2 Pengantar

Beberapa tahun silam, saya dan kawan-kawan pernah bertemu dengan Radhar Panca Dahana di Taman Budaya Jawa Tengah. Waktu itu kami bicara tentang banyak hal. Namun satu yang kemudian saya ingat, kurang lebih kalimat Bang Radhar, ‘Fakta berlari di depan kita, dan fiksi seperti hanya jalan perlahan’. Karena saya sepertinya satu-satunya prosais di pertemuan itu, saya banyak berpikir tentang kalimat itu.

Coba lihat berita-berita saat ini: mayat gadis bergelang festival, misteri batu berongga di  tas akseya, dll.

Dulu, saat Flaubert menulis Madame Bovari yang bercerita tentang seorang gadis bangsawan di abad pertengahan, yang menikah dengan seorang bangsawan dan menjalani hidup yang kaku, ia kemudian memutuskan berselingkuh dengan laki-laki lain. Di masa itu perselingkuhan bangsawan –apalagi perempuan- sangat tabu dibicarakan secara terbuka karena merupakan sebuah aib besar. Faubert membantah anggapan itu, ia kemudian menulisnya sebagai novel.

Contoh lainnya saat Orde Baru membatasi media, terutama dalam menyebarkan berita-berita yang sensitif, seperti peristiwa Petrus, Seno Gumira Ajidarma malah menulisnya sebagai cerpen-cerpen yang banyak dimuat di media. Kelak cerpen-cerpen itu dikumpulkannya dalam buku Penembak Misterius (SH). Ia bahkan menulis buku ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara!”

 

3Ide dalam Cerpen

Kenapa ide?

Bukan karena ide merupakan faktor penting dalam sebuah cerpen, tapi dari ide-lah visi seorang penulis dapat terlihat.

Saya selalu percaya ide ada di mana pun. Dulu dalam workshop-workshop sebelumnya, saya selalu mengatakan kalau ide ada di udara di sekitar kita. Dan kita tinggal mencomotnya kapan pun kita mau. Namun, satu pertanyaannya setelah itu: apakah ide-ide itu bisa menghasilkan cerita yang baik?

Karena kadang cerita yang baik tidak mudah ditemukan. Perlu ada pengolahan lebih dalam dari ide-ide itu.

Dalam cerpen-cerpen Workshop Menulis Cerpen Sehari (WMCS) ini, berbagai ide ditulis. Beberapa cukup menggembirakan, beberapa yang lain mengecewakan.

Kalau boleh saya review beberapa ide cerita dicoba diangkat: cerita kerinduan pada seseorang, kesetiaan kawanan, musim kemarau yang menggila, menjelang kematian, kekuatan doa, dan lain-lain. Hampir semuanya cerpen-cerpen realis. Mungkin hanya ada satu-dua cerpen yang surealis.

Tapi apakah cerpen-cerpen ini sudah cukup layak dimuat di media? Atau sekadar menjadi cerpen saja?

 

Membandingkan Ide

Secara pribadi cerpen-cerpen saya banyak terinspirasi dari buku-buku yang sebelumnya saya baca, dan film-film yang saya tonton. Setiap penulis punya caranya sendiri mencari ide. Edgar Allan Poe selalu pergi ke tempat-tempat sepi. Arswendo Atmowiloto selalu melakukan perjalanan. JK Rowling selalu merangkai cerita untuk dongeng bagi anak-anaknya.

Sekadar permulaan saya ingin menceritakan ide-ide yang saya tulis beberapa tahun yang lalu, dan beberapa bulan belakangan ini.

Cerpen-cerpen saya di bawah ini mungkin sedikit gambaran tentang cerpen-cerpen di majalah Hai saat itu.

  • Tentang sebuah daerah di Nusa Tenggara yang begitu kekeringan, tokoh beta kemudian menemukan seekor elang yang menunjukkan di mana posisi mata air berada.
  • Seorang penulis yang tenggelam karena mendatangi kapal karam dan ia kemudian diselamatkan oleh seorang manusia ikan.
  • Seorang yang dapat melihat kematian orang-orang di dekatnya.
  • Pena yang dapat mengabulkan apa yang ditulis.
  • Seorang yang memiliki kotak musik yang selalu membawanya bermimpi bertemu penghuni kotak musik itu.

Lima cerpen terakhir saya, mungkin untuk menggambarkan cerpen-cerpen koran terakhir ini:

  • Jejak Air (Pikiran Rakyat), ini tentang seornag yang tinggal di sebuah tempat yang kekeringan karena adanya perusahaan air, terus menunggu kedatangan orang yang memiliki jejak kaki yang dapat mengeluarkan air.
  • Seribu Peri (Suara Merdeka), cerpen yang bercerita tentang seorang anak kecil yang diculik oleh peri-peri.
  • Kucing Buku (Koran Tempo), tentang seorang penulis yang menemukan kucing yang bisa bicara di rak bukunya.
  • Bulan Terbelah (Majaah Basis), tentang tukang becak di Gilingan, yang setiap hari mengantar istrinya untuk melacur.
  • Pagar Batu (Media Indonesia) tentang seorang laki-laki yang mampu menaklukkan batu, di tangannya batu-batu seperti hilang massanya. Ia kemudian meutuskan membuat pagar batu untuk memisahkan makluk-makluk baik dan makluk-makluk buruk.

Hal pertama yang perlu kita sadari dalam mengirimkan cerpen ke media adalah: jangan menganggap remeh media tersebut. Puluhan orang ingin menjadi cerpenis. Koran Kompas mengatakan setiap hari menerima 30-50 email cerpen setiap hari. Jadi kirimkan cerpen dengan ide yang baik dan menarik.

Lalu bagaimana kita tahu ide kita baik dan menarik?

Jawabannya hanya satu: rajin membaca.

Ekspolari Ide 1

Setiap penulis tentu punya cara sendiri mengekplorasi ide yang didapatnya. Saya juga punya cara sendiri. Saya selalu berpikir untuk membuat cerita yang berbeda. Tentu berbeda sangat sulit diterjemahkan. Saat saya merasa yakin itu sudah berbeda, orang lain belum tentu merasa itu berbeda.

Tapi sampai saat ini, pemikiran itu belumlah saya rasa salah.

Biasanya saya akan menuliskannya dalam 3-4 baris di komputer. Saat itu judulnya sdah saya pikirkan. Biasanya saat cerpen ini jadi, judulnya selalu saya ganti.

Dari 3-4 baris itu, saya kembangkan masing-masing. Biasanya saya mendapatkan 3-4 halaman A4. Setelah itu saya kembangkan lagi biasanya mendapatkan 6-8 halaman. Dari situ kemudian saya edit sesuai kebutuhan, entah itu untuk media yang membutuhkan 9.000 karakter, atau 10.000 karakter, atau bahkan 12.000 karakter lebih. Maka itu biasanya dalam file komputer saya, satu cerpen ada 2-3 file.

Saya ingin memberi sebuah permainan menangkap ide.

Saya umpamakan buku ini adalah kotak dimana kita berada. Sebuah realita. Dan gelas ini adalah gelas di mana kita berada. Gelas aqua yang sebenarnya.

Bila gelas ini di dalam, saya akan mengatakan:

  • gelas ini pemberian perempuan cantik yang saya suka
  • gelas ini sudah diberi obat sakit perut agar saya terganggu di saat acara ini
  • gelas ini diberikan selingkuhan saya dengan bekas lipstik di salah satu sisinya.

Bila gelas ini sedikit mengenai batas realitas, saya akan mengatakan:

  • gelas ini ternyata merupakan pemberian dukun yang membuat saya yang gagu ini jadi bisa bicara di sini.
  • gelas ini ternyata merupakan bekas minuman yang meninggalkan bekas lipstik Kate Midleton, saya kemudian membawa pulang dan menjualnya di oxl.com

Bila gelas ini saya letakkan di luar kotak realitas, saya akan mengatakan:

  • gelas ini ternyata mampu keluar akar-akar yang mampu membunuh bagi yang sedang memegangnya.
  • Gelas ini mampu melayang dan mencari peminumnya.

Ekspolari Ide 2

Dari sekian cerpen yang sudah saya baca saya ingin mengambil satu cerpen untuk kita ekplorasi bersama. Judul cerpennya Selamanya Sahabat. Tema cerpennya yaitu tetang kisah persahabatan dua orang laki-laki di sekolah. Sebut saja Ray dan Ali. Diam-diam Ray ternyata menyukai Tasya yang merupakan pacar Ali. Di akhir kisah Ali menikah dengan Tasya dan hidup berbahagia.

Ini cerpen ini tentu sangat biasa. Cerita seperti ini sudah banyak ditulis. Bahkan film-film yang menggarap tema seperti ini sudah cukup banyak.

Apa yang dapat membuatnya menarik?

  • Saya akan membuat tokoh Ali mencari perempuan yang hampir sama dengan Tasya untuk Ray.
  • Atau saya akan membuat sosok Tasya ternyata sudah lama meninggal. Ali kemudian mengingatkannya.

Inti dari eksplorasi ide kali ini adalah: membelokkan ide yang biasa pada sesuatu yang tidak biasa.

Ekspolasi Ide 3

Tak ada cerita yang benar-benar baru.

Ide selalu datang, namun tak ada yang benar-benar orisinil. Kalau seorang penulis merasa idenya benar-benar asli dari kepalanya, ia mungkin hanya belum banyak membaca saja.

Saya ingin mengambil contoh cerpen saya: Kucing Buku.

Idenya sudah banyak digarap: tentang kucing yang bisa bicara. Haruki Murakami dalam novelnya Kafka on The Shore, menceritakan tentang seorang tokoh yang bisa bicara dengan kucing.

Di cerita itu saya mengangkat seorang penulis yang sedang menyelesaikan novelnya, saat kucing itu tiba-tiba muncul di rak bukunya. Ia kemudian berbincang dengan keraguan. Sampai di pertemuan ke sekian, sang kucing mengusulkan salah satu ending dari cerita sang penulis.

Ide kucing yang bicara nampak sudah berkembang. Tapi tentu tak cukup sekadar itu. Ide itu masih sangat biasa. Saya kemudian menambahkan:

Kucing itu pada akhirnya mengusulkan akan membantu sang penulis. Sang penulis setuju dengan keraguannya. Saat itulah di tempat yang lain, bekas istri yang penulis yang tengah mengurus proses perceraian mereka tiba-tiba mengalami kecelakaan mobil setelah mencoba menghindari seekor kucing yang melintas di depannya.

Di sini, sudah terlihat alur dan klimaks serta ending dari cerita. Saya tentu bisa saja mengirim cerpen ini dalam kondisi seperti itu. Tapi saya merasa ini masih terasa biasa-biasa saja. Maka kemudian saya menambahkannya:

Pada akhrinya si penulis ditangkap dan dipenjara. Selama di penjara ia punya kebiasaan berdiam diri di perpustakaan setiap waktunya habis ia akan keluar dari perpustakaan dan melihat ke arah rak di mana kucing itu berada.

Untuk membuatnya semakin menarik saya juga mencoba memasukkan curhatan-curhatan yang biasa dialami seorang penulis. Saya juga memasukkan buku-buku yang berhubungan dengan kucing.

Sekarang, bagaimana ekspolari kawan-kawan terhadap ide kucing yang dapat bicara?

Ide dalam Alur

Sebenarnya soal alur akan dibahas oleh pembicara selanjutnya. Namun alur sendiri tak bisa terlepas begitu saja dari keberadaan ide. Maka saya ingin mengekplorasinya sedikit.

Saya ingin mengambil contoh salah satu cerpen Sirius di Langit Mangkuyudan. Secara tema cerpen ini sebenarnya cukup menarik. Namun terlalu panjang sehingga terasa sedikit membosankan. Ide ceritanya pun cukup menarik, tentang seseorang yang berharap mendapat beasiswa dke Jepang.

Dalam cerpen ini terlihat alur seperti ini:

  1. Tokoh aku ingin sekali mendapatkan beasiswa ke luar negeri.
  2. Namun di sekolah ia ditagih SPP yang belum dibayar
  3. Saat ia meminta orang tuanganya, ternyata ia mendapat kabar bila ayahnya baru saja dipecat
  4. Di sekolah ada murid baru bernama Sena yang ternyata merupakan sepupu dari Gus Ahmad.
  5. Gus Ahmad berjanji mengupayakan tokoh aku mendapat beasiswa
  6. Tokoh aku mendapat kabar bila ia gagal mendapatkan beasiswa
  7. Tokoh aku berdoa
  8. Doa terkabul.

Dalam cerpen ada 2 hal yang tak boleh terlalu sering diambil: yang pertama adalah perkara kebetulan dan kedua adalah penyederhanaan tangan Tuhan.

Dalam cerpen ini apa yang dapat membuatnya menjadi menarik?

Yang pertama penguatan ide awal. Bila ingin bercerita tentang tokoh aku yang mengejar beasiswa, fokuslah di situ. Bila ingin menceritakan kekuatan doa, fokuslah di sana. Apa kemudian keduanya tak bisa digabungkan?

Tentu saja bisa. Bila kekuatan doa ternyata terasa terlalu sederhana, buatlah agar tidak sederhana. Caranya? Tentu itu tugas kalian. Intinya: kisah perihal yang terasa kebetulan buatlah tak terlalu terasa kebetulan, peristiwa yang sederhana buatlah tidak terlalu sederhana.

***

Iklan