Sebenarnya saya sudah hampir menulis ini saat beberapa kawan menchallenge saya di facebook. Tapi saat itu saya sedang tak menulis status karena sedang menyelesaikan novel saya. Beberapa hari lalu saya kepikiran lagi untuk menulisnya, namun saya merasa sangat terlambat untuk mempostingnya.
Tentu sampai saat ini buku yang sudah saya baca cukup lumayan jumlahnya. Dan rasanya banyak juga yang bagus-bagus. Sehingga bila memilih 10 saja, rasanya akan sangat sulit dan tak adil. Apalagi saya sudah menyukai buku sejak lama. Ada periode-periode yang panjang, dimulai sejak buku-buku anak-anak, remaja, hingga dewasa. Sehingga rasanya sedikit tak adil bila hanya menuliskan beberapa yang saya baca sekarang saja.
Tapi setelah saya pertimbangkan, saya akhirnya menulis dengan kriteria yang saya buat sendiri. Buku-buku itu, tentu bukan komik, haruslah begitu bagus, sehingga saya sampai membacanya berulang kali. Satu lagi buku itu punya peran dalam karir kepenulisan saya.

IMG_3076[1]
2 buku yang tak berhasil difoto. Potret-potret – bubin LangtanG bukunya hilang sedang dan Pak Tua yang Membaca Novel Cinta saya berikan pada seorang kawan.
1.    Tetralogi Anak-anak Mama Alin dan Bila – bubin LangtanG
Pilihan nomor 1 saja terdiri dari 5 buku. Entah kenapa saat remaja, saya begitu suka dengan penulis ini.  Saya agak sedikit terlambat karena waktu pertama kali saya membacanya, bukan dari Majalah Hai yang memuat kisah-kisahnya secara continue, tapi benar-benar dari bukunya. Saat itu, saya juga menyukai Lupus dan Balada Si Roy, tapi saya pikir Bubin Lantang adalah penulis yang membuat saya ingin menjadi penulis juga. Dulu, saya bahkan beberapa kali seperti ikut-ikutan dengan cara bubin LangtanG menulis. Misalnya selepas membaca Bila, saya kepikiran menulis novel dengan judul dari 1 kata yang bukan kata benda. Maka itulah saya menulis novel dengan judul Lalu. Kelak novel ini diterbitkan dengan judul Menuju Rumah CintaMu (Bentang)
2.    Kisah Para Pendekar Pulau Es – Asmaraman S Kho Ping Hoo
Saya pikir banyak cersil Kho Ping Hoo yang saya sukai. Namun dari semuanya Kisah Para Pendekar Pulau Es adalah yang paling berkesan. Karena dari sinilah, kisah-kisah menarik lainnya berlanjut. Tentu saya juga suka; Pedang Asmara, Pendekar Mata Keranjang, Pendekar SUper Sakti, Seruling Emas, dll.
Oya neberapa bulan lalu, sekedar untuk nostalgia, saya datang ke Penerbit Gema, dan membeli 1 set lengkap kisah Kisah Para Pendekar Pulau Es ini. Tentu bersama dengan kisah-kisah lainnya.
3.    Menggenggam Petir – Yanusa Nugroho
Entah kenapa buku ini begitu saya suka. Saya menemukannya tak sengaja di Singosaren lama, sebelum toko itu dibakar massa di kerusuhan tahun 1998. Saking suka dengan kisah-kisah yang ada di buku itu, saya sampai mencari 2 buku sebelumnya yang ditulis oleh Yanusa Nugroho. Kisah di Daun Tal ditemukan oleh seorang kawan di Kopma UGM, dan Bulan Bugil Bulat saya temukan di Shopping. Lucunya, saat mencari buku itu, saya hampir memasuki semua kios di seluruh shopping dan menanyakannya. Di satu kios penjualnya menggeleng, namun saat saya beranjak, baru saya sadari kalau buku itu terpampang di depan wajah saya.
4.    Sebuah Pertanyaan untuk Cinta – Sneo Gumira Ajidarma
Sebenarnya ini buku yang sederhana tapi dari buku inilah saya mulai berkeinginan menulis di koran. Waktu itu saya baru menulis di Majalah Hai saja, dan belum terpikir untuk menulis di koran. Buku Seno ini (dan Yanusa Nugroho tentunya) yang membuat saya mulai beranjak dari zona remaja.
5.    Saksi Mata – Seno Gumira Ajidarma
Sepertinya ini adalah kumcer favorit saya sepanjang masa. Saya pikir dari sekian banyak kumcer yang saya baca, ini adalah yang paling kuat. Tentu saya juga hampir menyukai semua karya Seno, tapi saya pikir ini adalah kumcer paling mistis yang pernah saya baca, Tentu ini mungkin sangat subyektif.
6.    9 Dari Nadira – Leila Chudori
Dibandingkan kumcer Malam Pertama dan novel Pulang, saya pikir 9 dari Nadira, yang ada di tengah-tengah antara cerpen dan novel, adalah yang paling kuat. Membacanya saya merasa kalau buku ini disiapkan dalam masa yang panjang dan sangat matang. Setiap jalinan cerita matang. Buku ini tak sekedar kuat dalam jalinan antar kisah, tapi memiliki benang merah yang juga kuat. Saya pikir ada beberapa buku-buku cerpen yang lebih bagus, namun kebanyakan merupakan medium untuk karya2 lama. membaca 9 dari Nadira membuat saya selalu berpikir membuat sebuah kumpulan cerpen yang sekadar mengumpulkan naskah2 lama. Kumpulan cerpen yang memang dirancang untuk kumpulan cerpen.
7.    Pearl in China – Anchee Min
Novel yang diangkat berdasarkan biografi Pearl S. Buck, saya pikir layak untuk saya masukkan sebagai 10 buku terbaik yang pernah saya baca. Mungkin karena saya membaca beberapa karangan Pearl, saya jadi seakan sudah mengenal tokoh yang ditulis Anche Min ini. Yang pasti buku ini berkali-kali membuat saya tersentuh, hingga saya menangis… 🙂
8.    Pak Tua yang Membaca Novel Cinta – Luis Sepulveda
Bukunya sih kecil dan tipis, tapi tak menyangka buku ini begitu kuat. Saya mendapatkannya dari seorang kawan facebook. Katanya buku itu diobral hanya 5.000an. Tapi membaca novel ini seperti membaca sebuah cerpen panjang. Novel yang setiap katanya diperas dengan teliti dan seksama. Terlewati 1 paragraf saja, kita akan kehilangan banyak.
9.    Big Breast and Wide Hips – Mo Yan
Saya mungkin tak banyak membaca beberapa penulis pemenang nobel sastra, tapi saya pikir novel inilah yang paling menyenangkan. Sebuah buku yang kuat dalam segala unsur. Data, imajinasi dan penyajian dikemas dalam kelindan yang sempurna.
10.    Kafka on The Shore – Haruki Murakami
Agak bingung menulis yang kesepuluh. Saya sempat mau menulis salah satu buku Sidney Seldon atau pun John Grisham. Karena dulu, hampir semua karya 2 penulis ini saya baca. Saya juga berpikir tentang buku buku Harry Potter atau novel Khaled Hosaini. Tapi saya memutuskan menulis Kafka on The Shore. Saya pikir ini buku yang idenya cukup unik. Penulis yang membuat dunianya sendiri, tanpa perlu merasa cape-cape menjelaskannya pada pembaca.

***

Iklan