IMG_2989 ok

Gogor

 Stttt… jangan ke sana!

Kukatakan padamu: jangan ke sana!

Aku tak mengucapan Kata-kata kosong. Aku serius! Sangat serius!

Aku tahu, aku seharusnya tak perlu mencampuri urusanmu. Aku juga tak ingin seperti itu. Bukankah selama ini selalu begitu? Walau sejak lama kau sudah menjadi orang yang kupilih, dari ratusan manusia di desa ini.

Sudah belasan tahun, kau memilih tinggal di tanah ini, tanah Botodayakan. Aku sudah mengenal dirimu sejak lama. Bahkan sejak kau masih dalam perut hangat ibumu, aku sudah menandaimu. Awalnya tentu saja, aku tak pernah ingin perduli dengan kau, juga dengan semua manusia di yang ada di sini.

Tapi ternyata kau berbeda. Kau lahir dengan tanda lahir berwarna merah darah. Orang-orang akan menyangka itu sekedar tanda lahir biasa. Tapi aku tentu saja tidak. Tanda lahir itu membentuk sebuah tanda yang sebenarnya berarti sebuah angka. Enam. Ya, enam, aku tak akan salah melihat.

Maka sejak itulah aku hadir padamu. Kuperhatikan dirimu, kutandai apa yang terjadi padamu. Hingga saat kau dewasa, aku tahu kau adalah laki-laki yang nyaris mati 6 kali.

Itulah yang membuatku memutuskan memilihmu.

Aku ingat sejak pertama kali kau lahir, nyawamu sudah nyaris lenyap. Tali ari ibumu melibat di lehermu. Tak ada yang tahu, sebetulnya kau nyaris mati saat itu. Tapi entah kenapa, kau selamat. Kau lahir dengan tangisan paling keras dibanding bocah lainnya.

Lalu, berselang beberapa tahun kemudian, saat kau tumbuh menjadi seorang bocah yang lari dan bermain ke sana-ke mari, kulihat lagi kejadian-kejadian menimpamu. Kau pernah terjatuh dari sebuah pohon besar hingga beberapa tulangmu patah. Kau juga pernah tergelincir di sebuah batu besar yang membuat kepalamu berdarah. Dan kau juga pernah memakan ubi beracun yang banyak tumbuh di puncak-puncak bukit. Saat itu kau sampai tak sadarkan 6 hari.

Aku benar-benar semakin memperhatikanmu. Aku sudah memilih terus bersamamu. Maka saat suatu kali kau meregang nyawa karena  tergigit ular berbisa, hingga tubuhmu berubah menjadi biru. Saat itulah aku ingat bila memutuskan untuk muncul di hadapanmu. Aku tahu kau melihatku. Tapi aku tak yakin kau menyadari itu. Kukira saat itu, kau tengah berhalusinasi tentang banyak hal, sehingga penampakanku tak akan berarti apa-apa bagimu.

Kejadian seperti ini berulang beberapa tahun kemudian. Seorang perampok kejam dari desa seberang pernah menggorok perutmu hingga ususmu nyaris keluar. Kau opname sampai beberapa hari, dan aku  kembai menampakkan diriku padamu.

Aku mungkin melanggar takdirku. Namun kupikir kejadian-kejadian yang menimpamu membuat kau begitu istimewa di mataku. Aku merasa, kau seakan menantang penciptamu, sosok yang kau sembah tiap hari itu, bahwa cobaan yang diberikannya padamu, semua tak mempan untukmu!

Aku suka itu.

***

 Stttt… jangan ke sana!

Kukatakan padamu: jangan ke sana!

Kau seharusnya tahu, kalau tempat itu adalah tempat yang mengerikan. Bukankah sejak dulu, kakekmu selalu berkata, “Jangan pernah kau ke sana. Itu tempat yang berbeda dari kita!”

Mungkin saat itu kau masih terlalu kanak untuk memahaminya. Tapi itulah yang kemudian dilakukan oleh anak-anak lainnya. Tidak pergi ke tempat itu.

Orang-orang tua memang melarang anak-anak dan cucu-cucu mereka ke tempat itu. Mereka mungkin sedikit berlebihan dengan mengarang kisah-kisah mengerikan tentang lelembut dan jin-jin yang bersemayam di sana. Tapi mereka tak sepenuhnya salah.

Kau tahu, kadang ada tempat-tempat yang memang sebaiknya tak pernah kau datangi.

Aku setuju dengan itu. Karena aku pun mengalami nasib yang serupa. Aku tak seharusnya mendekat pada dirimu, dan manusia-manusia sejenismu. Tapi aku tak tahan hanya dengan berdiam diri di sini setiap waktu. Maka aku menuju tempat manusia-manusia bersemayam terdekat yang bisa kudatangi

Lalu muncul di hadapanmu.

Sebenarnya itu adalah kemunculanku ketiga kalinya di hadapanmu, tapi itulah pertama kalinya kusadari kau menyadari kehadiranku. Kau melihatku dengan matamu yang berkilat. Kala itu Magrib menjelang. Kau terkesiap, seperti reaksi manusia-manusia lainnya. Hanya saja, bila yang lainnya akan menyusulkan dengan teriak kencang dan berlari terbirit-birit, kau tidak. Kau hanya terpaku. Aku tentu melihat ketakutanmu. Kakimu gemetar, dan napasmu seakan terhenti. Tapi sejenak kemudian, kau bisa menguasai dirimu. Kupikir kau akan membaca satu-dua ayat yang diajarkan uztadmu, tapi ternyata tidak.

Kau hanya menatapku seakan aku hanyalah sesuatu yang biasa.

Sejak itulah aku merasa aman hadir di dekatmu. Aku sama sekali tak mengganggumu, seperti halnya kau tak menggangguku. Aku bahkan sesekali memberi tahumu kejadian-kejadian yang tak kau lihat di sudut-sudut desa lainnya. Kadang aku bahkan memberi tahu tentang kejadian yang belum terjadi sekali padamu.

Tapi kau seperti mengabaikanku. Walau aku tahu, kau sebenarnya mendengar suaraku. Aku kerap berbisik tepat di telingamu. Dan itu selalu membuatmu terkejut. Namun kau akan kembali cepat-cepat menguasai duirimu, dengan mengibaskanku seakan memberi tanda jangan menggangu.

Hahahaha…

Aku semakin menyukaimu. Kupikir di hari yang akan dating, semuanya akan baik-baik saja. Namun ternyata aku salah, sejak kau mendalami shalatmu, aku semakin jengah. Kau semakin mengacuhkanku. Kau bahkan menganggap aku bagai angin yang bergerak segera pergi.

Aku sebenarnya ingin meninggalkanmu, laki-laki bebal yang berlagak sok suci. Tapi kala keinginan itu timbul, aku mendengar perbincanganmu dengan kawan-kawanmu.

“Aku melihatnya lari ke sana. Harimau itu menggigit sebuah pocongan!” seorang kawanmu berteriak histeris.

“Apa itu jenasah Haji Umar yang baru kita kuburkan kemarin?” tanyamu tak percaca.

“Ya, betul. Kuburan Haji Umar memang telah terbuka. Jelaslah harimau itu yang mengeruknya!”

Kau nampak terkesiap. Namun aku malah menampilkan seringaiku.

Mungkin kau lupa, dulu kejadian seperti itu pernah beberapa kali terjadi di tahun-tahun lalu. Kau harusnya ingat, setiap musim kemarau tiba, binatang-binatang selalu akan turun ke bawah untuk mencari makan.

Tapi orang-orang tua bebal dan bodoh di desamu berpikir lain. Merekalah yang dulu bahkan menamai harimau itu dengan sebutan Gogor, sambil berteriak mengerikan, “Itu adalah harimau jadi-jadian!”

***

 Stttt… jangan ke sana!

Kukatakan padamu: jangan ke sana!

Kali ini, aku berteriak di telingamu. Tapi kau malah mengibaskanku dengan kasar.

Ini menjengkelkan. Kau benar-benar berlagak bak pahlawan kesiangan. Kau bahkan yang kini mengkoordinir kawan-kawanmu untuk memilih melawan harimau itu, dengan mempersiapkan golok, tombak dan pistol rakitan. Sungguh, kau memang bebal! Kau benar-benar tak tahu siapa yang tengah kau hadapi!

Dan kini, kau malah membawa kawan-kawanmu mengarah ke jalur itu?

Apa kau benar-benar lupa ucapan kakekmu dulu? Itu adalah jalur yang seharusnya tak kau datangi. Pohon-pohon berdaun lebat yang seakan tak memberi ijin bagi sinar matahari menelisip, setapak yang semakin terjal dengan batu-batu setajam tombak, desis-desis ular berbisa yang seakan bersiul di atas kepalamu, apa kau masih berpikir itu tempat yang didatangi maklukmu?

Bebal! Kau memang bebal! Kebebalanmu yang malah membuatmu mengawali semua langkah ke tempat itu.

Aku tahu ini adalah jawaban atas kemarahan dan ketakutan yang kau alami. Dulu saat kau kanak, dan desa ini masih dipenuhi pemuda-pemuda seumur ayahmu, tak ada satu pun dari mereka yang berani melakukan ini. Mereka hanya berjaga di area perkuburan dengan obor-obor menyala di segala penjuru. Lalu bila terdengar suara bergemeresak, seakan-akan itu adalah kehadiran Gogor, mereka akan segera melemparinya dengan batu.

Tapi itu tak pernah berhasil. Kukatakan padamu, harimau yang kalian panggil Gogor itu bukan harimau sembarangan. Seketat apa pun kalian berjaga, tetap saja ia bisa kembali membongkar 2-3 makam, dan membawa jenasahnya pergi!

Itulah yang mungkin membuatmu memilih untuk melawan. Kau seakan tak mau mengulang lagi kisah seperti dulu.

“Kau akan menyesal,” desisku padamu.

Tapi kau tak berkata apa-apa. Kau malah menyelipkan pistol rakitan itu di pinggangmu,

***

Stttt… jangan ke sana!

Kukatakan padamu: jangan ke sana!

Sungguh, ini kalimat terakhirku padamu.

Aku tahu kau sudah begitu bersemangat. Sebuah golok dan sepucuk pistol rakitan sudah membuatmu begitu percaya diri. Kau memimpin di depan dengan obor di tangan, sambil tak henti menebasi belukar yang menghalangi jalanmu.

Tapi kukatakan padamu, itu semua percuma. Jalanan di hutan ini bukanlah jalanan biasa. Ini adalah labirin paling mematikan yang pernah ada.

Maka sudah kutebak, hanya beberapa jam berselang, kau sudah terpisah dari kawan-kawanmu. Saat kau menyadarinya, kau tiba-tiba telah berdiri seorang diri di antara hamparan belukar yang tak henti seperti bergerak-gerak karena cahaya obormu.

Aku merasa ini bukan sesuatu yang baik, maka aku berteriak padamu, Kembalilah! Kembalilah selagi sempat!

Kau hanya terdiam sesaat. Melirikku sekilas, tanpa ekspresi apa-apa.

“Aku yakin ini tempatnya,” kau berucap seperti membalas ucapanku. “Jejaknya menghilang di sini, dan hanya ke arah ini yang paling mungkin.”

Maka setelah melihat ke belakang, dan menunggu sesaat, kau memutuskan melangkah sendiri ke depan.

“Ini waktuku menembak kepalanya,” desismu.

Aku hanya bisa mendesis panjang menyayangkan kepongahanmu. Tak kau sangka kau sebebal ini. Apa kau masih mengandalkan keberuntunganmu selama ini?

Dasar manusia bebal! Aku berteriak panjang.

Tapi kau sama sekali tak menggubrisku. Kau sudah menghilang di balik rerimbunan daun-daun yang menutup dirinya. Kali ini, aku tak lagi bisa mengikutimu. Sungguh, aku tak bisa. Karena aku tahu apa yang terjadi padamu di situ. Ya, hanya butuh beberapa kali hitungan saja, sudah kudengar auman harimau yang dipanggil Gogor itu memecah keheningan, disusul teriakanmu yang panjang dan menyanyat!

Aku memejamkan mata kuat-kuat, seiring sedikit penyesalan. Ya, seharusnya aku katakan padamu; kali yang ketujuh, kau tak akan lagi selamat!

***

 

Iklan