1 okJarot kecil hanya bisa melihat kakeknya mengejang di ujung ajal. Namun sebelum ia benar-benar menghembuskan napas terakhirnya, suaranya terdengar pelan dan terbata, “Kau tak perlu cemas. Nanti akan datang orang yang kita tunggu itu, laki-laki yang di setiap bekas jejak kakinya mengalir air yang begitu bening untuk kita semua di sini.”

Selepas mengatakan itu, kakeknya meninggal. Namun ucapannya seperti tak pernah hilang di kepala Jarot kecil. Mungkin kisah itu telah begitu merasuk dan menjadi kisah paling mengagumkan yang pernah didengarnya. Jarot kecil bahkan sampai bisa membayangkan di antara senja yang meredup, laki-laki itu pergi menuju arah matahari, seakan-akan ia benar-benar berumah di sana. Setiap jejak yang ditinggalkannya perlahan-lahan akan membuat air merembes keluar. Lama-lama jejak-jejak itu menjadi genangan-genangan kecil. Dan saat laki-laki itu nyaris tak lagi terlihat, genangan-genangan kecil itu mulai menyatu satu demi satu dan membentuk sungai kecil yang msesekali meliuk-liuk bagai ular.

Maka itulah setiap kawan-kawannya mengeluh akan kekeringan di desanya ini, ia akan selalu berujar, “Sabarlah, sebentar lagi akan datang orang dengan jejak kaki yang mengalirkan air untuk kita.”

Tapi kawan-kawannya malah mencibir saja. Jarot kecil bisa memahami ketidakpercayaan kawan-kawannya. Sudah puluhan kali ia mengucapkan kalimat itu, tapi laki-laki yang dimaksud tak pernah benar-benar datang.

Sampai akhirnya Jarot kecil beranjak remaja, dan ia mulai memutuskan untuk tak lagi mengucapkan kalimat itu. Walau di dalam hati, ia sebenarnya masih mengharapkan laki-laki itu benar-benar datang.

Di kepalanya ia memang masih menyimpan dengan rinci kisah tentang laki-laki itu. Itu adalah kisah yang paling kerap diceritakan kakeknya, selepas ayahnya meninggal. Terutama saat mereka tengah menahan diri dari kekeringan yang semakin melanda desanya.

Namun semakin dewasa, Jarot semakin mengerti apa yang sebenarnya terjadi di desanya. Kisah yang diceritaklan kakeknya itu hanyalah semacam sebuah harapan saja. Terutama sejak perusahaan air kemasan di pinggir desa semakin besar. Ia ingat, dulu mereka hanya membeli beberapa hektar tanah saja dari beberapa penduduk desa. Tanah itu merupakan tanah di mana mata air mengalir tanpa henti. Namun kini, siapa nyana perusahaan itu berkembang dengan pesat. Luas pabriknya bahkan hampir sama dengan luas desanya. Begitu terlihat mencolok, karena seluruh bangunan tertutup tembok setinggi atap rumah. Belum lagi ratusan karyawannya, yang berasal dari desa-desa di sekitar sini, selalu nampak berkerumun bagai semut hitam.

Jarot mengenang, dulu desanya merupakan desa tersubur dari semua desa yang ada di sekitar sini. Ada sungai yang terus mengalir tepat membelah desa. Airnya jernih dengan ikan-ikan besar yang mudah ditangkap. Bersama kawan-kawannya, Jarot kerap menghabiskan waktu untuk berenang dan menyeser ikan. Kadang ia bahkan membakar ikan untuk mengganjal perutnya.

Namun sekarang, semua itu tak lagi bisa terjadi. Jarot tak lagi ingat secara pasti sejak kapan sungai itu mulai mengering. Dulu ia pernah menanyakan itu pada kakeknya. Dan jawaban kakeknya sama seperti orang-orang tua lainnya, “Sungai hilang itu adalah kehendak alam. Kehendak Gusti Allah. Tapi kita jangan pernah takut untuk kekurangan air, karena mereka akan selalu memberikan air buat kita.”

Jarot tahu yang dimaksud mereka adalah perusahaan air kemasan itu. Ia ingat sekali dulu, semasa ayahnya masih hidup dan menjadi kepala desa, pimpinan perusahaan itu datang pada ayahnya meminta ijin. Sebenarnya tak hanya perusahaan itu yang meminta, namun ada ratusan perusahaan lainnya. Tapi sebagian dari mereka hanya mengambil air saja secara teratur. Hanya perusahaan air kemasan inilah yang berniat membuat perusahaannya di sini.

Maka itulah mereka tak sekedar meminta ijin, mereka juga berjanji akan menerima para pemuda di desa ini bekerja di perusahaan. Selain itu mereka juga akan membantu memakmurkan desa dengan puluhan program-program yang sudah dirancang sebelumnnya. Karena janji-janji itulah, ayah dan juga warga desa lainnya kemudian iklas memberikan ijin.

Awalnya semua terasa indah. Para karyawan perusahaan air kemasan itu, dibantu dengan warga desa dengan sukarela, segera membangun tempat-tempat penampungan air bersih dan juga MCK di beberapa sudut desa. Pipa-pipa besar untuk menunjang aliran air pun juga tak ketinggalan dibuat.

Namun keadaan harmonis itu hanya berlangsung beberapa tahun saja. Semakin lama, seiring semakin berkembangnya perusahaan, air perlahan-lahan tak lagi mengalir di pipa-pipa air itu. Penampungan-penampungan air pun kemudian mulai kosong. Satu demi satu kemudian rusak, pipa-pipanya bahkan dipotong dan dicuri.

“Tak akan ada air lagi di sini!” seorang warga tua yang terkenal pemarah, pernah berteriak pada ayahnya. “Mereka memakai pompa raksasa untuk menyedot air tanah kita. Mereka terlalu serakah. Lihat, beberapa tahun lagi, desa kita akan kekeringan!”

Tapi teriakan itu seperti tak tergubris. Semua hanya berpikir bila ini hanya kekeringan yang akan segera tergantikan oleh musim penghujan. Tapi siapa yang menyangka, bila ternyata di tahun-tahun kemudian pun musim penghujan tak cukup bisa menyingkirkan kekeringan ini? Perlahan-lahan, sungai mulai surut. Hilang seiring ikan-ikannya yang pergi entah kemana. Air-air sumur pun tak lagi bisa ditimba. Air seakan lenyap dari desa ini.

Jarot tahu sekali, di tengah kondisi seperti ini, ayahnya sempat mendatangi perusahaan air kemasan itu untuk menanyakan janji-janji perusahaan yang tak lagi ditepati. Namun upaya itu tak membuahkan hasil.

Hingga ayahnya kemudian meninggal karena memikirkan itu. Sejak itulah kakeknya mulai menceritakan kisah tentang laki-laki yang jejak kakinya mampu mengeluarkan air. Namun kini, kisah itu bagai sebuah dongeng yang bodoh bagi Jarot. Kadang ia masih saja merutuki diri, bagaimana bisa kisah itu begitu merasuk padanya.

Semuanya memang sudah benar-benar berubah. Jarot telah dewasa dan warga telah pula menunjuknya sebagai kepala desa. Ini sebenarnya sama sekali tak diinginkan Jarot, tapi ia tak bisa menolak keinginan warga.

Dan mungkin, karena ia memang tak memiliki sifat seorang pemimpin, di bawah kepempimpinannya keadaan desa semakin Nampak kacau. Beberapa pemuda kini mulai berani melampiaskan kemarahan kepadanya, terutama yang bersangkutan dengan perusahaan air kemasan itu. Mereka mulai menuntut padanya agar mengusir perusahaan itu dari desa.

Tentu Jarot bisa mengerti keinginan ini. Namun tentu saja ia tak bisa meluluskan keinginan itu begitu saja. Ia tahu perusahaan air kemasan itu dibekingi oleh beberapa pejabat dari kota. Maka yang bisa dilakukannya, hanyalah membiarkan saja para pemuda itu melakukan demonstrasi di depan perusahaan itu. Ia menganggap ini sesuatu yang layak. Sebagai desa yang dulunya begitu makmur karena air yang melimpah, kini mereka bahkan harus beriuran untuk membeli air dari kota, ini tentu sesuatu yang sangat ironis. Maka itu layak diperjuangkan.

Apalagi perusahaan air kemasan itu dinilainya memang sudah begitu berlebihan. Semua bisa melihat bagaimana iklan-iklan mereka di televisi. Perusahaan itu begitu menampakkan diri bagai sosok malaikat yang membawa kejernihan air kepada masyarakat yang dahaga. Sungguh, setiap melihat iklan-iklan itu, Jarot selalu ingin menangis. Saat melihat orang-orang di seluruh penjuru negeri meminum air dari perusahaan air kemasan itu, ia merasa setiap kesegaran dari tegukkan air di kerongkongan mereka adalah kehausan yang teramat sangat bagi kerongkongan orang-orang didesanya.

Tapi malamnya, beberapa jam berselang dari demonstrasi itu, rumah Jarot didatangi oleh orang-orang yang tak dikenalnya. Awalnya ia tak bisa mengenali mereka sebagai orang-orang suruhan dari perusahaan air kemasan itu karena tak memakai seragam seperti biasanya. Namun saat mereka mengungkapan tujuannnya, Jarot langsung mengerti. Terlebih saat salah satu dari mereka, mengangsurkan sebuah tas kecil berisi lembaran-lembaran uang.

“Kami memohon sekali bantuan bapak,” seseorang berwajah ramah tersenyum padanya, “Bapak tentu bisa membuat para pemuda itu tak lagi berdemo. Ini adalah sedikit bantuan dari kami.“

Itu adalah kejadian beberapa tahun lalu.

Namun keadaan desa ini nampaknya tetap seperti dulu. Beberapa tahun setelah itu, Jarot memang sudah digantikan dengan orang yang dinilainya lebih layak menjadi kepala desa. Namun itu pun nampaknya tak membuat keadaan menjadi lebih baik. Bahkan semakin tahun, desa ini semakin terasa meranggas.

Meranggas seperti tubuh Jarot yang nampak lebih tua dari usianya. Kekurangan air selama bertahun-tahun seakan membuat tubuhnya lebih cepat mengeriput, dan lebih cepat pula sakit. Seperti sekarang ini, sudah hampir seminggu lebih, ia tak lagi bisa bangkit dari tempat tidurnya.

Beberapa tetangganya sempat menjenguk dan bercerita, “Walau kita masih kekeringan, tapi setidaknya sekarang tak ada lagi demo. Semua sepertinya sudah bisa disumpal dengan uang.”

Jarot terdiam. Matanya terasa berair. Hatinya meranggas seperti setiap jengkal tanah di desa ini. Ia ingat, dulu orang-orang itu pernah berniat memberinya tas berisi uang, tapi ia menolaknya dengan keras. Ini adalah sesuatu yang sudah dipikirkannya sejak dulu. Masih diingatnya bagaimana ayahnya dulu, dengan diam-diam, menerima uang seperti itu. Sejak itulah ia mulai nampak begitu tak tenang dan selalu sakit-sakitan.

Kini, nampaknya penggantinya juga tak bisa menolak tawaran itu. Inilah membuatnya ingin menangis. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Dulu saat ia menjadi kepada desa pun, ia tak bisa melakukan apa-apa?

Di saat-saat seperti inilah, Jarot tiba-tiba teringat dengan kisah yang pernah diceritakan kakeknya dulu. Kisah tentang seorang laki-laki yang setiap bekas jejaknya mampu mengalirkan air. Entahlah, di hidupnya yang mungkin tak lama lagi, ia tiba-tiba berharap sekali kejadian itu benar-benar terjadi padanya

Dan seperti sebuah mukzizat, saat Jarot baru saja hendak memejamkan matanya, ia tiba-tiba seperti mendengar orang-orang berteriak-teriak di luar kamarnya. Awalnya, suara itu terdengar pelan saja, namun lama-kelamaan semakin keras, seakan-akan begitu dekat dengannya. Jarot pun dengan susah payah, segera bangkit dan bergerak ke arah jendela. Tak dihiraukan suara istri dan anaknya yang mencoba menahan dirinya.

Ia seakan tak lagi mendengar suara apapun, selain suara hiruk pikuk di luar sana.

Lalu dari jendela, dilihatnya senja mulai datang di kejauhan. Sinarnya masih menyilaukan matanya, namun itu tetap membuatnya bisa melihat punggung laki-laki itu berjalan menjauh ke arah matahari.

Tiba-tiba air mata Jarot lepas. Ia menangis tergugu. Matanya yang lamur seakan mulai melihat genangan-genangan kecil yang terbentuk satu demi satu di belakang punggung laki-laki itu. Lalu dalam sesaat saja, genangan-genangan itu menyatu dan menjadi sungai kecil di depannya.

***

Iklan