Poelinggomang, dari Universitas Hasanudin, menambahkan saat bangsa Eropa datang, keadaan dimanfaatkan oleh Kerajaan Tidore dan Ternate yang saat itu memang tengah bersaing. Ternate akhirnya bisa mengajak Portugis bekerja sama, dan Tidore pun akhirnya mengajak kerja sama Spanyol. Persaingan dagang 2 negara inilah yang kemudian memperparah hubungan antara Ternate dan Tidore.

Tak sekedar sesi diskusi yang melulu soal rempah-rempah dan bahari, ada pula pengenalan keragaman khasanah masakan nusantara dalam perkembangan kuliner kontemporer, juga sejarah makanan dan gaya hidup nusantara dari jaman Jawa Kuna hingga abad ke-21. Selain itu, ada juga pemutaran film The Spice Trail oleh Kate Humble.

Kate adalah presenter televisi yang bekerja di BBC dan merupakan ketua dari RSPB (Royal Society for the Protection of Birds). Ia melakukan petualangan panjang   menyusuri tempat-tempat yang dulu sangat dikenal sebagai penghasil rempah-rempah. Petualangannya tak sekedar dating dan merekamnya, naun ia berinteraksi langsung dengan penduduk setempat. Ia misalnya mempelajari transaksi jual beli rempah di India, di mana pedagang dan pembeli harus saling berpegangan tangan dan metutupnya dengan kain. Jari-jari merekalah angka untuk bertransaksi.

Kate juga datang ke Srilangka untuk mencari kayu manis. Ia bahkan melihat sendiri perkebunan kayu manis yang makin tak terawat. Ia juga terlibat diproses pengolahan yang sangat rumit.

Kate juga datang ke Indonesia mencari pala dan cengkeh. Ia bahkan mendatangi pulau-pulau di Maluku, dan berinteraksi langsung dengan orang-orang di sana. Ia juga ke Maroko mencari kunyit, dan ke Meksiko untuk mencari vanilla. Perjalanan ini tak sekedar menjadi perjalanan, karena Kate mengikuti pula ritual-ritual penduduk setempat.

foto 10 Peserta melakukan tarian Dolo-dolo, yang menjadi tarian khas Lamalera ok foto 11 Pembacaan puisi-puisi laut dari sastrawan Raudal Tanjung Banua ok foto 12 Pembacaan puisi-puisi laut dari sastrawan Mardi Luhung ok foto 13 Bedah buku Puisi Terakhir dari Laut ok

Foto acara2 di Dunia Tera: Tarian Dolo-dolo, Raudal Tanjung Banua, Mardi Luhung dan para penyair saat membedah buku Puisi Terakhir dari Laut

Sang Hyang Kamahayadikan Award bagi AB Lapian

Lalu selalu ada akhir di setiap pertemuan. Setelah setiap malam digelar acara-acara yang lebih santai, semisal penampilan Lamalera Band yang mengajari tarian Dolo-dolo kepada semua peserta yang hadir. Ada juga bedah Buku Puisi Terakhir dari Laut juga diadakan dengan mengundang 6 penyair yang telah akrab menulis puisi-puisi bertema laut: Aslan Abidin, Dino Umahuk, Mardi Luhung, Marhalim Zaini, Mashuri dan Raudal Tanjung Banua.

Akhirnya puncak acara adalah saat pemberian penghargaan Sang Hyang Kamahayadikan Award kepada (alm) Adrian Bernard Lapianatau yang lebih dikenal dengan nama AB Lapian. Ia merupakan sejarawan angkatan pertama di jurusan Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) di Universitas Indonesia. Sangat tersohor sebagai ahli sejarah maritim yang disertasinya Orang Laut – Bajak Laut – Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, dianggap banyak pihak telah membuka lembaran baru dalam penulisan sajarah maritim dan sejarah kawasan di Indonesia.

Acara ini mungkin sekedar pengingat. Kalau laut pernah begitu dekat bagi kita. Pernah begitu membanggakan. Sehingga sama sekali tak ada alas an bagi kita, untuk tak mencintai laut.

SOS Laut Kita!

Dr. M. Riza Damanik adalah satu dari sosok pembicara muda di perayaan Borobudur Writers and Culture Festival, namun tulisannya Kolonialisme Baru di Laut cukup membuat hadirin terkejut. Laki-laki yang lahir di Sumatera Utara ini merupakan Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) sekaligus sebagai Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice, dengan gamblang memaparkan kegagalan kita sebagai negeri bahari.

foto 14 Dr. M. Riza Damanik okPenulis buku Hak Asazi Nelayan ini menganggap pemerintah berperan besar dalam kegagalan ini. Ada 2 hal, pertama pemerintah gagal membuat laut menjadi tempat hidup yang menyatukan. Ini bisa dilihat dengan penyeragaman pembangunan yang lebih mengarah ke wilayah daratan. Terlebih laut sudah diposisikan sebagai tong sampah raksasa. Ini bisa dilihat konon 18,2 juta ton limbah padat, dan 5,3 juta ton limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), di buang ke sungai. Celakanya pemerintah seperti membiarkan hal itu. Bahkan, di Nusa Tenggara Barat, Kementrian Lingkungan Hidup mengizinkan PT Newmont Nusa Tenggara membuang 140.000 ton limbah tailing setiap hari ke Teluk Senunu.

Kedua adalah hilangnya pertimbangan dimensi sosial budaya kelautan dalam tiap-tiap tahapan diplomasi internasional yang mengikat Indonesia. Lembaga-lembaga keuangan yang kerap kita tahu memberi bantuan keuangan itu ternyata bukanlah sosok sinterklas yang mau berbaik hati tanpa maksud terselubung. Pinjaman IMF misalnya, juga berimpplikasi terhadap kebijakan non-keuangan di Indonesia. Bahkan perjanjian Bilateral Investment Treaties (BITs), telah membuat investasi asing berlomba-lomba membuka investasi untuk mengekploitasi sumber daya alam di Indonesia. Bodohnya, kerena investasi asing ini kerap bersinggungan langsung dengan masyarakat di daerah, sehingga membuat gesekan-gesekan, pemerintah mengalami tuntutan dari para investor asing itu, karena dianggap tak bisa melindungi investasi mereka!

Perduli pada laut tak sekedar mengungkapkan kebesaran bahari kita, harus ada tindakan nyata dari pemerintah, terutama dalam hal kebijakan yang berpihak pada laut!

Iklan