Beberapa hari lalu saya dapat email dari seorang kawan. Dia penulis yang sudah sejak lama saya kenal. Beberapa buku-bukunya: Lentera Aisha, The 100th Dragonfly, Mauve, dan Sonnenblume. Yang membuat saya tersentuh, ia bukan mengemail saya berkenaan dengan soal-soal buku2 saya, atau pun buku2nya. Ia menulis tentang eLtorros

Berikut saya copas emailnya. Tentu dengan seijinnya…

***

Belakangan ini saya sering melintas di kawasan belakang kampus UNS (Universitas Sebelas Maret), almamater tercinta. Setiap melewati kawasan itulah, berlintasan pula sederet kenangan dalam lambung angan. Romantika kesibukan masa lalu di deretan pagar belakang kampus, yang kini tampak lapang namun terasa angkuh. Suasana yang berbeda jauh dibandingkan saat saya masih kuliah dulu, kisaran tahun 2000-2004.
Sebelum dilakukan penataan dan penertiban, wilayah belakang kampus adalah tempat yang paling asyik dan wajib untuk didatangi saat ada jam kosong kuliah, saat mendadak harus nge-print tugas, saat lapar, atau sekadar iseng membeli minuman untuk melepas dahaga. Terutama untuk mahasiswa di fakultas yang lokasinya di bagian belakang kampus.
Bisa dibilang, segala macam keperluan mahasiswa ada di situ. Kios koran dan majalah, warung makan murah meriah, tempat fotokopi, rental komputer, toko baju, toko jilbab, warung rujak, sampai tukang tambal ban, semua ada di kios-kios sepanjang pagar belakang kampus. Kios-kios tersebut tidak pernah sepi dari pelanggannya, siapa lagi kalau bukan mahasiswa.
Ada satu tempat di kawasan tersebut yang paling nge-hits, namanya persewaan buku El Torros, yang dulu beken di antara mahasiswa dengan nama LT (baca: elti). Hampir semua mahasiswa angkatan saya pernah mampir di LT. Pada masa itu, LT itu adalah persewaan buku yang paling keren. Tempatnya rapi, bersih, buku-bukunya disampul dengan baik, dan asyiknya lagi, buku-buku yang ada di situ selalu ‘new arrival’.


Bisa dibilang kalau ada buku baru yang rilis, satu atau dua minggu kemudian buku itu dipastikan sudah ada di rak LT. Buku yang ada di LT sebagian besar novel, baik dari pengarang dalam negeri maupun terjemahan dari pengarang luar negeri. Juga ada buku-buku motivasi, self help, maupun bisnis, semacam Chicken Soup For The Soul, atau bukunya Kiyosaki. Novelnya sangat terkini (pada masa itu), karya Dewi Lestari, Ayu Utami, JK Rowling, dan sederet pengarang lain. Selain novel dan buku motivasi, LT juga menyediakan komik berbagai seri, mulai dari doraemon, crayon shincan, detektif conan, sampai Samurai X ada semua. Yang tidak kalah istimewa, LT berlangganan berbagai macam terbitan majalah. Jadi kalau ingin membaca majalah terbaru, tinggal sering-sering saja ke LT. Mulai dari Femina, Cosmopolitan, Gadis, Hai, Kawanku, dll majalah yang ngetren pada saat itu. (Nah, bonus dari majalah-majalah itu biasanya dipakai rebutan oleh pegawai LT, 🙂
Salah satu pegawai LT yang akrab dengan saya bernama Mbak Yanti. Orangnya sederhana dan baik hati. Dia juga ramah kepada para member LT. Mbak Yanti itulah yang memberi tahu saya, bahwa pemilik LT itu juga seorang penulis, namanya Mas Yudhi. Saya diberi tahu bahwa buku karya Mas Yudhi juga ada di situ. Kalau tidak salah yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Seketika itu juga saya langsung kagum dengan kehebatan si pemilik LT, hehehe.
Namun, obrolan tentang sang pemilik LT sedikit terlupakan setelah itu. Saya, dan juga kawan-kawan saya, seperti kecanduan berkunjung dan menyewa buku di LT. Persewaan buku LT menjadi tempat tujuan yang paling asyik di sela kuliah waktu itu. Karena dengan uang saku terbatas, tidak mungkin saya bisa terus menerus membeli buku baru. Di LT, saya bisa tahu perkembangan sastra terkini dengan biaya yang lebih hemat. Bahkan kadang, saya dan teman-teman rela menunggu buku-buku yang baru datang dan sedang disampul, demi bisa segera membaca novel terbaru.
Dari LT itulah saya jadi kenal dengan karya-karya Fira Basuki dalam trilogi Pintu, Jendela dan Atap, dan langsung senang dengan cara bertutur Fira Basuki yang mengalir dan ringan. Juga tulisan Dewi Lestari dan Ayu Utami yang saat itu best seller (Supernova dan Saman). Harry Potter pun saya kenal pertama kali juga dari LT. Juga novel-novel besutan penulis FLP yang keren-keren waktu itu, misal Apa Kabar Cinta karya Izzatul Jannah, Ketika Mas Gagah Pergi karya HTR, juga buku-buku tulisan Afifah Afra.
Bisa dibilang, pergaulan saya dengan novel, sangat dipengaruhi oleh LT. Pengetahuan saya soal novel-novel terbaru saya dapat sebagian besar dari LT. Sebab di perkuliahan, yang diulas melulu novel-novel angkatan lama.
Pada akhirnya saya bisa bertemu (atau lebih tepatnya, melihat) sang pemilik LT, biasanya ketika dia sedang mengantarkan buku baru, atau mungkin mengontrol secara berkala persewaannya. Dan baru berbicara langsung dengannya ketika LT menjual kartu-kartu lebaran yang bergambar tokoh kartun. Kartu-kartu lebaran lucu bergambar detektif Conan, Rurouni Kenshin, atau beberapa tokoh yang lain diproduksi oleh LT, dan yang berminat boleh menjadi reseller. Ketika itulah saya berinteraksi pertama kali dengan yang namanya Mas Yudhi Herwibowo. Berkulit putih, berwajah oriental dan berambut panjang yang sering diikat satu (ehm).
Setelah saya lulus kuliah, barulah saya mengikuti beberapa workshop kepenulisan yang kembali mempertemukan saya sebagai peserta dan Mas Yudhi sebagai panitia, sekaligus salah satu narasumbernya. Dan sesudah workshop itu, kemudian saya menerbitkan novel pertama saya The 100th Dragonfly.
Sesungguhnya, jauh sebelum Mas Yudhi sebagai penyelenggara dan narasumber workshop kepenulisan, Mas Yudhi sudah memunculkan gairah dan passion saya soal novel, memberikan pengalaman untuk bergaul dengan novel mutakhir, dan mengajari saya soal berbagai macam gaya kepenulisan, melalui tangan dinginnya menghidupkan persewaan buku El Torros.
Kegiatan menulis novel saya, salah satunya muncul akibat pergaulan saya dengan novel-novel di rak buku El Torros. Bila El Torros tidak ada, mungkin saya tidak intens bergaul dengan novel, dan selanjutnya mungkin saja tidak menulis novel.
Maka saya merasa sedih dan kecewa, ketika tidak lagi mendapati LT seperti pada mulanya. Mungkin ada banyak mahasiswa yang kehilangan kesempatan seperti yang telah saya dapatkan. Ah, tapi memang tak ada yang bisa abadi di dunia ini. Mungkin mahasiswa masa kini lebih sibuk dengan gadget yang dimiliki.
Saya hanya ingin mengatakan, terima kasih LT, terima kasih Mas Yudhi yang sudah memantik kecintaan saya kepada novel dan berlanjut untuk kemudian menulis novel.
Semoga suatu hari, tempat semacam LT muncul kembali.

Arry Yulistiana

Iklan