Belakangan ini saya banyak membaca buku-buku tentang Sriwijaya. Ini berkaitan dengan rencana saya menulis novel yang sementara ini saya beri judul, Senja Merah Sriwijaya. Tentu ini bukan pertama kalinya saya berkutat dengan buku-buku bertema Sriwijaya, 5 tahun yang lalu, saat menulis Pandaya Sriwijaya, saya juga melakukan hal yang sama.

index ok  index ok 3  index ok 2

Sebenarnya kali ini, saya sekadar ingin menulis sebuah kisah silat berlatar belakang Sriwijaya. Sehingga, saya tak berkeinginan terlalu mendalami bacaan-bacaan tentang Sriwijaya seperti saat menulis Pandaya Sriwijaya. Tapi ternyata untuk mendapatkan aura tentang Sriwijaya, ternyata tetap saja saya harus membaca beberapa buku bertema Sriwijaya. Kapasitas otak yang terbatas, membuat apa yang saya baca 5 tahun lalu, seperti hanya samar-samar saya ingat.’

Maka saya kembali mencari buku-buku itu. Tentu buku Sriwijaya tulisan Prof. Dr. Slamet Mulyana terbitan LKIS adalah yang kembali saya baca. Saya pikir ini salah satu buku yang paling sering saya baca. Sama seperti saat sekolah dulu, saya sampai membuat catatan-catatan dari buku itu. Dulu saat membuat Pandaya Sriwijaya, buku ini yang banyak memberi gambaran saya tentang Sriwijaya. Dari buku inilah saya mendapat gambaran yang lebih menyeluruh tentang keadaan Sriwijaya, terutama dalam rentang waktu di mana novel itu berlatar. Di sini beberapa kondisi tentang bagaimana keadaan Sriwijaya saat itu. Saya memakai kata kedatuan bukan kerajaan, saya juga memakai Dapunta Hyang untuk menyebutkan gelar raja bagi penguasa Sriwijaya, saya juga memakai kata sambau untuk menerangkan kapal-kapal Sriwijaya. Saya juga mengambil beberapa kisah dari beberapa prasasti peninggalan Sriwijaya. Prasasti Kedukan Bukit saya ambil untuk menjadikan latar awal keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Bahkan Prasasti Karang Brahi, yang disebut juga sebagai Prasasti Persumpahan, yang menceritakan sekilas tentang perseteruan Kandra kayet dan Tandruh Luah, juga saya angkat sebagai latar.

Sayangnya, setalah 5 tahun, banyak hal yang sudah saya lupakan dari buku itu. Maka saya mencoba membacanya lagi dan lagi. Berbeda dengan dulu, kali ini konsep novel yang saya buat memiliki perbedaan waktu. Bila dulu saya mengambil setting saat Balaputeradewa menjadi raja Sriwijaya, kali ini saya mengambil latar saat Sri Maharaja Cudamani Warmadewa menjadi penguasa. Di masa kepemimpinannyalah Sriwijaya mulai mengalami kemunduran. Perang dengan Kerajaan Medang Kawulan menjadi salah satu penyebabnya melemahnya kekuasaan Sriwijaya. Bahkan inilah yang kemudian menjadi awalan bagi Kerajaan Chola menaklukkan Sriwijaya.

Mungkin karena buku ini merupakan buku satu-satunya tentang Sriwijaya yang terus dicetak ulang sampai saat ini, sehingga saya banyak memakai hasil kesimpulan dari Bapak Slamet Mulyana. Membaca buku ini saya seperti dibawa ke perdebatan para ahli sejarah tentang Sriwijaya. Siapa pun bisa memposisikan diri setuju pada siapa atau tidak setuju pada siapa. Salah seorang kawan dari Jambi, bahkan tegas-tegas menyetujui salah satu tafsir di situ yang mengatakan pusat kerajaan Sriwijaya ada di Jambi. Ia mengesampingkan tafsir lainnya. Saya pikir itu sah-sah saja.

Ada beberapa buku lainnya tentang Sriwijaya yang juga saya baca. Salah satunya Kemaharajaan Maritim Sriwijaya di Perniagaan Dunia abab III – Abad VII tulisan O.W. Wolters (Penerbit Komunitas Bambu). Walau latar tahunnya lebih tua dari latar novel saya, setidaknya dari buku ini saya mendapat ketegasan tentang keadaan Sriwijaya yang menguasai perairan pada masa itu. Kedatuan Sriwijaya dapat menjadi begitu besar karena mereka berhasil menguasainya. Dari sini saya tahu bahwa pada masa itu pajak kapal sudah diterapkan. Bahkan komoditi barang yang dijual pun sudah diberi klasifikasi. Kemajuan Kedatuan Sriwijaya menangani lautan inilah yang menjadi kunci kebesarannya. Inilah sebenarnya kemudian menjadi latar belakang Kerajaan Medang Kawulan menyerangnya.

Selain itu, di buku inilah di bahas tentang komoditi perdagangan saat itu dan juga hubungan perniagaan dengan Persia. Ini yang membuat buku ini sedikit berbeda. Sudut pandang yang dipakai tidak melulu dari China dan India, seperti yang ada dalam buku Slamet Mulyana. Wolters banyak mengambil referensi di luar itu.

Ada satu buku lagi yang banyak saya baca. Judulnya Kedatuan Sriwijaya terbitan Komunitas Bambu. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa peneliti Sriwijaya yang namanya sudah kerap disebut di buku-buku tentang Sriwijaya sebelumnya. Salah satu yang paling saya kenal adalah George Codes. Penulis lainnya ada Charles Damais, Hermann Kulke dan Pierre Manguin. Walau buku ini tak cukup membantu saya dalam penulisan novel saya, namun isi buku ini cukup mengagumkan dan saya tak yakin bisa terbit dalam bahasa Indonesia.

Untunglah buku ini bisa diterbitkan oleh Penerbit Komunitas Bambu dengan bekerja sama dengan Pusat Arkeologi Nasional dan Ecole Francaise d’Extreme-Orient. Sehingga harganya pun menjadi cukup ekonomis.

Membaca buku ini, saya seperti dilempar kembali ke belakang. Buku ini didominasi oleh tulisan George Coedes. Dari 9 tulisan, Goerge Coedes menyumbang 4 tulisan sendiri. Ada satu tulisan yang membahas secara detail tentang isi prasasti yang dbedah dari kata per kata. Salah satunya adalah Prasasti Ligor. Dari sinilah saya mendapat gambaran, bahwa penelitian terhadap barang-barang arkeolog memang tak pernah sepenuhnya bersifat final. Tapi terus berkembang. Maka itulah kita sering melihat peneliti-peneliti butuh waktu hingga bertahun-tahun melakukan penelitian mereka. Saya pikir buku ini cukup original. Foto-foto dan ulasan bersifat baru, tidak lagi berkutat dengan perdebatan tentang Sriwijaya yang selama ini terjadi.

Ini adalah, sisi lain dari kenikmatan menulis novel berbau sejarah. Saya jadi, mau tak mau, kembali berkutat dengan itu semua. Posisi penulis memang sebagai pelanjut dari penelitian para peneliti itu. Walau hanya sedikit yang akhirnya saya tulis, tapi saya merasa untuk menulis yang sedikit itu merupakan pertimbangan dari banyak hal yang sudah saya baca.

Semoga novel itu dapat segera saya selesaikan.

Iklan