EGigvSaya pikir saya harus menulis ini.

Belasan tahun yang lalu, di era video, ayah saya punya kebiasaan menyewa film-film kunfu berseri bikinan Hongkong. Tentu yang paling legendaris adalah Sin Tiaw Eng Hiong dan Sin Tiaw Hiap Lu, atau juga To Liong To. Tapi tentu tak hanya 3 film itu yang kami sewa. Dulu, saat memutarnya, para kawan-kawan dan tetangga ikut menonton film itu. Sehingga ruang tamu hingga teras penuh dengan orang. Karena film-film ini berseri, mereka jadi punya agenda yang sama menunggu di rumah kami: biasanya selepas Isya.

Salah satu film yang saya ingat, walau film itu tak begitu meledak seperti kisah pendekar rajawali, adalah The Undercover Agents. Judul asli film ini bila tak salah adalah The Four Great Constables yang diangkat dari novel Wen Ruian. Saya lupa siapa saja pemeran kala itu dan berapa seri film ini dalam format video. Namun yang pasti film ini termasuk yang kerap dibuat versi terbarunya hingga sekarang.

Dan saya cukup terkejut ketika tahu kalau The Four merupakan bentuk terbaru dari kisah itu. Film yang disutradarai oleh Gordon Chan dan Janet Chun ini bahkan direncanakan sebagai trilogi, di mana The Four 2 sudah dirilis Desember 2013.

Sama dengan seri serialnya dulu, 4 tokoh utama dalam film ini tetap dengan julukannya: Emotionless, Iron Hands, Life Snatcher dan Cold Blood. Di era dulu, saya lebih dekat dengan sebutan-sebutan: Si Sesat, Si Tangan Besi, Si Pengejar Nyawa dan Si Darah Dingin.

Dengan latar Dinasti Song pada masa Kekaisaran Huizong, kisah ini bermula. Konon, karena banyaknya intrik di dalam kerajaan, dibentuklah oleh salah satu pangeran, Departemen 6. Ini merupakan tempat penyelidikan rahasia di luar penyelidikan resmi kerajaan. Departemen ini dipimpin oleh Zhuge Zhengwo (Antony Wong). Ialah yang kemudian merekrut 4 pendekar legendaries itu.

Tentu sebuah kisah dalam film kungfu sepertinya standar saja. Rumusnya bisa ditebak: balas dendam, intrik, cinta sejati, kebaikan selalu menang melawan kejahatan. Tapi percayalah, rumus seperti itu tak selalu bisa berhasil. Ini sama seperti saat kita menggarap soal kimia atau matematika, walau kita sudah menghapal rumusnya, belum tentu kita menyelesaikan soal dengan baik. Tapi The Four berhasil menyelesaikannya dengan sempurna. Setidaknya buat saya, yang tak pernah merasa bosan sedikit pun menyaksikannya.

Saya pikir, imajinasi saya tentang film kungfu ada di film ini. Tentu saya tak mau mengesampingkan film The Grandmaster milik Wong Kar Wai. Film ini pun saya suka. Banyak adegan duel yang melewati batas imajinasi saya. Saya suka adegan saat seseorang menghindar dari serangan mematikan. Kalau orang-orang terkesima dengan Keanu Reeves saat menghindari peluru dalam Matrix, ia harus membuka mata menonton film ini, agar bisa tercerahkan.

Saya juga suka adegan saat seorang menggebrak meja hingga sendi-sendri meja seakan bergetar. Dulu teknik ini tentu tak bisa dibayangkan bisa dilakukan. Tapi sekarang tentu bisa dibuat. Apalagi dalam The Four. Film ini tentu punya nilai lebih. Mungkin saya terlalu terbawa masa lalu. Dulu 4 agen rahasia itu sudah begitu hebatnya dimata saya. Padahal tentu di masa itu teknik membuat film belum secanggih sekarang. Tapi saya sering membayangkan menjadi Si Pengejar Nyawa yang memiliki tendangan sakti. Sebelum orang-orang terkagum-kagum dengan Tendangan Tanpa Bayangan Wong Fei Hung dalam lima seri Once Upon A Time in China milik Tsui Hark, tentu tendangan Pengejar Nyawa ini tak bisa dilewatkan. Gerakannya nyaris sempuna. Sebuah tentangan tanpa jeda, hingga musuh hanya bisa terus bergerak menangkis.

Sekarang kehebatan itu seperti mengikuti saya. Tak hanya teknik kungfunya yang sempurna, namun penampilan para pendekarnya pun seakan mengikuti jaman. Lihat tokoh Pengejar Nyawa, ia menato rambutnya tanpa membuat saya berpikir itu sesuatu yang berlebihan.

Namun dari semua, satu tokoh yang membuat saya bertekuk lutut adalah Emotionless. Dalam The Four tokoh ini diperankan Crystal Liu Yifei, yang sudah mengharu biru dengan perannya yang melegenda sebagai Bibi Lung dalam Sin Tiaw Hiap Lu versi 2007. Sungguh, tak bisa saya bayangkan sebelumnya, tokoh yang begitu cantik jelita, mampu mengalahkan lawan-lawannya dari atas kursi roda. Karakter ini memang yang paling banyak diubah. Kalau dulu saya membayangkan tokoh ini sebagai sosok lumpuh yang cerdik berstrategi, dalam The Four ia dibuat tak berbeda dengan 3 karakter lainnya. Ia bahkan yang saya anggap paling kuat. Dengan pikirannya ia bisa menggerakkan benda-benda yang ada di sekitarnya.

Sungguh menyaksikan The Four, seperti membuat saya terus-terusan menyaksikan ketakjuban. Mungkin di tahun ini, bila orang-orang menunggu seri terakhir trilogi The Hobbit, saya akan duduk anteng menunggu The Four ketiga.

Iklan