PhotoGrid_1411130241717Saya pikir judul di atas mungkin sedikit bersifat sangat segmented. Bagi orang-orang yang sudah biasa menulis di koran (atau majalah), pastilah sudah akrab dengan kata itu. Kasus pemuatan ganda memang berkaitan dengan dimuatnya sebuah tulisan yang sama (dalam hal ini saya fokus ke cerpen saja) di 2 media yang berbeda, dalam jangka waktu yang relatif pendek. Hiruk pikuk kejadian ini sejak dulu sepertinya tak pernah hilang sama sekali.

Sampai hari ini, ada beberapa penulis yang sudah dicap sebagai penulis yang seri ng dimuat secara ganda. Dia mengirim cerpen dengan cc sekaligus ke beberapa media, atau bahkan mengirimnya dalam jeda yang pendek ke media lainnya. Sebenarnya sejak dulu memang tak pernah ada larangan untuk melakukan itu. Tapi secara etika hal tersebut tidak dibenarkan. Koran atau majalah adalah sebuah media yang setiap terbitnya di isi oleh tulisan-tulisan baru, berita baru, opini baru, dan lain-lainnya yang serba baru. Orang berharap sesuatu yang baru di setiap membelinya. Tak elok rasanya mereka memuat kembali sebuah tulisan yang sudah dimuat sebelumnya.

Saya sering menerima inbox yang menyangkut pertanyaan tentang hal seperti ini. Ada yang masih bingung soal ini, bagaimana bisa kasus pemuatan ganda bisa begitu heboh. Tapi kadang ada yang sudah menanyakan secara lebih spesifik, misalnya tentang waktu tunggu sebuah tulisan agar tak mengalami pemuatan ganda.

Saya pribadi sangat berhati-hati soal itu. Sepanjang kasus pemuatan ganda terjadi berkali-kali, saya tak pernah ikut-ikutan rame. Saat ada seorang penulis dari Surabaya dibully habis-habisan karena cerpennya dimuat beberapa kali, saya juga sama sekali tak berkomentar apa-apa.

Saya pikir itu urusan dia. Tapi jujur saja, semua pasti juga merasakan, kadang ada perasaan jengkel melihat orang-orang dengan tipe seperti ini. Apalagi kita tahu ada keterbatasan media memuat tulisan dari luar. Bila ada rubrik cerpen yang memuat cerpen 1 kali dalam seminggu, hanya akan ada 4 penulis yang dimuat dalam 1 buian. Bila media itu bulanan, berarti hanya akan ada 1 peluang tulisan yang dimuat. Coba bayangkan, betapa sedikitnya. Padahal kini mengirim cerpen sudah dilakukan siapa saja. Apalagi dengan pengiriman via email, siapa pun bisa mengirim dengan mudah. Terlebih bila cerpen itu merupakan cerpen momentum. Sehingga waktu untuk menjualnya begitu terbatas. Di saat seperti ini, kasus pemuatan ganda, seperti merenggut kesempatan penulis itu untuk dimuat.

Sepanjang saya menulis cerpen, saya selalu berusaha menjaga agar kejadian pemuatan ganda tak terjadi pada saya. Rasanya memalukan sekali demi beberapa ratus ribu rupiah, saya menunda atau menghilangkan kesempatan orang lain untuk dimuat. Tapi tetap saja, hal itu pernah terjadi juga pada saya. Pada bulan Juni 2014 ini, sebuah cerpen saya dimuat di salah satu majalah. Padahal cerpen itu sudah dimuat di majalah lain di bulan Februari 2014. Saya cukup kaget. Padahal cerpen itu ternyata sudah saya kirim tanggal 4 Juni 2013. Jadi, sudah setahun yang lalu. Saya pikir kebiasaan grup majalah tersebut, selalu ada konfirmasi terlebih dahulu sebelum tulisan dimuat. Tapi saya tak pernah menerima konfirmasi tersebut.

Ini membuat saya sangat sangat tidak enak. Saya tahu beberapa kawan saya juga mengirim ke majalah tersebut, dan mereka punya harapan untuk dimuat. Maka hari itu juga, saya mengemail ke redaksi majalah itu dan mengabarkan soal itu. Saya juga menfordward email kiriman cerpen itu setahun yang lalu. Dan di penutup email tersebut saya menulis kalimat , yang intinya adalah; bila saya dianggap bersalah, honor saya tak perlulah dikirimkan.

Sampai akhir September ini, honor saya tak dikirim. Saya tentu sedih, bukan karena saya tak mendapat honor, tapi lebih karena saya dianggap bersalah.

Mengenali Kebiasaan Media

Sebenarnya seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menunggu sebuah tulisan yang sedang dikirim?

Tentu, setiap media punya waktu yang berbeda-beda. Di Koran Tempo dan Media Indonesia, sudah ada tulisan yang kira-kira isinya begini; bila dalam 2 bulan tulisan tak berkabar, berati cerpen tersebut tak dimuat. Pada prakteknya cerpen2 saya di Kortem dan MI cepat sekali dimuat. Biasanya masih dalam waktu 1 minggu saja setelah pengiriman. Maka itu biasanya bila cerpen saya tak ada kabar, 5-6 minggu kemudian saya sudah mengirimnya ke media lain. Tapi tentu ini sangat kasuistis.

Kompas punya selalu memberi kabar tulisan bila tidak dimuat. Menurut curhat beberapa kawan penulis yang saya baca di facebook, katanya Kompas tak lagi melakukan kebiasaan ini. Tapi ternyata, saya masih menerima pengembalian itu sebulan yang lalu. Biasanya jarak pengembalian tulisan itu berkisar 4 bulan.

Majalah Esquire, Basis, dan Kartini juga cukup rapi. Mereka mengirim email untuk member konfirmasi tulisan yang akan dimuat. Walau mereka tak mengirim konfirmasi cerpen yang tak dimuat, tapi ini sudah cukup baik bagi saya. Karena beberapa koran-koran lain tidak melakukan keduanya. Mungkin karena bejibunnya kiriman ang mereka terima setiap harinya. Jadi soal ini saya maklum.

Yang saya pikir sangat sistematis adalah Majalah Femina. Setiap cerpen yang akan dimuat selalu menerima telefon konfirmasi. Saya pernah mendengar cerita kalau redaksi sampai menunda pemuatan sebuah cerpen saat nomor ponsel penulis tak bisa dihubungi. Yang lebih hebat lagi, Femina membuat sebuah surat perjanjian bermaterai yang harus ditandatangani penulis yang isinya cerpen yang akan dimuat tersebut belum pernah dipublikasikan sebelumnya, baik dalam media cetak maupun elektronik.

Saya pribadi secara umum mulai mengirimkan cerpen saya ke media lain setelah 2 bulan tanpa konfirmasi. Kadang bahkan 3 bulan. Tentu itu semua memang tak bisa dipukul rata. Lain media, lain pula perlakuan kita.

Tips Menghindari Pemuatan Ganda

Tentu bila semua media mengonfirmasi dulu tulisan yang akan dimuat, masalah ini jadi mudah sekali. Sayangnya memang tidak begitu. Ada peran dari penulis untuk melakukan, yaaah, minimal sedikit menghindari kasus ini.

Dalam workshop kepenulisan, saya selalu mengatakan pada peserta, tak perlu menunggu tulisan yang sedang dikirim ke media. Terus membuat saja. Karena saya amat-amati biasanya penulis-penulis yang kerap terjebak pada kasus pemuatan ganda, adalah penulis-penulis yang tak cukup produktif. Jadi sebenarnya, kita seharusnya malah kasihan dengan penulis-penulis seperti ini. Keinginan eksis yang tinggi, kadang tak diiringi dengan kemampuan berprodusi. Jadi mari kita doakan saja mereka agar lebih produktif… 😀

Intinya paragraph ini sebenarnya simple. Terus saja menulis sebanyak-banyaknya. Kelak itu bisa menjadi bank naskah kita. Sehingga kita tak perlu lagi mengurusi cerpen yang sedang dikirimi secara khusuk dan sungguh2.

Tips lain yang bisa dilakukan untuk merhindari pemuatan ganda adalah dengan mengirimkan email penarikan naskah. Saya pribadi sebenarnya tak terlalu yakin apakah email penarikan seperti ini dibaca atau tidak. Tapi terhadap media2 yang banyak diharapkan oleh kawan2 penulis, saya rasa tak ada salahnya melakukan ini. Toh, juga hanya mengirim via email.

Satu lagi, buatlah cerpen yang memang diperuntukkan buat media tersebut secara khusus. Saya melakukannya untuk Femina. Cerpen yang saya kirim ke situ, biasanya hanya cocok untuk media itu. Sehingga saya merasa tak bisa lagi mengirim ke media lain. Dengan metode seperti ini, menunggu 1 tahun jadi terasa biasa… 🙂

***

Iklan