Cari

Yudhi Herwibowo

mencoba terus menulis…

Tanggal

Oktober 7, 2014

Saya dan Pawon

Sebenarnya keinginan menulis tentang Buletin Sastra Pawon sudah sejak lama ingin saya lakukan. Tapi saya selalu merasa tak pernah mendapat moment yang pas. Di hari-hari belakangan ini, saya pikir hari kesempatan itu akhirnya datang. Hari Selasa, 10 September 2014, saya memutuskan mundur sebagai koordinator Pawon. Dalam pertemuan hari itu saya mengundang kawan-kawan di Wedangan Panjer Sore, dengan menambahi undangan itu dengan kata penting.

Sebenarnya keinginan saya mundur sudah ada sejak lama. Ketika saya mulai membentuk Diskusi Kecil untuk perekrutan anggota baru, itu langkah awalnya. Tapi saat itu, tertunda karena beberapa hal. Keinginan itu mulai menguat lagi selepas Festival Sastra Solo Februari 2014. Entah kenapa saat itu saya merasa sangat jenuh sekali membuat acara-acara sastra. Awalnya saya pikir itu hanya sesaat saja karena festival itu memang menforsir semuanya. Beberapa kawan saya rasakan juga mengalami hal seperti itu. Rasanya lebih sulit mengordinir mereka, walau itu sekadar untuk kumpul rapat.  Namun sampai 6 bulan lewat, kejenuhan itu tak hilang juga.Maka saya pikir, tak adil rasanya bila saya masih terus di situ. Lanjutkan membaca “Saya dan Pawon”

10 Buku yang Paling Berpengaruh Bagi Saya

Sebenarnya saya sudah hampir menulis ini saat beberapa kawan menchallenge saya di facebook. Tapi saat itu saya sedang tak menulis status karena sedang menyelesaikan novel saya. Beberapa hari lalu saya kepikiran lagi untuk menulisnya, namun saya merasa sangat terlambat untuk mempostingnya.
Tentu sampai saat ini buku yang sudah saya baca cukup lumayan jumlahnya. Dan rasanya banyak juga yang bagus-bagus. Sehingga bila memilih 10 saja, rasanya akan sangat sulit dan tak adil. Apalagi saya sudah menyukai buku sejak lama. Ada periode-periode yang panjang, dimulai sejak buku-buku anak-anak, remaja, hingga dewasa. Sehingga rasanya sedikit tak adil bila hanya menuliskan beberapa yang saya baca sekarang saja.
Tapi setelah saya pertimbangkan, saya akhirnya menulis dengan kriteria yang saya buat sendiri. Buku-buku itu, tentu bukan komik, haruslah begitu bagus, sehingga saya sampai membacanya berulang kali. Satu lagi buku itu punya peran dalam karir kepenulisan saya.

IMG_3076[1]
2 buku yang tak berhasil difoto. Potret-potret – bubin LangtanG bukunya hilang sedang dan Pak Tua yang Membaca Novel Cinta saya berikan pada seorang kawan.
1.    Tetralogi Anak-anak Mama Alin dan Bila – bubin LangtanG
Pilihan nomor 1 saja terdiri dari 5 buku. Entah kenapa saat remaja, saya begitu suka dengan penulis ini.  Saya agak sedikit terlambat karena waktu pertama kali saya membacanya, bukan dari Majalah Hai yang memuat kisah-kisahnya secara continue, tapi benar-benar dari bukunya. Saat itu, saya juga menyukai Lupus dan Balada Si Roy, tapi saya pikir Bubin Lantang adalah penulis yang membuat saya ingin menjadi penulis juga. Dulu, saya bahkan beberapa kali seperti ikut-ikutan dengan cara bubin LangtanG menulis. Misalnya selepas membaca Bila, saya kepikiran menulis novel dengan judul dari 1 kata yang bukan kata benda. Maka itulah saya menulis novel dengan judul Lalu. Kelak novel ini diterbitkan dengan judul Menuju Rumah CintaMu (Bentang) Lanjutkan membaca “10 Buku yang Paling Berpengaruh Bagi Saya”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑