1Menyenangkan juga mendapatkan 2 buku baru Seno Gumira Ajidarma di bulan yang sama. Walau bukan kumcer, tapi selalu menyenangkan membaca tulisan Seno.

Yang sedikit mengejutkan kedua buku ini ternyata diterbitkan oleh Grup Mizan. Yang pertama Mizan yang kedua CAB. Tiada Ojek di Paris merupakan kumpulan tulisan-tulisannya dari majalah Djakarta!, tabloid Djakarta!, majalah Matra, dan satu tulisan dari Spaces Dimention Jakarta Stories, Latitutes. Ketiga majalah yang saya sebutkan pertama sudah almarhum, sedang yang keempat saya tak tahu.

Dapat dikatakan ini sebuah keberuntungan kecil. Kala ada majalah/tabloid menjadi almarhum, tulisan-tulisan di dalamnya juga seakan ikut lenyap. Terutama satu yang disorot adalah rubrik kolom. Generasi yang baru mungkin tak lagi tahu seperti apa majalah itu, apalagi tulisan kolomnya yang sebenarnya bisa menjadi gambaran trend saat itu. Untunglah konsistensi Seno menulis di jagat sastra membuat namanya terus diperbincangkan. Sehingga apa pun yang berkaitan dengannya, akan kembali diulas dan diterbitkan. Seperti kedua buku ini.

3 2

Tiada Ojek di Paris memperlihatkan gambaran yang jelas pada masa itu. Apalagi sejak awal buku ini sudah disebut sebagai obrolan urban. Sehingga –tak seperti saat membaca kumcer-kumcernya- kita tak lagi berpikir kemana-mana. Hal-hal yang dekat dengan masalah urban, diulas oleh Seno. Kopi, macet, mobil, gosip, dasi, mudik, pengamen, semua seperti tak ada yang ketinggalan.

Seno seperti menangkap semua hal yang mengganggu kepalanya, melemparkan kepada pembaca permasalahannya, lalu mengulasnya dengan gaya nakal, yang kadang terasa sekali kesarkastikannya.

Misalnya tentang bagaimana Seno menulis tentang kengganannya memiliki kartu nama. Karena masih menganggap bahkan kartu nama di negeri ini masih berarti; beri saya order. Atau saat Seno memecahkan alasan-alasan pemakaian nama-nama klub sepakbola kita semisal; Real Mataram, Gresik United, dll, namun pada akhirnya kembali dimentahkannya sendiri. Atau saat Seno mempertanyakan perihal uang dengar. Tema konyol ini bahkan ditulisnya dengan menghubung-hubungankan dengan teori Barthes, Fiske dan Hartley. Haiyah… 😀

Membaca Tiada Ojek di Paris membuat kita mahfum bahwa permasalahan urban saat itu ternyata belumlah begitu berubah di saat sekarang. Padahal bila dilihat dari terbitan awal tulisan di buku ini adlaah tahun 2004, itu artinya sudah 11 tahun lewat.

Saya sendiri membaca Tiada Ojek di Paris, mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Seno sebelumnya. Bukan karena gaya menulis Seno yang tak bisa dikompromikan lagi. Tapi karena tema-tema yang ada dalam bukunya Matinya Seorang Penari Telanjang, beberapanya sangat kuat berhubungan dengan buku ini. Beruntunglah sekali memang penulis yang mahir menulis prosa dan esai, satu ide bisa digunakan untuk dua hal sekaligus.

Bagian terakhir yang menarik di buku ini adalah adanya gambar seni rakyat di setiap awal tulisan. Gambar itu diambil dari bungkus/kemasan, entah itu rokok, kertas rokok, rambak, tali plastik, kopi, dll. Ini merupakan koleksi Seno sendiri bersama Antyo Rentjoko.

Sebenarnya pola seperti ini sudah digunakan seno di bukunya Surat dari Palmerah (KPG). Bagi saya ini jadi semacam bonus tebak-tebakan. Kadang saya gambar itu begitu mudah ditebak, tapi kadang sulit sekali. Misalnya yang gampang, saat Seno menulis The Motorcycle People, ia mengawali dengan gambar bungkus rokok kretek filter bergambar dan bertulis Rossi. Lalu yang agak-agak sulit, saat Seno menulis Intelektual Starbucks (ia menyorot keberadaan Starbuck di UI), ia mengawalinya dengan cover blocknote Cap Kera Kwaliteit baik. Saya senyum-senyum saja menghubung-hubungkannya… 😀

***

5 4

Satu lagi buku yang menarik adalah Jejak Mata Pyongyang. Ini buku yang diposisikan sebagai Graphic Traveloque. Saat pertama kali, membaca judulnya, saya langsung bertanya-tanya; apakah benar Seno ke Korut? Ini pertanyaan dengan sedikit nada tak percaya. Saya tahu bagaimana tertutupnya negara Korut. Mereka tak mudah menerima kedatangan orang. Benar-benar suatu yang nyaris mustahil datang ke sana.

Beruntungnya Seno ternyata menjadi juri pengganti di Festival Film International Pyongyang ke-8. Ini yang membuatnya bisa merekam beberapa kejadian di situ. Beruntungnya lagi, walau ada 3 orang Indonesia di sana, hanya Seno yang membuat oleh-oleh bagi kita. Itu mungkin karena ia selain penulis juga merupakan fotografer.

Di buku ini kita akan menemukan banyak foto tentang kota Pyongyang. Memang beberapa foto terlihat memakai teknik yang berulang, dan beberapa yang lain nampak sedikit blur. Seperti yang ada di halaman 58 dan 59. Ini mungkin karena saat itu tahun 2002, Seno masih memakai kamera biasa, bukan kamera digital. Sehingga ia tak mempersiapkan momen foto ini dengan khusus.

Dari awal, Seno membuat pengakuan sulitnya memotret Pyongyang. Ia berkali-kali bertanya, apakah ia bebas memotret di sini? Dan semua orang menjawab bebas. Tapi saat ia memotret banyak, ia mulai mendapat peringatan. Misalnya saat ia dilarang memotret orang karena mereka tidak cantik, atau saat ia memotret sebagian tubuh pemimpin Korut itu.

Intimidasi tetap dialami Seno. Misalnya dalam bab 3, ia menulis tentang seorang petugas yang menguntitnya dan bertanya berkali-kali; apakah anda hanya menjadi juri?

Yang menarik, Seno tak sekadar memotret kota, ia juga menyantumkan hal-hal yang berkaitan dengan festival film itu. Katalog, poster bahkan visanya. Ia juga melampirkan foto-foto indah dari pelukis-pelukis Korut. Ia juga melampirkan lagi cerpennya tentang Korut. Sayangnya cerpen ini diambil dari buku sebelumnya… 😦

Saya pikir buku ini sangat menarik. Maka itulah saya mereviewnya. Hanya satu yang saya sayangkan dari buku ini adalah font yang digunakan terlalu kecil. Mungkin hanya 8 point. Jad cukup tersiksa membacanya, seperti membaca catatan kaki.

Di akhir tulisan ini, sedikit saya menghimbau, segeralah membeli dua buku ini. Seno bukan tipe penulis yang mengungkit-ukngkit karya lamanya, sehingga ketika buku-bukunya habis di pasaran, kita akan kesulitan mendapatkannya lagi. Coba lihat bagaimana buku Negeri Kabut (Grasindo) dan Negeri Senja (KPG), seperti hilang begitu saja, dan para penjual buku online yang masih memiliki koleksi itu, menawarkan dengan harga kalkulator rusak? Aaah… 😀

***

Iklan